Sabtu, 20 Juni 2009

Satrio Piningit Sebagai Pengalaman Sejati: Gunung Kidul dan Wahyu Keprabon

Tim sukses kampanye capres dan cawapres mulai menggelar laku spiritual dengan berziarah ke makam leluhur Mataram yaitu ke makam Ki Ageng Giring di Paliyan dan Ki Ageng Wonokusumo di Karang Mojo Gunung Kidul. Tujuannya adalah agar jalan menuju RI I dan RI II terwujud bagi pasangan calon yang dijagokan. Kegiatan itu berlangsung sejak 2004 (Kompas Mobile 19/06/2009, pkl 04:00).

Suka atau tidak suka Gunung Kidul merupakan daerah yang dipercaya tempat turunnya wahyu keprabon Mataram. Dalam buku:Bayang-bayang Ratu Adil karya Sindhunata (Gramedia Pustaka Utama, 1999) disebutkan di Petilasan Kembang Lampir , di Dusun Giri Sekar, Panggang, menurut dongeng adalah tempat turunnya dua wahyu Kerajaan Mataram yakni Gagak Emprit untuk Ki Ageng Pemanahan dan Panca Purba untuk Senapati (hlm39).

Sebelum membaca buku tersebut tahun 2002 saya tidak pernah mengenal apalagi mengunjungi wilayah itu. Sebagai orang (Jawa)yang dibesarkan dalam keluarga modern (wartawan) saya hampir tidak pernah mengunjungi tempat keramat khusus untuk tujuan spiritual. Satu-satunya tempat yang keramat (kalau boleh dikatakan demikian) yang saya kunjungi hanyalah Dusun Mangir (Bantul). Itupun karena seorang leluhur saya berasal dari sana.

Namun demikian Gunung Kidul merupakan tempat bersejarah bagi saya karena dari tempat itulah suatu inspirasi muncul yang kemudian melahirkan teori bioekonomi (biososioekonomi). Waktu itu Oktober 2001 saya bersama rombongan rekan muda saya berziarah ke Goa Maria Tritis. Dalam bus, Frater (calon Pastor), menyebut Gunung Kidul daerah minus. Saya terus merenungkan kata minus itu. Termasuk ketika telah kembali dari ziarah. Permenungan saya akhirnya berujung bahwa dunia secara keseluruhan memang minus dimana pangan hanya bisa cukup bila manusia bersedia (terpaksa) mati dan tubuhnya didaur ulang menjadi pupuk. Demikian juga dengan kekayaan, kekayaan hanya cukup untuk kesejahteraan bersama bila didaur ulang tidak diwariskan kepafa anak cucu. Dari sini muncul rumusan dasar biososioekonomi: "kelahiran adalah hutang yang harus dibyar dengan kematian."

Hikmah yang bisa dipetik dari kunjungan ke Gunung Kidul adalah kesejahteraan bersama bisa terwujud bila biososioekonomi diimplementasikan. Senapati boleh jadi memang memperoleh wahyu keprabon. Tim sukses capres cawapres yang mengunjungi makam Ki Ageng Giring boleh jadi akan memuluskan jagoannya menduduki RI I dan RI II. Tetapi kesejahteraan publik sejati belum tentu terwujud tanpa implementasi biososioekonomi. Bahkan sejarah mencatat bahwa ketika Senapati berkuasa di bumi Mataram, penjajah Belanda datang ke P Jawa. Yang jelas, saya tidak percaya wahyu itu masih berada pada Senapati setelah ia membunuh Ki Ageng Mangir suami Pambayun. Pengalaman saya memperjuangkan biosoioekonomi adalah seringnya terjadi bencana ketika biososioekonomi dihambat.

Dari perspektif rasional, biososioekonomi adalah pedoman teori ekonomi makro bagi pelaksanaaan demokrasi ekonomi. Ketika di samping demokrasi politik tidak ada demokrasi ekonomi, rakyat tetap terjajah (Bung Hatta). Kalau rakyat mau merdeka juga dari segi ekonomi perlu berjalan bersama-sama dengan biososioekonomi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar