Sabtu, 10 Oktober 2009

Cara Mudah Belajar Ekonomi (2)

Oleh: Hani Putranto

Kalau pada artikel pertama kita belajar ekonomi dengan membedah dan menganalisa unit-unit ekonomi dengan bantuan akuntansi maka dalam artikel kedua ini kita akan mempelajari bagaimana harga terbentuk dengan adanya interaksi kepentingan antar unit ekonomi. Dan khusus bagi unit ekonomi publik, bagaimana sikap yang harus diambil para pemangku kepentingan unit ekonomi ini terhadap perubahan harga.

Harga barang dan jasa terbentuk akibat dari adanya penawaran dan permintaan. Kurva penawaran dan permintaan sudah umum dikenal dalam teori ekonomi. Kurva itu bisa bersifat individual ataupun agregat yang merupakan penjumlahan penawaran dan permintaan individual. Tetapi baik yang individual maupun agregat tidak memasukkan unsur waktu sebagai variabel. Sebenarnya kalau mau memasukkan waktu bisa saja, hanya saja kurvanya menjadi tidak sederhana. Inilah mekanisme pasar yaitu adanya tarik menarik atau interaksi kepentingan antar unit ekonomi. Selain karena perubahan penwaran atau permintaan, harga bisa juga berubah karena perubahan atau pergeseran titik keseimbangan.

Naik turunnya harga sebenarnya tidak bisa menjadi indikator sehat tidaknya unit ekonomi publik. Harga yang stabil memang baik tetapi itu belum tentu fundamental makro ekonomi atau fundamental unit ekonomi publik juga baik. Sehat tidaknya unit ekonomi publik harus dibedah dengan bantuan akuntansi seperti dijelaskan dalam artikel pertama.

Namun demikian para pemangku kepentingan publik yang mengelola unit ekonomi publik sebisa mungkin menjaga agar tidak terjadi pergeseran titik keseimbangan sehingga harga relatif stabil, dan tidak berubah dalam jangka panjang. Menggunakan kurva penawaran-permintaan agregat saja tidak cukup untuk dipakai pedoman mempertahankan keseimbangan yang berjangka panjang mengingat kurva itu tidak memasukkan unsur waktu. Pertumbuhan populasi penduduk dan pertumbuhan PDB bisa menggeser titik keseimbangan kurva.

Untuk mempertahankan agar titik keseimbangan tidak bergeser seiring berjalannya waktu maka para pemangku dan pengelola unit ekonomi publik harus melakukan hal-hal berikut. Pertama, mempertahankan pertumbuhan populasi penduduk dan pertumbuhan PDB nol persen. Adanya dinamika teknologi memang akan menyulitkan upaya mempertahankan angka pertumbuhan PDB nol persen untuk jangka waktu lama, tetapi paling tidak angka pertumbuhan PDB harus ditekan mendekati nol persen. Memang menurut paradigma konvensional (neoklasik dan keynesian) pertumbuhan PDB nol persen berarti krisis sedang terjadi, akan tetapi menurut teori ekonomi makro biososioekonomi pertumbuhan PDB nol persen bukan suatu krisis kalau aset publik sama atau lebih besar dari liabilitas publik sebagaimana dijelaskan dalam artikel pertama.

Kedua, para pemangku kepentingan dan pengelola unit ekonomi publik perlu juga menjaga agar suplai energi stabil atau menggunakan sumber energi terbarukan atau menggunakan sumber energi tak terbarukan tetapi jangka waktu habisnya panjang seperti energi matahari. Terhambatnya atau kurangnya suplai energi akan menyebabkan kenaikan harga barang-barang lain yang menyengsarakan rakyat kebanyakan.

Ketiga, perlunya melakukan daur ulang kekayaan individu dan peningkatan derma seperti dijelaskan teori biososioekonomi. Mekanisme daur ulang (kadang saya sebut mekanisme herucakra) merupakan mekanisme non pasar yang akan mempertahankan dan menjaga keseimbangan yang berjangka panjang. Kekayaan daur ulang adalah kekayaan yang tidak diwariskan kepada keturunan pemilik kekayaan tetapi dihibahkan kepada publik untuk membayar laba, bunga, dan jaminan sosial (pendidikan, kesehatan, foodstamps/kebijakan ketahanan pangan).

Dengan daur ulang kekayaan, bank sentral tidak perlu lagi mencetak uang. Demikian juga pemerintah tidak perlu berhutang atau menerbitkan obligasi. Depresiasi permanen mata uang terjadi karena liabilitas publik lebih besar dari asetnya sebagai akibat tidak adanya daur ulang kekayaan pribadi. Mekanisme daur ulang kekayaan pribadi sesuai hukum alam yang universal. Bayangkan hal ini seperti kolam renang. Kalau setiap minggu kolam renang dikuras kemudian airnya dibuang dan untuk mengisinya kembali harus menyedot lagi air tanah, betapa borosnya. Mekanisme daur ulang merupakan mekanisme yang efisien untuk mengelola sumber daya publik yang memang langka.

Kekayaan daur ulang itu perlu dikelola dengan memperhatikan kaidah biososioekonomi (bioekonomi). Distribusi kekayaan daur ulang dalam waktu sekejap akan menyebabkan aset publik ini menjadi aset individu dalam sekejap pula, dimana menurut teori biososioekonomi semua milik individu adalah liabilitas. Distribusi sekejap ini akan membuat liabilitas publik tetap lebih besar dari asetnya. Kekayaan daur ulang sebaiknya habis terdistribusi sesuai decompostion time-nya (misal 40 tahun). Ingat definisi aset adalah yang menghasilkan waktu seperti dijelaskan dalam artikel pertama.

Sebagai gambaran, berikut ini saya kutipkan dari buku saya Herucakra Society Jalan Ketiga Ekonomi Dunia halaman 21-22. "Kalau seorang donatur mengakumulasikan kekayaannya dalam waktu 40 tahun, dari usia 25 tahun sampai 65 tahun, maka kekayaan daur ulangnya juga harus habis dalam waktu 40 tahun. Demikian juga aset-aset yang tidak berujud mata uang (lokal) juga harus terdekomposisi sedikit demi sedikit dalam waktu 0-35 tahun. Seseorang donatur yang memiliki aset atau kekayaan 17 unit properti bisa menjualnya satu unit per dua tahun sehingga propertinya habis terjual setelah tahun ke-35. Demikian juga valasnya. Jika donatur tersebut memiliki US $ 7.000.000,00 maka setiap tahun bisa dijual US $200.000,00. Penjualan berdasarkan kerangka waktu atau jadwal yang ditetapkan donatur dalam testamennya. Penjualan tidak masalah berapa pun harga pasar properti dan harga valas saat jatuh tempo"

Kalau pertumbuhan PDB nol persen, pertumbuhan populasi penduduk nol persen, dan kekayaan pribadi didaur ulang seperti harapan biososioekonomi maka seharusnya harga properti tidak perlu naik, karena tidak ada peningkatan permintaan kebutuhan riil. Kalau harganya naik, hal itu terjadi karena adanya spekulasi. Kalau bisosioekonomi diterapkan, properti tidak lagi dijadikan instrumen investasi atau spekulasi, sehingga semua orang terjamin tempat tinggalnya. Dalam paradigma biosioekonomi semua orang bisa bertambah kekayaannya tanpa harus melakukan spekulasi atau investasi beresiko.

Inti dari artikel ini adalah bahwa adanya tarik-menarik kepentingan antar unit ekonomi akan membentuk harga sesuai mekanisme pasar dan kurva penawaran-permintaan. Akan tetapi para pemangku dan pengelola unit ekonomi publik harus mempertahankan titik keseimbangan tidak bergeser untuk menjamin kesejahteraan publik dengan tidak berubahnya harga-harga barang dan jasa termasuk dalam hal ini mencegah depresiasi permanen mata uang atau mencegah inflasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar