Minggu, 07 Juni 2009

Pengalaman Saya dengan Pemenang Pilpres 2004 dan Harapan Saya terhadap Pemenang Pilpres 2009

Tiga pasangan capres dan cawapres telah ditetapkan KPU (Komisi Pemilihan Umum), serta kampanye Pilpres 2009 telah dimulai. Sebagai salah seorang anak bangsa, saya perlu menyampaikan pendapat dan pengalaman saya. Ini bukan berkaitan dengan dukung-mendukung. Perjuangan mewujudkan demokrasi ekonomi dengan biososioekonomi sebagai pedoman teoritisnya tidak tergantung pilpres dan siapa presidennya. Namun demikian ada hal-hal yang perlu saya sampaikan melalui blog saya ini.

Pada saat buku saya, Herucakra Society Jalan Ketiga Ekonomi Dunia terbit, telah terjadi peralihan kekuasaan dari pemerintah lama kepada pemenang pilpres 2004. Seminar pertama saya sampaikan tanggal 2 Nopember 2004 dalam seminar bulanan di PUSTEP UGM. Beberapa pejabat tinggi pemerintah pemenang pilpres 2004 saya kirimi buku saya. Namun tidak ada respon dari pemerintah. Tidak ada perhatian sama sekali atas inisiatif dan karya anak bangsa. Kalau pemerintah ragu-ragu dengan teori ekonomi makro rumusan saya, seharusnya pemerintah membentuk tim ahli untuk mengkajinya. Hal ini tidak dilakukan. Inilah salah satu tanda bahwa pemerintah tidak benar-benar pro rakyat.

Kini mereka berpisah dan masing-masing mengajukan diri sebagai calon presiden dalam pilpres 2009 ini. Saya tidak tahu pasti siapa yang harus bertanggung jawab dalam kaitannya dengan teori ekonomi makro baru rumusan saya. Teori ekonomi saya itu benar-benar jalan ketiga atau jalan tengah yang pro rakyat.

Seorang capres yang mengklaim pro rakyat belum tentu bisa memenuhi janjinya. Sementara seorang capres yang nyata-nyata tidak peduli dengan teori ekonomi rumusan saya mungkin masih bisa berubah, mungkin juga tidak.

Menjadi golput mungkin merupakan salah satu pilihan bagi sebagian orang. Akan tetapi, menurut hemat saya, dengan ikut memilih kita bisa lebih memiliki keberanian moral untuk menuntut pertanggungjawaban. Bila pilihan kita memenangi pilpres 2009, kita tetap harus mengontrolnya agar tetap pro rakyat dan tidak menyimpang dari konstitusi. Demikian juga bila pilihan kita tidak memenangi pilpres 2009, kita tetap harus mengontrol pemenang pilpres 2009.

Seperti saya kemukakan di atas, perjuangan mewujudkan demokrasi ekonomi dengan biososioekonomi sebagai pedoman teoritisnya, tidak tergantung pilpres dan pemenang pilpres 2009. Akan tetapi ada baiknya kalau kita bisa mendapatkan presiden yang selain menghormati konstitusi dan konsensus nasional juga sekaligus pro rakyat dan berani berpartisipasi mewujudkan demokrasi ekonomi. Sebagai anak bangsa harapan saya pribadi bisa mendapatkan presiden yang selain seperti saya kemukakan di atas juga seorang presiden yang supel bergaul dengan tokoh-tokoh masyarakat atau pusat-pusat pengaruh dalam civil society. Dengan memiliki presiden yang supel saya lebih yakin bisa mewujudkan demokrasi ekonomi dengan mendorong memaksimalkan etos sosial atau kedermawanan sosial anggota masyarakat. Semoga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar