Selasa, 14 Desember 2010

Quo Vadis Teologi Pembebasan

Tulisan ini adalah salah satu dari 17 tulisan yang terkumpul dalam naskah "Suara Alam: Menemukan Jalan ke Tanah Terjanji, Menuju Kapitalisme Tanpa Darwinsime" Yang menjadi ciri dalam postingan ini selain bahasanya sederhana juga ditulis dalam gaya sharing pengalaman rohani. Postingan ini ditulis kembali dengan cara diketik kata demi kata dengan sedikit perbaikan redaksionalnya. Selamat membaca.

Bukanlah maksud penulis untuk mengkritik teologi pembebasan. Justru penulis menghargai mereka yang terlibat dalam teologi pembebasan dengan mengorbankan waktu, harta benda, bahkan nyawanya untuk suatu pembebasan bagi kaum miskin di mana pun juga berada apakah di Amerika Latin atau di tempat lain. Terjadinya reformasi di Indonesia telah membuat buku-buku tentang teologi pembebasan lebih mudah diperoleh dan dibicarakan secara terbuka sehingga penulis mulai bisa mengerti dan memahami tentang teologi pembebasan yang konon bervariasi. Namun dari semua itu masih ada hal yang bagi penulis masih kabur yaitu akan dibebaskan dengan cara apa orang-orang miskin itu dan mau berjalan ke arah manakah teologi pembebasan?

Penulis bukanlah seorang doktor di bidang ekonomi, teologi, filsafat, kependudukan dan juga bukan seorang rohaniwan. Penemuan penulis akan jalan ke Tanah Terjanji yang dipaparkan dalam buku ini sebenarnya merupakan suatu penemuan yang berawal dari ketidaksengajaan dari suatu musibah yang menimpa penulis kira-kira sembilan tahun yang lalu. Tetapi penulis merasa bahwa latar belakang penulis yang S1 Teknologi Pertanian cukup bisa mendampingi penulis untuk bisa mencerna dan mengolah segala pengalaman tersebut dengan cukup cerdas, jernih dan bijak.

Maka dalam bagian ini penulis hanya mau men-sharing-kan saja mengenai pengalaman tersebut yang sebagian darinya pernah di-sharing-kan kepada rekan-rekan muda yang tergabung dalam paguyuban dan persaudaraan Kontak Suara Muda (KSM). Pengalaman ini berawal dari akhir bulan Februari 1993 ketika penulis kehilangan pekerjaan secara menyakitkan. Pada saat itu, empat tahun sebelum krisis melanda Asia, apa yang disebut sebagai nilai-nilai Asia sedang berada pada puncak arogansinya. Ternyata bukan hanya kehilangan pekerjaan saja yang penulis sadari kemudian tetapi juga kebebasan dan kemerdekaan. Sewaktu duduk dibangku sekolah kita boleh berpacu dan berprestasi setinggi-tingginya, kita bisa memilih sekolah favorit yang terbaik. Kompetisi yang terbuka adalah bagian dari masa sekolah yang kemudian lenyap ketika memasuki dunia kerja, tenggelam dalam suatu budaya nepotisme dan feodalisme.

Ada suatu tawaran pekerjaan untuk menjadi agen asuransi jiwa dari perusahaan nasional yang bonafid. Meskipun penulis merasa tidak terlalu bisa menjadi salesman tetapi tawaran itu pun penulis coba. Dari training yang diberikan aku merasa bahwa inilah duniaku dan kebebasanku yang pernah hilang. Di sini siapa pun boleh berprestasi sebaik-baiknya. Selesai training, pada bulan pertama aku berhasil membukukan transaksi dari saudara-saudaraku. Bulan kedua mulai ekspansi ke lingkungan yang di luar saudara, tetapi hasilnya nihil. Bulan ketiga keuanganku menipis. Ada seorang prospek (calon nasabah) yang baru dikenal dan bukan saudara yang agaknya cukup tertarik dengan plan asuransi beasiswa. Ketika dia memberikan isyarat setuju blanko surat perminataan pun aku siapkan dan ditandatanganinya. Kami membuat janji untuk bertemu lagi besok siang setelah makan siang dan dia minta dibawakan kwitansi pembayaran premi pertama. Demikianlah keesekon harinya, setelah makan siang saya datang dengan membawa kwitansi tanpa paginya konfirmasi terlebih dahulu. Ini adalah trik dari para senior yang merupakan bagian dari body language. Karena kalau pagi harinya ditelpon lebih dulu bisa jadi prospek tersebut membatalkan komitmennya untuk membayar karena kita dianggap tidak serius hanya bicara saja alias no action talk only. Tetapi ternyata prospek tersebut tidak masuk kerja pada hari itu karena sakit. Saat itu juga seoalah-olah langit runtuh. Mungkin ini akal-akalan orang tersebut untuk membatalkan komitmennya.

Terbayang kembali peristiwa tahun 1993 ketika penulis kehilangan pekerjaan. Sementara uangku semakin menipis dan agaknya orangtuaku pun punya harapan agar aku bisa sedikit banyak membantunya untuk menyumbang biaya sekolah adik-adikku. Pahit memang. Tidak hanya itu saja, semua pengalaman ini telah menggoncangkan imanku sehingga jatuh ke titik nadir. Ketika pulang aku duduk termenung sendirian di kamar kos sederhana yang disewa adik sepupuku tempat aku menumpang. Menatap langit yang mendung melalui jendela kamar yang terletak di tempat yang lebih tinggi dari rumah-rumah sekelilingnya yang juga sederhana. Pada saat itu melalui hati nuraniku aku mendengar seolah-seolah Tuhan berkata kepadaku: "Bangkitlah anak-Ku, Aku Bapamu!"
"Bapa..." Jawabku

Untuk pertama kalinya dalam hidup Kristianiku hatiku dan tubuhku begitu tergetar ketika aku memanggil Tuhan dengan sebutan Bapa.

Keesokan harinya aku menelepon kembali prospek tersebut dan dia menyatakan minta maaf karena kemarin tidak masuk. Siangnya saya diminta datang dan semuanya berjalan lancar. Ini merupakan transaksi pertama yang cukup signifikan dari prospek yang tidak dikenal secara pribadi. Tak lupa aku mengucapkan terima kasih kepada Bapa di surga. Dan sejak saat itu sebutan Bapa untuk Tuhan begitu menyentuh hatiku lebih dari sekedar formalitas teologis.

Perjalanan selanjutnya aku lalui dengan suka-dukanya sendiri. Sebagai ungkapan terima kasih kepada Bapa aku datang ke Lingkungan untuk ikut menjadi anggota koor juga petugas tata laksana yang mengumpulkan kolekte di gereja. Ucapan terima kasih itu juga terungkap dalam doa harianku:

"Puji dan syukur kuhaturkan kepada-Mu ya Tuhan
Karena Engkau menyelamatkan hidupku dari kehancuran
Engkau mengangkat hidupku dari kehinaan.
Aku percaya Sabda-Mu mampu menyembuhkan daku
sehingga aku bisa berbuah melimpah, buah yang bisa dinikmati orang lain, ranting dan daunnya menjadi tempat bernaung, memberikan kehidupan dan kesejukan bagi banyak orang
sehingga semua orang memuji dan memuliakan nama-Mu
sehingga Kerajaan-Mu semakin kokoh di muka bumi
bumi menjadi tempat bernaung yang aman dan nyaman bagi semua orang tanpa membeda-bedakan suku, agama, aliran politik, kebudayaaan dll
sambil menantikan kehidupan abadi di Sorga"

Kata-kata "Aku Bapamu" telah membangkitkan kembali semangat hidup dan prestasiku. Aku mendapatkan fasilitas training sebagai supervisor. Dalam training motivasi itu aku mendapatkan tambahan semangat yang menyala-nyala karena trainer mengingatkan kembali akan potensi dan talenta masing-masing pribadi atau individu serta prestasi-prestasi yang pernah dicapai. Bagiku ini mengingatkan kembali waktu SMP menjadi salah satu dari sedikit siswa yang diterima di SMA negeri. Kemudian waktu SMA lulus dengan NEM (Nilai Ebtanas Murni) tertinggi. Dan kemudian diterima di PTN (Perguruan Tinggi Negeri). Pada saat menyelesaikan skripsi, aku merupakan salah satu dari sedikit mahasiswa S1 yang berani menciptakan prosedur analisis sendiri dengan mendapat inspirasi dari hukum Stoke, kemudian memperoleh nilai A untuk skripsi tersebut.

Prestasi ini memang tidak langsung berpengaruh pada bidang yang aku tekuni (pemasaran asuransi jiwa) tetapi membangkitkan gairah dan semangatku selepas training. Sementara itu aku teringat kembali film Mahabharata yang disutradarai B.R. Chopra dan Ravi Chopra yang ditayangkan TPI awal tahun sembilan puluhan. Dalam ingatanku itu, aku teringat kisah Karna salah seorang ksatria berbakat dalam epik tersebut yang disia-siakan karena sistem feodal saat itu. Sementara itu di dalam bidang keagenan asuransi jiwa tersebut aku merasa menemukan kembali kemerdekaanku yang hilang setelah lulus kuliah, sehingga aku tertantang untuk berprestasi sebaik mungkin. Kemampuan sales talk-ku tidaklah istimewa tetapi kemampuan analisisku termasuk istimewa, maka meski kadang-kadang gentar menekuni profesi tersebut aku melakukan analisis-analisis. Sehingga memunculkan ide untuk memprospek mereka yang baru memiliki anak atau keluarga muda. Data base bisa dengan rutin diperoleh dan situasinya mendukung.

Telak! Bidikan ini tepat sasaran, prestasiku pun membaik dan bahkan yang lebih penting rutin dan konsisten. Transaksi rutin setiap bulan dan bahkan pernah membukukan transaksi sampai empat polis dalam satu bulan. Mulailah aku melengkapi sarana kerja dengan handphone yang waktu itu masih jarang dimiliki marketing lain. Keputusan ini aku ambil karena prestasiku konsisten. Di samping itu aku juga ikut menjadi nasabah asuransi dengan mata uang dollar yang waktu itu kurs-nya sekitar Rp 2.300-an / 1 US $ hal ini juga penting untuk memotivasi prospekku. Karena banyak nasabahku yang mengambil plan dollr maka aku membuka rekening dollar untuk menyimpan komisi-komisi dari polis dollar. Sehingga waktu itu aku merasa cukup sejahtera.

Ingatanku akan Karna ksatria Mahabharata yang mengesankan adalah ketika ia melepas anting dan rompi wasiatnya untuk diberikan kepada seorang brahmana yang membuatku terinspirasi akan pengembalian talenta. Dan ternyata perumpamaan talenta dalam Injil paralel (meskipun tidak sama persis) dengan ilustrasi kisah Karna dalam Mahabharata tadi, yaitu talenta dengan pengembangannya tidak diwariskan kepada anak cucu. Betapa besar rasa terima kasih ksatria ini sehingga harta yang begitu berarti itu diberikan kepada gurunya yang telah membuat ia sukses dalam karirnya. Sebagai orang beriman yang telah ditebus dan diangkat menjadi anak Tuhan aku merasa masih kurang bersyukur dan berterima kasih pada Allah Bapa semua orang. Maka ini pun aku ungkapkan dalam doa malam:

"Ya Bapa, segala yang ada padaku
talenta, kejayaan, kemenangan, dan
kemegahan ini adalah pinjaman dari-Mu
Dari-Mu semuanya ini berasal dan hanya kepada-Mu dan anak-anak-Mu semuanya ini nanti aku kembalikan
aku hanyalah manusia biasa yang tercipta dari debu dan akan kembali menjadi debu
tanpa karya penyelamatan-Mu
aku bukanlah apa-apa"

Selain itu aku juga mulai berpuasa setiap Jumat pertama dalam bulan sebagai suatu devosi akan Hati Kudus Yesus yang telah menyelamatkan aku. Kebetulan aku juga tinggal di suatu paroki yang diasuh oleh imam-imam kongregasi Hati Kudus Yesus (SCJ). Waktu itu kira-kira akhir tahun 1996, doa di atas sering aku doakan setiap malam. Hal pengembalian talenta beserta pengembangannya mulai aku pikirkan dari segi rasionalitasnya.

Seiring berjalannya waktu krisis melanda Asia dan Indonesia. Nasabah-nasabahku yang rata-rata adalah keluarga muda dan bekerja di perbankan dan sektor konstruksi juga ikut terpengaruh akibat gelombang PHK pada kedua industri itu, nilai dollar terhadap rupiah bergejolak. Aku termasuk yang terakhir terkena dampak krisis. Ketika bulan Mei 1998 ketika terjadi kerusuhan aku masih sempat menyetor uang komisi untuk ditabung di Bank Lippo Cilandak yang waktu itu karyawatinya tampak khawatir karena mungkin telah mendengar berita kerusuhan di tempat lain. Sebelumnya bulan Maret 1998 aku masih sempat membayar premi asuransiku karena masih memiliki cadangan dollar yang kalau dikurskan nilainya Rp 10.000,- / 1 US $.

Perjalanan hidupku terus berlangsung dengan suka-dukanya yang melelahkan. Tidak hanya dalam bisnis tetapi juga dalam pergaulan hidup sehari-hari. Kalau sedang jatuh aku merasa Tuhan selalu membangkitkan semangatku :

"Bangkitlah anak-Ku
Katakan kepada-Ku
Segala pahit getir hidupmu
Aku Bapamu
Tidak ada bapa lain yang lebih tinggi dari pada-Ku"

Doa "Bapa Kami" termsuk yang aku rasakan getarannya dan aku hayati maknanya. Sebagai pekerja mandiri yang hidup dari komisi aku sangat mengerti arti rejeki dalam doa "Bapa Kami" tersebut. Berbeda ketika aku masih menjadi karyawan dimana Bapa telah diganti dengan majikan dan rejeki telah diganti dengan gaji.

Mengenai pengembalian talenta aku hanya berusah tidak berjanji. Tetapi agaknya Tuhan tahu dan di dalam hati nuraniku seolah-olah terjadi dialog sebagai berikut.

"Tidak! Kamu harus berjanji kepada-Ku
Untuk mengembalikan talenta beserta pengembangannya kepada-Ku"
"Kalau nantinya isteriku tidak setuju?"
"Kamu harus mecari isteri yang mengerti kehendak-Ku, dan mendidik anak-anakmu juga agar mengerti kehendak-Ku, juga agar dia bisa mencari menantu yang baik buatmu yang mengerti kehendak-Ku atau anak-anakmu mejadi biarawan/biarawati."

Akhirnya aku menyerah dan berjanji, kebaikan Tuhan telah membuatku terpanggil untuk berterima kasih dengan cara ini yaitu mengembalikan talenta beserta pengembangannya kepada Tuhan pada akhir hidupku seperti yang telah dipaprkan dalam semua bagian buku ini. Setelah mengalami pengalaman akan Allah sebagai Bapa ini mataku terbuka lebar. Ternyata Gereja memiliki harta karun yang luar biasa yang berupa teologi, spiritualitas dan tradisi yang memungkinkan keadilan sosial terjadi secara damai. Jalan ke Tanah Terjanji pun dengan gamblang penulis lihat.

Kasih terbesar seorang ayah kepada anaknya bukan ketika sang ayah mewariskan kekayaan yang berlimpah ruah kepada anaknya tetapi ketika sang ayah memperkenalkan kepada anak akan Bapa Surgawi yakni Allah sendiri. Dengan menjadi ahli waris Kerajaan Sorga, sang anak tidak bisa dan tidak boleh menuntut bapa duniawinya karena tidak mewariskan kekayaan kepada anaknya meskipun kekayaan orangtuanya berlimpah ruah. Kasih terbesar kedua seorang ayah tentunya seperti yang telah kita kenal selama ini yakni merawat sang anak dari sejak janin sampai dewasa mandiri.

Komunisme adalah sebuah kebodohan yang pernah dialami manusia. Sama rasa sama ratanya komunisme adalah sesuatu yang tidak mungkin terwujud karena di situ mengandung arti mengangkat yang satu tetapi menjatuhkan yang lain. Apalagi menjatuhkannya dengan kekerasan. Padahal yang ditawarkan Mesias jelas yaitu mengangkat atau menganggap semuanya menjadi anak-anak Tuhan sehingga roda keadilan yang dalam istilah Jawa disebut herucakra bisa berputar. Selama ini roda keadilan berhenti berputar atau kalau berputar tidak signifikan karena orang tidak mengalmi kasih Allah sebagai Bapa bagi semua orang.

Akan halnya yang terjadi pada Gereja Perdana adalah benar dari sudut pandang sorgawi tetapi kurang tepat dari sudut pandang duniawi. Penulis bukanlah ahli sejarah tetapi dari analisis logika saja kemungkinan pengembalian kekayaan pada waktu itu tidak mempertimbangkan fase mana dalam siklus hidup seseorang. Di samping itu sasaran tindakan karitatifnya tidak tepat sehingga menimbulkan distorsi, kemalasan atau ketidakadilan baru. Sampai-sampai seorang santo seperti St Paulus menggunakan dalil alam untuk kotbah rohaninya, siapa yang tidak bekerja tida usah makan. Tetapi kejadian itu tidak perlu disesali karena hal itu justru menunjukkan bahwa umat Gereja Perdana sedang mengalami euforia yang berlebihan sehingga beramai-ramai menjual hartanya untuk dibagi-dibagikan. Suatu euforia karena penebusan, dan hal itu wajar bahkan suatu hal yang bagus.

Mengembalikan talenta dan pengembangannya pada akhir hidup seseorang pada saat anak-anaknya sudah mandiri bukan berarti mengabaikan nilai-nilai pengorbanan atau menggunakan harta tersebut untuk berfoya-foya. Ini hanyalah cara agar tindakan karitatif tidak terdistorsi. Hal itu adalah suatu bentuk penghormatan kepada Tuhan Sang Pemilik talenta. Pengorbanan dan Penghormatan kepada Tuhan Sang Pemilik Talenta adalah dua hal yang berbeda namun keduanya mestinya menjadi bintang pedoman bagi awam (non rohaniwan/rohaniwati) yang notabene boleh mengumpulkan kekayaan.
Dalam hidup biarawan keduanya menyatu sehingga tidak kelihatan sebagai dua hal yang terpisah. Memanghapuskan hak milik seperti dalam komunisme tidaklah mungkin. Yang masih mungkin adalah sebagian orang terpanggil untuk hidup tanpa kekayaan seperti kesaksian hidup para biarawan dalam tradisi Katolik. Dan yang lain mendaur ulang kekayaan pribadinya pada akhir hidupnya, namun demikian tetap harus dihargai mereka yang mendermakan hartanya di tengah fase hidupnya bukan di akhir hidupnya. Mendermakan harta di tengah fase hidup seseorang menunjukkan besarnya pengorbanan orang tersebut. Dan dari segi rohani atau sorgawi tindakan ini sangat dihargai.

Apa yang penulis lihat setelah pengalaman rohani akan Allah sebagai Bapa ini adalah bahwa manusia hanya mungkin dibebaskan dari kemiskinan kalau ditebus dan dianggap atau diangkat menjadi anak-anak Allah. Penebusan inilah yang tidak penulis lihat dari teologi pembebasan sehingga arahnya tidak jelas.

Sebelum sharing ini diakhiri penulis perlu kemukakan bahwa penulis bukanlah mesias, bukan nabi, bukan rohaniwan, bukan pemimpin agama, bukan pemimpin politik dan juga tidak akan pernah menjadi salah satu di antaranya. Penulis hanyalah salah satu dari jutaan orang yang terpanggil untuk hidup sebagai atlet (kastria) seperti yang telah dipaparkan dalam buku ini.

Jakarta, akhir Desember 2001

Demikian waktu itu saya tulis, sebelum saya merumuskan teori biosoioekonomi. Bagi yang memahami biososioekonomi penjelasan mengenai daur ulang kekayaan dalam postingan ini terlalu sederhana. Baik daur ulang kekayaan pribadi maupun derma perlu dikelola dengan memperhatikan prinsip-prinsip biososioekonomi dimana income publik tersebut tidak hanya dialokasikan pada sektor riil tetapi juga moneter, tidak terdistribusi sesaat tetapi memperhatikan decomposition time sehingga aset publik tidak merosot di bawah liabilitasnya tetapi sama dengan liabilitasnya. Namun demikian saya rasa postingan sederhana dalam bahasa sederhana ini tetap bermanfaat bagi mereka yang kurang memahami ekonomi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar