Jumat, 03 Desember 2010

Injil dan Kontra Injil

Postingan ini adalah salah satu dari 17 tulisan yang terkumpul dalam naskah "Suara Alam: Menemukan Jalan ke Tanah Terjanji Menuju Kapitalisme Tanpa Darwinisme." Ciri tulisan-tulisan dalam naskah tersebut adalah sederhana sehingga seharusnya mudah dipahami semua orang. Berikut saya tulis kembali dengan sedikit perbaikan kata atau kalimat tanpa mengubah isi.

Ini bukan reduksionisme makna Injil, karena di dalam seluruh buku ini yang dipaparkan adalah aspek duniawi dari Mesias yang membawa kemakmuran dan keadilan sosial di dunia. Injil yang berarti kabar gembira selayaknya menjadi kabar gembira bagi semua orang tanpa memandang batas-batas atau sekat-sekat agama, etnis, budaya, gender, status sosial dll Mewartakan Injil berarti mewartakan kabar gembira dan bukan berarti meng-Kristenkan seseorang. Dalam konteks keadilan sosial yang duniawi ini isi dari warta gembira yang pantas diketahui adalah kesediaan Tuhan menjadi Bapa bagi semua orang. Tentu saja menjadi Bapa di sini bukan berarti biologis tetapi dalam arti rohani dan psikologis.

Selama berabad-abad sebelum Mesias lahir sampai hari ini bahkan, tidak jarang seseorang melakukan dominasi dan pembedaan berdasarkan keturunan berdarah biru atau bukan. Ini dijadikan dasar oleh seseorang untuk berkuasa penuh atas yang lain sebagai raja. Raja-raja mengaku anak yang maha agung dari langit atau minimal mengaku membawa wahyu atau kuasa dari langit sementara rakyat diposisikan sebagai anak-anak singkong. Semua ini dilakukan untuk mempertahankan status quo seseorang beserta anak keturunannya. Seperti yang kita lihat contohnya dalam film "Mahabarata" yang pernah diputar di TPI kurang lebih sepuluh tahun yang lalu. Di situ terlihat bagaimana Pandawa membombardir Karna dengan sebutan anak kusir sampai terjadinya perang Baratayudha. Ini merupakan psy war bagi Karna. Tetapi setelah Karna tahu bahwa ia anak matahari maka segala macam serangan psikis itu tidak mempan.

Maka sebenarnya sebutan orang lemah dan miskin yang sering digunakan orang atau para ahli sudah tidak memadai lagi karena hak itu hanya akan membuat masyarakat tersebut tidak berdaya. Orang miskin dan orang yang jatuh miskin memang membutuhkan uang dan makanan tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah spirit agar orang tersebut bisa bangkit menolong dirinya sendiri. Adalah sesuatu yang menggembirakan apabila Tuhan ternyata Tuhan mau menyediakan diri menjadi Bapa bagi semua orang. Seseorang tidak harus dilahirkan sebagai anak matahari seperti Karna, karena Tuhan memang telah mengkaruniakan diri-Nya menjadi Bapa bagi semua orang tanpa terkecuali. Inilah spirit bagi orang-orang yang sedang susah tersebut untuk bangkit. Inilah Injil. Kata Bapa jauh lebih dekat dan membumi dari pada kata Tuhan. Dengan demikian Tuhan telah mengisi ruang kosong antara bapa dan Tuhan yang kalau tidak ditempati Tuhan akan akan ditempati oleh bapa-bapa yang arogan dan eksklusif dan sering bertindak adigang adigung adiguna.

Tetapi kalau ada orang mengetahui atau memahami isi kabar gembira ini tetapi kepada orang lain atau anak orang lain mengajarkan bahwa ia anak singkong dan memperlakukan anak orang lain seperti itu sementara dia mengajarkan kepada anaknya sendiri secara diam-diam sebagai anak Tuhan maka inilah kontra Injil.

Jakarta, Akhir Desember 2001

Demikian tulisan saya waktu itu dengan kelebihan dan kekurangannya. Semoga Tuhan menjadi sumber kekuatan bagi semua orang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar