Selasa, 28 Desember 2010

Pemerintahan Tuhan vs Perusak Bumi

Kalau bukan karena beberapa peristiwa, mungkin postingan seperti ini tidak akan saya buat karena khusus akhir tahun ini saya telah mempersiapkan refleksi akhir tahun setelah sepanjang tahun 2010 kita melihat atau mengalami berbagai peristiwa. Beberapa peristiwa yang mendorong tulisan ini adalah hujan salju di sebagian Timur Tengah, hujan salju di Australia saat seharusnya musim panas, dan beberapa gempa seperti gempa Iran (http://m.kompas.com/news/read/data/2010.12.21.12391617), Yogya/Pacitan (http://m.detik.com/read/2010/12/21/125942/1529667/10/pekerja-kantoran-di-surabaya-malang-juga-berhamburan), Jepang (http://m.detik.com/read/2010/12/22/020752/1530285/10/gempa-74-sr-guncang-jepang) dan terakhir gempa Vanuatu di Pasifik 25 Des 2010 WIB atau 26 Des 2010 waktu setempat (http://m.kompas.com/news/read/data/2010.12.26.08045510).

Berita hujan salju di sebagian Timur Tengah saya share melalui account facebook saya (www.facebook.com/hani.putranto) tanggal 12 Desember 2010. Dalam komentar saya tertanggal 13 Desember 2010 saya tulis: "....Jadi teringat Kitab Wahyu: khususnya Why 11:19 'Maka terbukalah Bait Suci Allah yang di sorga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam bait suci itu dan terjadilah kilat dan deru guruh dan gempa bumi dan hujan es lebat'. Juga Why 16:21'"

Dalam postingan di blog ini saya kutipkan Kitab Wahyu 11 dari ayat 15 sampai dengan ayat 19 yaitu ayat terakhir Wahyu 11, kutipan lengkapnya adalah sebagai berikut:

"Lalu malaikat yang ketujuh meniup sangkakalanya, dan terdengarlah suara-suara nyaring di dalam sorga, katanya:
'Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya, dan Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya'
Dan kedua puluh empat tua-tua, yang duduk di hadapan Allah di atas takhta-takhta mereka, tersungkur dan menyembah Allah, sambil berkata:
'Kami mengucap syukur kepada-Mu ya Tuhan, Allah Yang Mahakuasa, yang ada dan yang sudah ada, karena engkau telah memangku kuasa-Mu yang besar dan telah memerintah sebagai raja dan semua bangsa telah marah, tetapi amarah-Mu telah datang dan saat bagi orang-orang mati untuk dihakimi dan untuk memberi upah kepada hamba-hamba-Mu, nabi-nabi dan orang-orang kudus dan kepada mereka yang takut akan nama-Mu, kepada orang-orang kecil dan orang-orang besar dan untuk membinasakan barang siapa yang membinasakan bumi.'
Maka terbukalah Bait Suci Allah yang di sorga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci dan terjadilah kilat dan deru guruh dan gempa bumi dan hujan es"

Demikian tadi saya kutipkan dari kitab Wahyu, kitab terakhir Perjanjian Baru otomatis juga kitab terakhir Alkitab. Dalam postingan ini tidak lagi saya jelaskan mengenai pemerintahan Tuhan (bisa juga disebut "Kingdom of Heaven" atau "Kingdom of JHWH") karena telah saya jelaskan dalam postingan berjudul "Pemerintahan Tuhan" tertanggal 24 Agustus 2010 di blog ini.

Dalam postingan ini saya ingin menggarisbawahi hukuman yang akan menimpa pembinasa bumi (Why 11:18). Peringatan Kitab Wahyu itu patut kita perhatikan mengingat kerusakan bumi oleh ulah manusia. Hujan salju di Australia pada saat seharusnya musim panas adalah tanda pemanasan global yang menimpa kutub selatan bumi yang berdekatan dengan Australia. Kerusakan bumi itu terjadi karena kesrakahan atau sesat pikir rezim atau mazab ekonomi yang mempersyaratkan pertumbuhan PDB bagi kesejahteraannya. Mazab itu masih eksis, lihat saja di media massa konvensional menjelang akhir tahun seperti ini, halaman media itu dihiasi banyak tulisan ekonomi untuk meningkatkan PDB tahun depan. Sama halnya pertumbuhan penduduk, sebenarnya pertumbuhan PDB akan semakin membebani bumi dan merusaknya. Itulah mazab konvensional (neoklsik atau keynes). Berbeda dengan mazab konvensional, biososioekonomi tidak mempersyaratkan pertumbuhan PDB, tetapi dengan daur ulang kekayaan individu semua orang bisa tumbuh kekayaannya yang diukur dengan angka PIT (persentse individu atau rumah tangga yang tumbuh, angka PIT 100% berarti semua orang atau rumah tangga bertambah kekayannya). Dalam biososioekonomi secara makro tidak ada pertumbuhan tetapi secara mikro ada pertumbuhan. Pertumbuhan makro atau pertumbuhan PDB yang seharusnya dicegah karena berpotensi meningkatkan beban alam dan merusak bumi.

Tentu pembinasa bumi tidak hanya berasal dari mazab ekonomi konvensional yang mempersyaratkan pertumbuhan PDB tetapi juga berasal dari orang-orang yang mengobarkan perang dan terorisme. Semoga peringatan Kitab Wahyu 11:18 itu diperhatikan semua orang apa pun agamanya. Demikian postingan ini saya tulis, saya bukan ahli bernubuat, hanya menyampaikan apa yang dinubutkan atau ditulis orang lain.

Bagi kita yang tidak merusak bumi atau tidak membuat hal-hal yang mendatangkan amarah Tuhan bisa menambahkan dalam doa harian kita doa Mazmur 118:25 yang bunyinya: "Ya TUHAN, berilah kiranya keselamatan! Ya TUHAN, berilah kiranya kemukuran!"

Rahayu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar