Selasa, 21 Desember 2010

Kekikiran Di Balik CSR

Bagi yang memahami matematik dan biososioekonomi atau paling tidak memahami hakekat ekonomi publik (plus matematik) tentu persoalan seperti ini pasti sudah diketahui. Akan tetapi bagi yang kurang memahami, mungkin tulisan ini berguna untuk ikut mengontrol dan mengoreksi jalannya ekonomi publik.

Gemerlap CSR (corporate social responsibility) sering tidak hanya menyilaukan mata banyak orang tetapi juga mungkin membutakannya. Citra yang terpancar dari iklan CSR sering menutupi suatu kenyataan bahwa boleh jadi individu-individu pemegang sahamnya kikir dan penindas. Dalam penjelasan mengenai biososioekonomi sering saya kemukakan bahwa manusia selain homo economicus juga homo socius artinya kapasitas kedermawanan sosial seseorang memang seharusnya lebih tinggi dari institusi bisnis. Kalau institusi bisnis hanya menyumbang 2,5% dari laba usahanya, maka seseorang seharusnya bisa menyumbang harta dalam persentase yang jauh lebih tinggi dari itu karena ia adalah juga bersifat homo socius.

Celakanya kalau individu lebih kikir dari perusahaan, kesengsaraan rakyat akan berlanjut. Praktek-praktek di mana individu lebih kikir dari perusahaan harus menjadi bahan perhatian para pemangku kepentingan publik agar paraktek-praktek buruk itu tidak meraja lela. Juga perlu diperhatikan permintaan pemotongan pajak karena perusahaan menjalankan CSR. Jangan sampai uang yang disumbangkan melalui CSR besarnya, misalnya, hanya Rp 100 milyar tetapi meminta pemotongan pajak sampai Rp 120 milyar. Dalam kasus seperti ini income publik bukan bertambah tetapi berkurang Rp 20 milyar. Lebih celaka lagi kalau uang Rp 20 milyar tadi dipakai untuk iklan pencitraan bahwa perusahaan dan individu pemegang saham adalah seorang pahlawan. Padahal kalau menurut logika biososioekonomi individu pemilik perusahaan itu harus menyumbang lebih dari Rp 120 milyar. Dijalankannya CSR bukan berarti membebaskan bagi pemiliknya untuk membayar kewajibannya apakah berupa pajak, derma, atau daur ualng kekayaan individu seperti dijelaskan oleh teori biososioekonomi. Orang yang mengerti biososioekonomi tidak mudah dibodohi oleh orang-orang kikir yang tampil bak pahlawan. Oleh karena itu banyak orang seharusnya mau mempelajari dan menyebarluaskan teori ekonomi makro biososioekonomi supaya rakyat tidak menjadi korban elite busuk.

Biososioekonomi berusaha meningkatkan pendapatan publik dan mengelolanya dengan baik agar aset publik sama dengan liabilitasnya. Agar aset publik tidak merosot di bawah liabilitasnya. Biososioejonomi membatasi income (publiknya) pada tiga sumber yaitu pajak, derma, dan daur ulang kekayaan individu. Biososioekonomi tidak menjadikan hasil investasi asetnya sebagai pendapatan utama publik karena orientasi pada investasi akan memanaskan makro ekonomi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar