Kamis, 25 Juni 2009

Langsung Bermanfaat Bagi Rakyat

Sebelum debat cawapres 23/06/2009, seorang teman di facebook mengatakan pemerintahan bersih hanya akan menguntungkan pemilik modal. Benar, menurut hemat saya yang langsung memperoleh keuntungan dari pemerintahan bersih adalah pemilik modal, rakyat mendapat remah-remahnya. Kalau mau langsung ada manfaatnya bagi rakyat harus berani melakukan demokrasi ekonomi yang substansial yaitu redistribusi kekayaan pribadi sebagaimana dirumuskan teori ekonomi makro biososioekonomi.

Pemerintahan bersih seperti dikemukakan salah satu cawapres (Kompas Mobile 23/06/2006 diakses pkl 20:35) memang baik tetapi tidak akan langsung bermanfaat bagi rakyat. Program BLT adalah remah-remah. Pandangan neolib atas laba harus dikoreksi. Pandangan neolib itu mengatakan bahwa laba adalah pengembalian yang sah atas modal, titik. Pandangan saya dan biososioekonomi mengenai laba telah saya posting di blog ini bulan Oktober 2008 pada artikel yang berjudul "Misteri Laba dan Kesengsaraan Rakyat"

Cawapres yang mengusung ekonomi pro rakyat atau ekonomi mandiri pun belum tentu bermanfaat langsung pada rakyat kalau mereka juga terjebak pada jebakan paradigma neolib. Jebakan paradigma neolib itu adalah memulai tindakannya dengan investasi. Jebakan itu sering tidak disadari karena terselubung oleh semangat nasionalisme yang kurang tepat. Apa yang dimaksud dengan kekayaan dalam program pengelolaan kekayaan alam oleh cawapres itu tidak benar-benar berupa aset sebagaimana dimaksud teori biososioekonomi. Kekayaan alam itu masih merupakan sesuatu yang "mentah" karena untuk bisa bermanfaat masih dibutuhkan waktu, modal, dan teknologi. Kalau mau bermanfaat langsung bagi rakyat mulailah dengan berbagi (redistribusi) kekayaan pribadi yang sudah "matang" yang berupa deposito, saham, properti, dan lain-lain.

Isu pemerintahan bersih sudah menjadi arus utama sejak reformasi 11 tahun lalu. Bahkan lima tahun lalu ada anggapan kalau korupsi tidak diberantas Indonesia akan masuk jurang. Isu pemberantasan korupsi menjadi arus utama karena pendukungnya adalah elite, antara lain rohaniwan Katolik dan pemilik media massa. Rohaniwan itu tidak benar-benar memahami kebutuhan rakyat. Pada waktu itu ada pandangan yang kurang populer seperti diusung Mubyarto:" Tanpa Revolusi Cara Berpikir Indonesia akan Masuk jurang"(Kompas 14/10/2003).

Dengan krisis ekonomi global tampak nyata bahwa akar krisis adalah paradigma neoliberal. Negara-negara yang dilanda krisis termasuk negara yang bersih bebas korupsi dibanding Indonesia. Dibanding lima atau sepuluh tahun lalu sekarang perhatian yang diberikan rohaniwan Katolik pada isu berbagi kekayaan jauh lebih baik. Dulu ada anggapan yang tidak pernah diajarkan Yesus Kristus tetapi dimunculkan atau dikotbahkan. Anggapan itu kira-kira berbunyi: berantaslah dahulu korupsi maka yang lain akan ditambahkan kepadamu. Alamak..!! Berbagi gitu loh!!!!

Dengan berbagi (redistribusi) kekayaaan pribadi seperti diusulkan teori biososioekonomi maka tidak hanya manfaat langsung yang akan dinikmati rakyat tetapi juga 80% persoalan rakyat akan teratasi. Ini berbeda dengan paradigma neolib.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar