Kamis, 15 Oktober 2009

Bunga dan Tingkat Konsumsi dalam Paradigma Biososioekonomi

Kebanyakan rakyat membeli rumah dengan cara kredit pemilikan rumah (KPR). Jumlah dana yang dipinjam melalui KPR bisa mencapai 80 sampai dengan 90% dari kebutuhan dana untuk membeli rumah. Hal semacam ini dianggap wajar. Tak ada upaya untuk mengubahnya.

Dalam perekonomian konvensional (yang mengaplikasikan teori ekonomi neoklasik atau keynesian) kekayaan mengalir dari orang miskin kepada pemilik modal antara lain melalui bunga bank seperti itu. Kalau kita cukup kritis seharusnya tidak menganggap wajar hal-hal seperti itu, yang adalah suatu ketidakadilan. Dalam paradigma biososioekonomi, kekayaan daur ulang terdistribusi selain melalui bunga bank juga melalui laba usaha di sektor riil dan melalui jaminan sosial seperti untuk pendidikan, kesehatan, dan pangan (food stamps atau biaya untuk kebijakan ketahanan pangan). Dengan beasiswa ala biososioekonomi semua anak usia sekolah bisa menabung dengan bunga yang baik yang bisa dikatakan sebagai profit sharing atau redistribusi kekayaan individu sedemikian sehingga setelah lulus S1 bisa menggunakan tabungannya untuk membeli rumah atau membuka usaha. Dalam paradigma biososioekonomi ini dana yang dipinjam melalui KPR tidak perlu besar. Dalam paradigma konvensional kekayaan mengalir dari orang miskin kepada pemilik modal antara lain melalui bunga kredit, sementara dalam paradigma biososioekonomi kekayaan mengalir atau terdistribusi kepada semua orang antara lain melalui bunga tabungan atau deposito.

Dalam paradigma biososioekonomi kalau tingkat konsumsi rendah kekayaan daur ulang akan terdistribusi melalui bunga bank serta terjadi peningkatan tabungan anggota masyarakat. Tingkat konsumsi yang rendah yang terjadi pada perekonomian konvensional (neoklasik dan keynesian) sering menjadi indikator kelesuan ekonomi atau merosotnya kesejahteraan. Bahkan dalam pradigma konvensional ini penurunan konsumsi bisa menyebabkan meluasnya pengangguran.

Akan tetapi dalam paradigma biososioekonomi, rendahnya tingkat konsumsi bukan berarti indikator rendahnya kesejahteraan anggota masyarakat. Rendahnya konsumsi pada paradigma biososioekonomi bisa terjadi karena anggota masyarakat lebih suka menabung entah karena alasan ekonomi dimana bunga tabungan jauh lebih besar dari inflasi, karena alasan religius, atau karena alasan ekologis dimana anggota masyarakat sadar bahwa tingkat konsumsi tinggi akan membebani alam. Tingkat konsumsi rendah dalam paradigma biososioekonomi tidak akan menyebabkan meluasnya kesengsaraan rakyat. Kesejahteraan tetap terjaga dengan daur ulang dan redistribusi kekayaan pribadi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar