Kamis, 29 Oktober 2009

Di Mana Posisi Kaum Muda Dalam Perubahan Kini?

Peran kaum muda dalam perubahan sering tidak bisa diabaikan. Sumpah pemuda yang kita peringati setiap tanggal 28 Oktober merupakan salah satu bukti peran tersebut. Semangat, keberanian, dan intelektualitas muda mendobrak kebuntuan dan status quo yang tidak adil. Demikian juga pemuda-pemuda anak jaman 81 tahun yang lalu menyatakan sumpahnya untuk bertanah air satu yaitu Indonesia, berbangsa satu yaitu bangsa Indonesia, dan berbahasa satu bahasa Indonesia. Peristiwa ini mendorong persatuan dan kemerdekaan Indonesia.

Kini situasi dan kondisi berbeda dengan 81 tahun yang lalu. Kini Bahasa Indonesia termasuk bahasa ketiga terbanyak yang dipakai oleh blog worpress di bawah bahasa Inggris dan Spanyol, di mana Indonesia adalah satu-satunya negara yang bukan penjajah. Di tengah kegembiraan seperti ini memang masih ada keprihatinan dengan adanya ideologi radikal dari luar yang menafikan Indonesia sebagai tanah airnya. Kita berharap agar para penganut ideologi radikal itu bertobat. Memang sejarah mencatat bahwa karena posisi geografisnya yang strategis dan tanahnya yang subur Indonesia banyak didatangi orang luar, tidak sedikit yang bermotif ekonomi. Ada yang datang ke Indonesia karena di negaranya sedang terjadi revolusi besar dimana mencari kekayaan pribadi dilarang atau di negaranya mencari rejeki begitu sulit karena sistem yang amat sangat feodal di tengah tanah yang gersang Mereka yang datang dan sudah menjadi WNI seharusnya menghargai sejarah persatuan Indonesia sebagaimana dicetuskan para pemuda dalam Sumpah Pemuda juga menghargai sejarah terbentuknya NKRI dan Pancasila dengan Bhineka Tunggal Ika-nya sebagai konsensus nasional yang sudah final.

Kaum muda kini menghadapi tantangan yang berbeda meskipun ada kemiripan dimana kurang-lebih 80 tahun lalu AS dilanda depresi besar. Perubahan ke arah yang lebih baik membutuhkan kaum muda. Krisis ekonomi global dan krisis kapitalisme mendorong kaum muda untuk berpikir kritis dan kreatif tanpa harus menghancurkan Persatuan Indonesia dan tanpa harus mengubah konsensus nasional sebagaimana disebut di atas. Biososioekonomi menawarkan perubahan ke arah yang lebih baik, lebih stabil, lebih adil-sejahtera dalam harmoni dengan alam dan lingkungan hidup. Namun tantangan biososioekonomi juga ada yaitu yang berasal dari status quo. Oleh karena itu biososioekonomi membutuhkan banyak kaum muda yang berani, cerdas, dan mau berjuang dalam jalan damai. Itu diperlukan untuk mengkritik, mengembangkan, ataupun menyebarluaskan biososioekonomi. Kalau biososioekonomi salah tunjukkan letak salahnya, kalau benar bergabunglah untuk mengembangkan dan menyebarluaskannya.

Kaum muda perlu menyadari bahwa kegagalan reformasi 1998 (dimana kaum muda punya peran besar) terjadi antara lain karena gerakan reformasi tidak memiliki konsep untuk ditawarkan sebagai solusi. Teori biososioekonomi yang baru terbit tahun 2004 belum dikenal sama sekali waktu itu. Neoklasik masih bercokol sebagai status quo padahal dalam paradigma neoklasik memperbaiki satu segi berarti memperburuk segi lain. Ini berbeda dengan paradigma biososioekonomi yang menawarkan perbaikan serentak.

Pada awal saya memperjuangkan biososioekonomi justru dari kaum tua sambutan itu datang (antara lain dari Prof. Dr. Mubyarto) sementara yang muda-muda justru masih takut-takut. Memang memprihatinkan kalau kondisi ini berlanjut. Padahal yang muda justru dituntut untuk lebih berani. Kondisi krisis dan kelaparan yang mengancam satu miliar penduduk bumi seharusnya mengetuk hati kaum muda untuk berani berjuang bersama biososioekonomi tanpa harus mengorbankan sikap kritisnya kalau biososioekonomi salah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar