Jumat, 23 Oktober 2009

Peningkatan Pendapatan dan Aset Publik yang Akan Membebaskan Rakyat dari Penderitaan

Dalam paradigma konvensional (neoklasik atau keynesian), pertumbuhan PDB dijadikan obsesi agar rakyat terbebas dari penderitaan ekonomi. Paradigma seperti ini masih dipakai Kabinet Indonesia Bersatu II dalam langkahnya mengelola perekonomian (Kompas 23 Oktober 2009 hlm 1). Paradigma sering membelenggu pikiran manusia secara psikologis sehingga penjelasan yang rasional dan accountable malah diabaikan.

Padahal secara akuntansi dapat dipahami bahwa peningkatan kesejahteraan rakyat dalam situasi seperti sekarang ini bisa terwujud kalau terjadi peningkatan pendapatan dan aset publik (negara dan masyarakat) sebagaimana dijelaskan oleh teori ekonomi makro biososioekonomi yaitu peningkatan pendapatan dari pajak, derma, dan daur ulang kekayaan individu. Ketika perekonomian berada pada masa transisi antara perekonomian konvensional menuju biososioekonomi, memang akan terjadi peningkatan PDB di negara-negara berkembang. Tetapi dalam paradigma biososioekonomi peningkatan PDB tidak dijadikan obsesi. Justru ketika implementasi dan aplikasi biososioekonomi sudah merata dan mapan di seluruh dunia, peningkatan PDB harus ditekan serendah mungkin mendekati nol persen

Dalam karya tulis pengentasan kemiskinan 2005 ("Mengentaskan Kemiskinan dengan Paradigma Baru Demokrasi Ekonomi")saya mengingatkan bahwa bila laba atau kekayaan tidak dikembalikan kepada konsumen (semua orang) maka daya beli rakyat akan anjlok. Kalau Indonesia untuk sementara bisa lolos terkaman krisis ekonomi global 2008, salah satu alasannya karena konsumsi domestik.

Apa yang dikatakan pemulihan ekonomi oleh paradigma konvensional bukan berarti rakyat akan segera bebas penderitaan ekonomi karena ciri paradigma neoklasik (juga keynesian) adalah suatu perbaikan yang sifatnya parsial atau sektoral tidak bisa serentak, maka peningkatan pertumbuhan PDB pun dibayangi kenaikan harga minyak. Selain itu inflasi yang disebabkan defisit atau pencetakan uang dan utang membayang di ujung sana. Memperbaiki satu segi berarti memperburuk segi lain, itulah neoklasik.

Semoga perbedaan paradigma ini dipahami, agar rakyat tidak menanggung beban yang semakin berat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar