Rabu, 02 Maret 2011

Indikasi Ketidakmampuan Membayar Laba dan Gaji


Suatu sistem yang dirancang dengan baik dengan bantuan matematika seharusnya bisa bekerja dengan baik karena telah diperhitungkan dengan matang kemampuannya untuk menanggung suatu beban tertentu. Sebuah jembatan atau jalan layang dirancang sedemikian rupa dengan suatu perhitungan memadai agar nantinya mampu menahan beban kendaraan yang melewatinya. Apabila suatu sistem tidak mampu menanggung beban, pasti ada yang salah dengan rancangannya.

Mungkin inilah yang terjadi dengan sistem ekonomi yang sedang berjalan. Adanya pengangguran mengindikasikan bahwa sistem tidak mampu membayar gaji. Memang, yang membayar gaji adalah institusi yang mempekerjakan pegawai yang bisa instansi pemerintah, perusahaan, atau yayasan. Akan tetapi secara makro dapat dikatakan bahwa adanya pengangguran mengindikasikan bahwa sistem ekonomi yang sedang berjalan tidak mampu membayar gaji.

Jatuhnya laba tidak hanya diramalkan Karl Marx, biososioekonomi juga memprediksinya dengan menggunakan model dan bantuan Hukum II Termodinamika yang biasa dipakai di dalam Ilmu Fisika. Agak berbeda dengan Marx yang ramalannya ditujukan pada perusahaan besar atau investasi besar, menurut biososioekonomi jatuhnya laba bisa juga menimpa sektor informal di mana pelaku usahanya adalah individu-individu yang kebanyakan rakyat kecil. Meluasnya pengangguran membuat banyak orang menerjuni sektor informal atau bahkan suatu pekerjaan yang termasuk kategori sub sisten. Ini berarti meningkatnya investasi di sektor itu. Meningkatnya investasi seperti itu bisa membuat laba jatuh.

Banyaknya orang yang pendapatannya di bawah nilai KHL (kebutuhan hidup layak) mengindikasikan bahwa sistem ekonomi yang sedang berjalan tidak mampu membayar laba. Secara makro memang yang membayar laba adalah sistem meskipun secara mikro bisa dikatakan yang membayar laba adalah konsumen. Seorang pegawai bisa dianggap usahawan yang memperoleh laba kalau gajinya di atas KHL.

Sistem biososioekonomi dirancang sedemikian rupa agar mampu menanggung beban atau kewajibannya yang berupa laba, gaji, bunga, dan jaminan sosial (pendidikan, kesehatan, dan food stamps atau ketahanan pangan). Kemampuan ini diperoleh dengan membuat aset publik (makro) sama dengan liabilitasnya. Biosoosioekonomi tidak menuntut penghapusan hak milik pribadi tetapi menuntut agar jumlah aset pribadi (yang secara makro disebut liabilitas) sama dengan aset makro (publik). Dengan kondisi seperti itu sistem ekonomi secara makro akan sanggup membayar kewajibannya dengan catatan pertumbuhan penduduk nol persen.

Pesan sederhana yang ingin disampaikan dalam postingan ini adalah bahwa kalau pendekatan deduktif-matetamik bisa mencegah jatuhnya korban krisis ekonomi (krisis kemampuan sistem membayar kewajibannya) kenapa pendekatan deduktif-matematik tidak diterima? Apakah harus menunggu data empiris jatuhnya korban krisis ekonomi? Pendekatan induktif-empiris akan memakan korban.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar