Sabtu, 29 November 2008

Dari Pesta Blogger 2008: Harus Diakui Media Blog Lebih Demokratis

Sabtu 22 November 2008 saya mengikuti Pesta Blogger 2008. Saya mendaftar langsung pada hari H sehingga blog saya ini tidak ditampilkan di situs Pesta Blogger 2008. Tak ada wartawan konvensional yang tahu. Yang tahu adalah wartawan pribadi atau blogger. Pagi itu saya bertemu teman sekantor yang sesama blogger, hanya saja teman saya itu tidak tahu nama blog saya karena saya belum menginformasikannya.

Peserta Pesta Blogger kali ini lebih dari 1.000 orang blogger, ada beberapa yang belum mempunyai blog. Tidak semuanya berasal dari Jakarta, bahkan banyak yang berasal dari luar Jakarta seperti Bali, Kalimantan, Palembang, Sulawesi, Yogyakarta, dll. Pejabat pemerintah yang hadir mengatakannya sebagai ajang pertemuan kaum muda ala Sumpah Pemuda. Pesta ini memang direncanakan Oktober 2008 tetapi sempat tertunda sebulan.

Beraneka ragam pemilik blog yang hadir. Tidak hanya blog politik, banyak blog yang non politik seperti blog traveling (wisata), blog gaul, bisnis, dll. Tidak sedikit yang menganggap aktifitas blogging sebagai just for fun.

Pada saat istirahat makan siang saya mengunjungi stand Oxfam yang tampil dalam rangka perayaan 50 tahun kehadirannya di Indonesia. Oxfam adalah LSM asal Inggris yang bergerak dalam pendampingan orang miskin. Saya mendapat pin "Be The Change Campaign" dengan slogannya "Stop Harming, Start Helping" dari petugas Oxfam Dian Kartikasari, yang langsung saya pakai di baju saya. Senang sekali saya memakainya. Bahkan ketika saya memulai aktifitas saya di kantor dua hari kemudian, pin itu masih saya pakai. Menurut saya, sekecil apa pun tindakan kita selama itu masih bisa kita lakukan untuk membantu mereka yang lapar dan miskin, mengapa tidak kita lakukan. Meskipun saya punya paradigma dan agenda sendiri dalam pengentasan kemiskinan. Apa yang dilakukan Oxfam dan kebanyakan LSM lain umumnya bergerak pada tataran mikro, sementara yang saya lakukan dengan teori biososioekonomi adalah pada tataran makro. Baik mikro maupun makro kedua-duanya harus dilakukan dalam pengentasan kemiskinan.

Selesai jam istirahat makan siang saya langsung brgabung dengan sesi sosial politik yang dimoderatori Martin Manurung pemilik blog (web) www.martinmanurung.com. Hadir dua orang blogger luar negeri yakni Mr. Brown (Singapura) dan Mr. Jeff Ooi (Malaysia). Jeff Ooi adalah seorang politisi yang sebelumnya seorang blogger. Menurutnya blog merupakan sarana yang baik untuk mengkritik opini arus utama atau propaganda resmi 9pemerintah).

Banyak yang bisa saya dapatkan dari Pesta Blogger 2008 itu. Dalam beberapa hari kemudian saya merenungkannya. Saya agak menyesal juga mengapa baru sekarang nge-blog bukan beberapa tahun lalu. Kalau saya nge-blog beberapa tahun lalu, tulisan saya mengenai demokrasi ekonomi dan biososioekonomi sudah bisa diakses oleh semua orang dari seluruh dunia. Mengapa harus tergantung pada media konvensional yang nyata-nyata tidak demokratis dan sangat tidak interaktif?

Perbedaan antara media blog dan media konvensional adalah bahwa blog adalah media yang editor less atau bahkan "no editor." Pengunjung blog bisa berperan sebagai editor dalam pengertian menyaring sendiri informasi yang dianggap kredibel dari blog dan berhak menyampaikan komentar yang konstruktif. Sementara para blogger bisa menampilkan gagasannya secara lebih orisinil. Interaksi dengan pembaca blog lebih setara dibandingkan interaksi dalam media konvensional yang sangat otoriter (media cetak) dan semi otoriter (media televisi).

Dalam hal ini Pak De saya telah memberikan pelajaran yang berharga ketika saya dulu tinggal bersamanya di masa remaja saya dari SMP sampai lulus S1 UGM. Pak De saya (RY Marjuki) menasihatkan kalau bisa berlangganan lebih dari satu media cetak dan harus membaca lebih dari satu. Sebagai wartawan konvensional beliau tahu apa akibatnya kalau seseorang hanya dijejali informasi dari satu media cetak selama bertahun-tahun hidupnya.

Tidak semua orang mampu berlangganan lebih dari satu media cetak dalam kurun waktu bersamaan. Seorang yang setiap hari mengunjungi perpustakaan yang lengkap atau menginap di hotel berbintang, bisa membaca lebih dari satu media cetak setiap hari. Tetapi tidak semua orang bisa seperti itu. Dengan adanya media internet dan blog seseorang bisa mengunjungi dan membaca lebih dari satu koran dan blog setiap harinya dengan biaya yang relatif lebih murah. Sebagai contoh melalui ponsel black berry dan operator XL kita bisa membaca lebih dari satu koran dan blog sepuasnya setiap hari hanya dengan biaya Rp 5.000 per hari. Yang tidak memiliki ponsel black berry pun tetap bisa mengakses lebih banyak sumber. Betapa demokratisnya dunia maya dan blog. Otak kita tidak lagi dijejali oleh satu surat kabar saja selama bertahun-tahun.

Memang tidak semua informasi dari blog kredibel. Akan tetapi sebagai blogger maupun pengunjung blog siapapun juga punya tanggung jawab untuk menjernihkan yang keruh, meluruskan yang bengkok, mendinginkan yang memanas, merelaksasikan yang menegang, dan (seperti Pak Besut) merapikan/menghaluskan yang kusut. Kita yang sudah dewasa dan memiliki kombinasi IQ dan EQ yang memadai pasti sanggup mengemban tanggung jawab seperti ini.

Apakah Anda masih mau meracuni otak Anda dengan hanya mengkonsumsi satu surat kabar saja setiap hari? Saya tidak. Kalau Anda masih muda tetapi hanya mengkonsumsi satu surat kabar setiap hari itu jadul namanya alias seperti jaman dulu, jaman kakek atau Oom-oom kita. Kita sendiri yang bisa mendemokrasikan otak kita dengan membaca dari berbagai sumber.




Minggu, 16 November 2008

Catatan atas Fenomena Obama: Pergantian Presiden Saja Tidak Cukup

Obama adalah sebuah fenomena. Sebuah fenomena spektakuler. Ia adalah Presiden pertama AS yang berlatar belakang kulit berwarna. Partisipasi warga AS dalam pilpres 2008 ini juga sangat besar. Berbagai pihak menyebut kemenangan Obama itu sebagai kemenangan demokrasi. Besarnya partisipasi warga negara AS mengikuti pilpres 2008 juga menunjukkan tanda besarnya harapan warga AS akan perubahan ke arah yang lebih baik, lebih sejahtera.

Di luar AS kemenangan Obama juga disambut hangat, sebagai suatu titik tolak akan adanya perubahan ke arah yang lebih baik. Sementara itu George W Bush_seperti dikutip oleh media massa_ menunjukkan sikap defensifnya dengan sistem kapitalisme. Bahkan Bush juga mendesak agar pertemuan G-20 itu fokus pada peningkatan pertumbuhan ekonomi bukan penghakiman terhadap regulasi AS yang tidak memadai (Kompas, 15 November 2008, hlm 10:"UE Kini Berharap pada Obama").

Penggantian Presiden memang salah satu langkah untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Namun apakah hal itu cukup memadai untuk membawa seluruh dunia ke arah yang lebih adil dan sejahtera. Perlu diingat bahwa Presiden Obama dipilih oleh warga negara AS untuk kesejahteraan dalam negeri mereka. Perannya dalam tata ekonomi global yang lebih adil- sejahtera bukannya tidak ada, tetapi perlu suatu paradigma baru yang perlu diketahui dan dipahami baik oleh pemerintah (termasuk Presiden Obama) maupun civil society agar perubahan ke arah yang lebih adil dan sejahtera bisa terwujud. Untuk itulah catatan ini disajikan.

Dalam tulisannya "Menelanjangi Liberalisme" (Kompas, 13 Oktober 2008), Ahmad Erani Yustika mengatakan:"Menjadi Jelas, gagasan liberalisme dianut banyak pemikir bukan karena kedigdayaan bangun teorinya, tetapi karena rapuhnya tiang ide sosialisme. Jadi, yang dibutuhkan saat ini adalah kontestasi pemikiran genial yang tidak diikat fanatisme dua fundamentalis ideologi ekonomi itu." Menurut saya kritik terhadap kapitalisme (neoliberalisme) bukan berarti kita menerima ekstrim lainnya (komunisme). Ada jalan tengah yang kongkrit, meskipun belum menjadi arus utama. Tudingan Bush bahwa kritik terhadap kapitalisme berarti isolasi ekonomi(Kompas, 31 Oktober 2008, hlm 44) tidak benar. Ada jalan tengah atau jalan ketiga yang jelas nyata bedanya tanpa harus membenci kapitalisme, tetapi juga tidak menolak redistribusi aset individu.

Keboborokan atau kebusukan paradigma neoliberal perlu ditelanjangi tuntas agar semua pihak mengetahui duduk perkaranya. Khusus dalam blog saya ini, saya membahas dua kebobrokan paradigma neoliberal yaitu: peningkatan harga saham dan ideologi pertumbuhan PDB.

Menelanjangi Paradigma (Neoliberal) Harga Saham

Dalam sistem ekonomi liberal, pelaku ekonomi baik individu atau institusi bebas membeli atau menjual saham perusahaan yang sudah go publik. Saham-saham itu dibeli sebagai instrumen investasi. Tidak hanya institusi atau orang kaya saja yang membeli saham, individu (rumah tangga) menengah juga menyisihkan pendapatannya untuk dibelikan saham. Pembeli saham mengharapkan kenaikan harga saham atau (dan) deviden yang dibagikan perusahaan yang sahamnya dibeli.

Dalam beberapa kasus kenaikan harga saham tertentu adalah wajar dan mungkin berkaitan dengan fundamental ekonomi perusahaan dan peningkatan laba perusahaan itu. Laba suatu perusahaan bisa meningkat karena pasarnya meningkat. Sebagai contoh laba perusahaan operator telepon seluler meningkat karena pasarnya meningkat.Tetapi pada saat bersamaan terjadi penurunan pasar radio panggil (pager) dan usaha percetakan kartu ucapan. Dengan adanya layanan SMS dari operator telepon seluler maka sebuah pesan tertulis atau ucapan ulang tahun atau ucapan selamat hari raya lebih mudah dan murah dikirimkan. Peningkatan laba perusahaan karena dinamika pasar (dan teknologi) seperti itu adalah wajar. Wajar juga kalau saham perusahaanseeprti itumeningkat.

Yang tidak wajar adalah peningkatan harga saham total, tercermin dengan peningkatan indeks harga saham total (gabungan). Hal itu tidak selalu berkaitan dengan fundamental perusahaan atau membaiknya ekonomi secara keseluruhan. Peningkatan harga saham total itu boleh jadi karena arus investasi yang masuk ke bursa saham memang membesar, tidak terkait fundamental ekonomi perusahaan. Investor pertama menjual sahamnya kepada investor kedua yang harga sahamnya sudah meningkat. Investor kedua menjual sahamya kepada investor ketiga yang harganya lebih tinggi dari pada harga saham yang dibeli oleh investor kedua itu, demikian seterusnya sehingga terjadi penggelembungan harga (bubble). Apabila gelembung itu pecah akan memakan korban yang tidak hanya investor, tetapi juga perusahaan investasi seperti Lehman Brothers.

Ekonomi jalan tengah atau jalan ketiga yang saya tawarkan tidak anti peningkatan kekayaan seseorang. Tetapi penggelembungan harga saham seperti itu mestinya harus dihindari. Seseorang yang nilai aset bersihnya Rp 2,5 Milyar, kekayaannya ini bisa meningkat bukan karena peningkatan harga saham yang dimilikinya tetapi karena mendapat deviden (dan pendapatan lain) sehingga setahun kemudian nilai aset bersihnya menjadi Rp 2,95 Milyar. Peningkatan harga saham total bukan indikator perbaikan ekonomi tetapi tanda awal datangnya bencana finansial.

Dalam buku saya Herucakra Society Jalan Ketiga Ekonomi Dunia (2004) saya sudah memperingatkan (hlm 60):"Metode analisis Marx mengenai siklus bisnis dan kejatuhan tingkat keuntungan penulis perbarui dengan menggunakan Hukum II Termodinamika sebagaimana dipaparkan dalam bab "Bioekonomi". Marx hanya menerapkannya pada sektor riil (manufaktur), sedang metode penulis bisa diterapkan untuk sektor keuangan (pasar uang, valas, dan saham) serta properti. Ramalan Marx tentang kejatuhan kapitalisme sebenarnya terlalu ambisius. Menurut Hukum II termodinamika, yang terjadi bukan kejatuhan kapitalisme tetapi suatu kondisi yang disebut chaos. Ekonomi tidak bisa diprediksi, siapa atau investasi mana yang akan mengalami keuntungan atau kerugian juga tidak bisa diprediksi, bahkan terjadi zero sum condition, yakni keuntungn yang satu diperoleh karena kerugian pihak lain. Kemudian alam akan mengoreksinya dengan depresi besar atau resesi berkepanjangan".


Pertumbuhan PDB=Beban!

Keboborkan lain paradigma neoliberal adalah ideologi pertumbuhan PDB. Bagi masyarakat awam sering terjadi persepsi rancu antara PDB (produk domestik bruto) dengan pertumbuhan PDB. Dalam komunikasi publik pertumbuhan PDB diistilahkan sebagai pertumbuhan ekonomi.
Istilah ini sebenarnya tidak tepat karena tidak menggambarkan kondisi ekonomi publik kerakyatan yang riil.

PDB adalah total nilai produksi jasa dan barang akhir di suatu negara selama satu tahun. Hal ini menggambarkan penjumlahan pendapatan individual anggota masyarakat selama satu tahun yang berupa gaji pegawai, laba perusahaan perorangan, laba PT, dan pendapatan bunga serta sewa.

Pendapatan individual anggota masyarakat tentu sangat bervariasi dari yang pendapatannya kurang atau pas-pasan untuk mencukupi kebutuhan fisik minimalnya sampai yang pendapatannya ratusan kali atau ribuan kali melampaui itu, sehingga kelebihannya bisa ditabung atau diinvestasikan ke tempat lain.

Pertumbuhan PDB atau yang diistilahkan sebagai pertumbuhan ekonomi memang berarti peningkatan pendapatan anggota masyarakat secara keseluruhan. Hal itu hanyalah gambaran total. Bahwa ada anggota masyarakat pendapatannnya tidak meningkat tidak bisa dideteksi dengan ukuran pertumbuhan PDB.

Meskipun pertumbuhan PDB adalah 0% maka tetap saja ada anggota masyrakat yang asetnya meningkat yaitu mereka yang pendapatannya melampaui kebutuhan fisik minimal. Pertumbuhan PDB 0% bukan berarti tidak ada pendapatan atau laba yang dibukukan. Pertumbuhan PDB 0% hanya berarti tidak ada peningkatan pendapatan total.

Apabila pertumbuhan populasi penduduk adalah 0% (seharusnya memang dikendalikan tidak lebih dari 0% per tahun) maka sebenarnya tidak diperlukan pertumbuhan PDB bila tingkat PDB-nya sudah cukup tinggi. Ada produksi, pasti harus ada konsumsi, mau dikemanakan produksi itu? Mau diekspor ke luar planet bumi?

Pertumbuhan PDB juga memerlukan penyediaan energi yang cukup. Sumber energi fosil terbatas. Energi nabati akan berebut lahan dengan tanaman pangan yang merupakan kebutuhan semua orang termasuk rakyat kebanyakan yang daya belinya terbatas. Belum lagi gas-gas rumah kaca yang dilepaskan juga meningkat dengan peningkatan PDB. Negara dengan tingkat PDB yang tinggi seperti AS juga penyumbang gas-gas rumah kaca yang besar pula. Hal itu akan meningkatkan pemanasan global yang bisa menjadi bencana. Sama seperti pertumbuhan populasi penduduk, pertumbuhan PDB adalah beban bagi alam.

Dari sudut pandang ekonomi publik, ideologi pertumbuhan PDB juga menohok logika akuntansi yang sehat. Seorang mahasiswa S1 Ekonomi yang baru belajar Ekonomi Makro pun sudah tahu bahwa deposito anggota masyarakat adalah liabilitas bagi bank sentral. Apa yang menjadi liabilitas bagi bank sentral adalah liabilitas bagi publik, karena sistem ekonomi publik harus membayar bunga bagi deposito itu. Menggenjot PDB setinggi mungkin sama dengan menggenjot liabilitas publik. Hal-hal yang sederhana seperti ini seharusnya dipahami dan diketahui oleh pemangku kepentingan publik (baca:pejabat pemerintah) yang notabene titelnya doktor.

Memang, pertumbuhan PDB 0% atau rendah dalam jangka panjang bisa mengancam industri perbankan. Kondisi itu berarti penurunan kredit investasi yang disalurkan perbankan. Perbankan harus menggenjot habis-habisan kredit konsumsi dan harus melakukan merger untuk meningkatkan skala ekonominya supaya besaran laba nominalnya bisa dipertahankan meskipun mungkin persentsenya menurun. Kondisi seperti itu juga tidak menutup kemungkinan ambruknya perbankan. Dalam perekonomian yang mengaplikasikan teori ekonomi konvensional (baik neoliberal maupun keynesian), pertumbuhan PDB 0% atau rendah dalam jangka panjang adalah ancaman bagi industri perbankan. Tetapi solusinya tentu bukan dengan menggenjot PDB setinggi-tingginya. Untuk itu semua pihak harus terbuka terhadap suatu paradigma baru atau grand theory baru yang merupakan teori ekonomi jalan tengah atau jalan ketiga.

Mengganti Grand Theory

Dalam paradigma nonkonvensional pertumbuhan PDB 0% tidak akan mengancam industri perbankan selama pertumbuhan populasi penduduk maksimum 0%. Dalam paradigma konvensional (neoliberal ataupun keynesian) pertumbuhan PDB 0% mengancam industri perbankan karena liabilitas publik jauh lebih besar dari aset publik (government+society). PDB adalah ukuran pendapatan individual anggota masyarkat dalam satu tahun. Akumulasi dari kelebihan pendapatan individual sebagian anggota masyarakat menumpuk menjadi aset individual aggota masyarakat. Aset pribadi ini adalah beban (liabilitas) bagi perekonmian publik. Seseorang yang pernah belajar akuntansi mestinya tahu logika semacam ini.

Jumlah aset publik (government+society) bisa ditingkatkan dengan melakukan tiga hal berikut ini sebagaimana telah saya kemukakan dalam buku saya Herucakra Society jalan Ketiga Ekonomi Dunia (hlm11, tabel1). Ketiga hal tersebut adalah meningkatkan pajak individu, derma pribadi, dan memulai kebiasaan baru untuk mendaur ulang kekayaan pribadi berlimpah atau tidak mewariskan kekayaan berlimpah pada keturunan pemilik kekayan sendiri. Inilah paradigma ekonomi jalan tengah atau jalan ketiga itu..

Paradigma ekonomi jalan ketiga ini berbeda dengan apa yang diusulkan Ahmad Erani Yustika mengenai pajak progresif (Kompas, 11 November 2008). Dalam tulisannya yang berjdul "Obama dan Tata Ekonomi" Yustika mengatakan perlunya pajak progresif untuk warga yang lebih kaya (pendapatan di atas 250.000 dollar AS). Memeratakan pendapatan memang bisa meningkatkan permintaan total (agregate demand) sesuai pandangan keynesian. Akan tetapi paradigma semacam itu akan mengekalkan pandangan neoliberalistik bahwa laba (pendapatan) setelah dipotong pajak dan derma adalah pengembalian yang sah atas modal (bakat/keahlian).

Ujung-ujungnya akumulasi laba (pendapatan) yang menumpuk dalam aset pribadi berlimpah selama bertahun-tahun, berpuluh-puluh tahun, dan diwariskan kepada anak cucu dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan sah, tidak dianggap sebagai beban bagi perkonomian publik kerakyatan. Paradigma yang hanya mengkaitkan nisbah pajak dengan PDB jelas salah kaprah, karena PDB hanyalah pendapatan individual tahunan. Yang diperlukan adalah redistribusi aset individu sebagaimana saya usulkan dalam buku saya Herucakra Society Jalan Ketiga Ekonomi Dunia (2004) melalui daur ulang kekayaan pribadi dalam teori biososioekonomi.

Meskipun masih bersifat embrional, teori biososioekonomi sebagai teori ekonomi jalan tengah memiliki metode berpikir dan kerangka berpikir yang jelas. Ukuran-ukurannya jelas dan accountable. Apa yang disebut aset dan libilitas oleh masyarakat (publik) juga jelas. Tabel yang menggambarkan neraca herucakra society itu dimuat dalam tulisan saya "Bioekonomi, Ekonomi Masyarkat, dan Kependudukan" yang ditampilkan oleh situs Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM yang bisa dikunjungi oleh orang dari seluruh dunia. Ekonomi jalan tengah bukan lagi ekonomi yang tak jelas seperti dulu_bukan ini atau bukan itu_ tetapi suatu ekonomi yang jelas, kongkrit, dan tegas. Untuk mengganti teori ekonomi yang neoliberlaistik memang sedikit banyak tergantung pada kehendak dan kepentingan. Kepentingan privat atau partikular itulah yang masih menjadi arus utama.

Pr0f. Dr. Mubyarto (alm) dan saya termasuk orang-orang yang tidak percaya bahwa mengganti orang saja cukup. Yang pertama harus diganti adalah grand theory-nya bukan sekedar regulasi ini atau itu. Sementara orangnya mungkin memang perlu diganti, mungkin juga tidak tergantung berbagai pertimbangan. Dalam kasus pilpres AS 2008, penggantian presiden memang satu langkah yang diperlukan.

Kamis, 30 Oktober 2008

My Short Comment: Mengarusutamakan Gerakan Dunia Baru

"Dunia Butuh Gerakan Baru yang Cinta Damai dan Keadilan" demikian judul berita di media internet Kompas Mobile 30/10/2008 pkl 03:00 meringkas pernyataan Ketua Umum PP Muhammadiyah dalam Konferensi ke-4 AliansiStrategis Rusia-Dunia Islam yang dihadiri 300 tokoh dunia Islam dan Rusia. Gerakan dunia baru itu perlu membawa paradigma baru yang menekankan nilai keadilan, kesejahteraan, kedamaian, dan keadaban. Paradigma baru itu perlu bertumpu pada prinsip jalan tengah yaitu prinsip yg tidak terjebak pada ekstrimis baik radikal maupun liberal. Kita sambut baik Gerakan Dunia Baru, tetapi yang lebih penting adalah mengarusutamakan Gerakan Dunia Baru itu jangan sampai tenggelam oleh hiruk pikuk pemberitaan kekacauan pasar finansial maupun hiruk pikuk pemberitaan demokrasi politik. Gerakan Dunia Baru yang bertumpu pada jalan tengah yang damai itu sudah saya awali dengan terbitnya buku saya Herucakra Society Jalan Ketiga
Ekonomi Dunia Oktober 2004, dan seminar telah dilakukan pada tgl 2/11/2004 dalam seminar bulanan ke-22 yang diselenggarakan PUSTEP-UGM. Rekan-rekan dari Muhammadiyah juga berpartisipasi dalam seminar itu. Menurut buku saya akar ketidakadilan adalah pewarisan kekayaan berlimpah pada keturunan pemilik kekayaan. Mengenai hal ini seorang peserta seminar dari Muhammadiyah berkomentar: "Pewarisan kekayaan berlimpah ruah itu tempatnya neraka."Akhir-akhir ini saya sering menggunakan istilah triple six untuk menunjuk kekayaan berlimpah dari warisan. Citra triple six sangat seram akibat dari kotbah atau pengajaran yang disampaikan para klerus maupun pelayan firman baik dilingkungan Katolik maupun Protestan sehingga kaget kalau saya mengatakan bahwa triple six adalah kekayaan seorang raja di masa lalu yang diperoleh dari warisan yang besarnya 666 talenta emas seperti dicatat Kitab 1Raj10:14 maupun Kitab parelnya 2Taw 9:13.
Oleh karena itu, menurut saya,yang paling penting adalah mengarusutamakan Gerakan Dunia Baru itu.

Rabu, 29 Oktober 2008

My Short Comment: Keynes itu Jadul!

Pagi ini saya membaca tulisan di harian umun nasional(cetak)hlm 19 yg berjudul "Merenungkan Kembali Resep Keynes" yg ditulis oleh seorang profesor FE perguruan tinggi terkemuka. Inti persoalannya adalah bahwa milik individu jauh lebih besar dari milik publik (government+society). Suatu unit ekonomi (pemerintah atau apapun) berhutang karena pemasukan kurang. Akumulasi dari kurangnya pemasukan publik ini menyebabkan milik individu jauh lebih besar. PDB global hanya US $ 48 Triliun sementara dana perusak 10 kalinya (516T, lihat Kompas 28/02/2008 hlm8). Untuk meningkatkan pemasukan publik tidak bisa mengandalkan otoritas fiskal saja, itu jadul! Apalagi Keynes (sepanjang yang saya tahu) tidak membedakan antara perusahaan dan individu. Etos sosial perusahaan terbatas, sementara etos sosial individu tak terbatas.

Selasa, 28 Oktober 2008

Krisis Ekonomi: Perlu Kerjasama Pemerintah & Civil Society

Di tengah perayaan 80 tahun Sumpah Pemuda, rupiah melemah mendekati Rp 12.000 per dollar AS akibat sentimen negatif yaitu berita tumbangnya beberapa negara spt Pakistan, Turki, dan Islandia yang masuk IMF (Kompas Mobile 28/10/2008). Krisis global seharusnya bisa diantisipasi dan dicarikan solusinya yang mendasar. Kalau menggunakan cara berpikir akutansi, suatu unit ekonomi mengalami krisis karena pemasukannya kurang. Publik (=pemerintah dan society) sbg unit ekonomi mengalami krisis karena pemasukannya kurang. Dlm paradigma bioekonomi yg dimaksud pemasukan bagi pemerintah dan society bukanlah pendapatan individu seperti PDB tetapi ada tiga komponen yaitu pajak, daur ulang aset pribadi, dan derma. Yang dimaksud aset daur ulang adl aset pribadi yg tidak diwariskan kepada keturunan tetapi dihibahkan kepada publik. Apabila ketiga hal ini kurang maka krisis tetap berpotensi muncul. Perlu solusi
global untuk itu. Disarankan agar pemerintah selain memakai cara-cara konvensional juga memakai cara berpikir bioekonomi. Pemerintah perlu bekerjasama dengan pusat-pusat pengaruh dalam civil society baik nasional maupun global agar anggota masyarakat terutama yg berkelimpahan harta dari warisan (kategori triple six) mau meningkatkan etos sosialnya secara drastis. Manusia tidak hanya homo economicus tetapi juga homo socius yang rela kehilangan peluang meraih laba atau bahkan rela berkurang hartanya demi menanggung krisis. Beban krisis jangan ditimpakan rakyat kecil. Sementara civil society perlu menyiapkan diri. Kebersamaan dalam keanekaragaman inilah yang seharusnya menjadi spirit perayaan Sumpah Pemuda, bukan semangat menghasilkan produk UU yg sektarian primordial.

Kamis, 23 Oktober 2008

Peringatan dan Pesan untuk Orang Jawa: Terhindar Kutukan, Memasuki Jaman Keemasan



From: Hani Putranto Hani Putranto
Subject: Peringatan dan Pesan untuk Orang Jawa: Terhindar Kutukan, Memasuki Jaman Keemasan

Date: Tuesday, July 8, 2008, 2:12 AM

Pengantar

Saya mengucapkan banyak terima kasih atas kebersamaannya mewujudkan jaman keemasan. Beruntung ada orang Jawa. Teori ekonomi baru rumusan saya, bioekonomi (biososioekonomi) bisa dipublikasikan. Bukan suatu kebetulan kalau orang-orang yang ikut mempublikasikan teori ekonmi saya adalah orang-orang Jawa. Petama adalah Penerbit Wedhatama Widya Sastra, Jakarta, yang pada Oktober 2004 menerbitkan buku saya Herucakra Society Jalan Ketiga Ekonomi Dunia yang di dalamnya memuat paparan teori bioekonomi. Kedua adalah Prof. Dr. Mubyarto (alm) yang memberi kesempatan pada saya untuk memaparkan teori saya dalam seminar bulanan ke-22 (2 Nopember 2004) di PUSTEP-UGM.

Bioekonomi adalah teori ekonomi (makro) jalan ketiga atau jalan tengah antara kapitalisme dan komunisme. Sistem ekonomi yang berlandaskan bioekonomi adalah sistem ekonomi yang pancasilais. Namun perjuangan untuk untuk mewujudkan atau mengaplikasikan bioekonomi tidaklah mudah. Setelah saya amati dan saya renungkan , hambatan utamanya adalah kepentingan individu atau kelompok. Hal ini terjadi karena bioekonomi adalah ekonomi publik-kerakyatan yang menentang pewarisan kekayaan berlimpah ruah pada keturunan pemilik kekayaan itu.

Kelelahan sering menghinggapi saya dalam memperjuangkan bioekonomi. Namun saya tidak gentar karena saya yakin TUHAN bersama saya. Terlebih-lebih saat ini ketika dunia mengalami krisis. Ada yang menyebutnya krisis Tiga-F (financial, fuel/energi, dan food/pangan). Namun saya lebih senang menyebutnya krisis ekonomi karena semua gejolak harga pangan dan energi berasal dari krisis ekonomi karena overinvestment. Dalam kondisi seperti ini seharusnya bioekonomi menjadi solusi bagi Indonesia dan dunia.

Dahulu , 21 Nopember 2003, sebelum terbitnya buku saya, dalam kelelahan saya memperjuangkan terbitnya buku pertama saya tersebut, saya menulis suatu surat keprihatinan.Kalau upaya manusia non kekerasan gagal mewujudkan sistem bioekonomi, maka TUHAN akan marah dan akan menjatuhkan kutukan atau tulah-Nya ke bumi.Kutukan atau hukuman TUHAN itu jatuh begitu saja tanpa perbuatan tangan manusia.

Kini empat setengah tahun kemudian, sudah banyak peristiwa terjadi. Ketika tulisan saya tentang bioekonomi dibuang (tidak dimuat) sering bencana terjadi. Gempa Yogya, misalnya, terjadi beberapa bulan setelah situs PUSTEP-UGM default. Situs itu memuat makalah yang saya sampaikan pada tanggal 2 Nopember 2004. Gempa itu juga terjadi setelah 2 bulan 13 hari saya mengirim artikel ke salah satu media di kota itu, dan ternyata tidak dimuat. Topan durian mengamuk di Filipina setelah seorang pastor Indonesia yang berada di Filipina tidak mempercayai peringatan saya. Dialog saya dengan pastor itu terekam di e-mail saya. Itu hanya beberapa contoh dari sekian banyak peristiwa.

Oleh karena itu melalui surat ini saya ingin menyampaikan pesan dan peringatan agar Anda apapun agama Anda, bisa terhindar dari kutukan/tulah TUHAN yang dijatuhkan-Nya ke bumi. Dan agar Anda bisa selamat memasuki jaman keemasan yang akan segera tiba. Peringatan ini disampaikan dengan niat dan rasa ngeman (sayang) agar banyak orang terhindar dari kutukan TUHAN. Kalau pesan ini saya tujukan pada orang Jawa bukan karena semangat eksklusif atau sikap nepotisme tetapi rasa terima kasih saya karena orang Jawa mau bersusah payah bersama saya mewujudkan jaman keemasan. Orang lain yang bukan Jawa boleh membaca pesan ini.

Peringatan dan Pesan

Setelah saya renungkan dan pikirkan masak-masak dengan berbagai pertimbangan akhirnya pesan ini saya tulis. Peralihan jaman menuju jaman keemasan akan segera tiba. Tanda-tandanya adalah kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat sebagaimana ditulis Kitab Suci. Gempa bumi memang sering dianggap peristiwa biasa. Akan tetapi ada enam gempa bumi yang istimewa karena terjadi pada tanggal istimewa selama 5 tahun terakhir di 4 negara. Gempa bumi itu adalah gempa Iran 26/12/03, tsunami Asia 26/12/04, gempa Nias 28/03/05, gempa Yogya -Klaten 27/05/06, gempa Taiwan 26/12/06, dan terbaru gempa Sichuan 12/05/08. Dengan adanya krisis Tiga-F maka kelaparan akan terjadi di mana-mana. Tidak semua orang yang berada di lokasi bencana pantas terkena hukuman. Banyak di antaranya terkena hanya karena tidak mujur. Tetapi harus diakui bahwa mereka yang berada di lokasi bencana memang menyrempet-nyrempet bahaya. Oleh karena itulah pesan ini ditulis, dengan rasa ngeman, agar banyak orang terhindar dari tulah TUHAN atau kemalangan.



Di dalam buku saya, saya sebutkan ada cara-cara atau upaya manusiawi non kekerasan agar bioekonomi terwujud (diaplikasikan) yaitu (I) kesadaran masing-masing individu (II) tekanan pemimpin agama pada umatnya masing-masing (III)norma atau etika sosial dan (IV)tekanan masyarakat konsumen. Namun apabila cara-cara non kekerasan sebagaimana saya ungkapkan dalam buku saya tersebut gagal, maka TUHAN akan marah dan menjatuhkan tulah atau kutukan ke bumi, sebagaimana saya tulis dalam surat keprihatinan saya tertanggal 21-11-2003.



Orang-orang yang akan terkena tulah atau kutukan adalah (A)mereka yang mewariskan atau menerima warisan kekayaan berlimpah ruah (B)pemimpin agama dari agama manapun yang tidak melarang pewarisan kekayaan berlimpah di antara umatnya (C)mereka yang menggunakan kekerasan dengan mengatasnamakan pemerintahan TUHAN (D)media yang tidak peduli bioekonomi (E)orang-orang yang mengkorup kekayaan daur ulang (dalam sistem bioekonomi) termasuk pejabat atau ilmuwan palsu/ilmuwan pelacur yang anti bioekonomi.


Mereka yang anti bioekonomi sudah pasti triple six (penindas dan kuasa kegelapan) kecuali orang tersebut tidak tahu apa itu bioekonomi. Apabila triple six (666) tidak bertobat maka TUHAN akan menghancurkannya dengan tulah (Sabda-Nya) sebagaimana ditulis oleh Kitab Suci. Kelima hal atau kategori orang yang membuat TUHAN marah sebagaimana saya sebut di atas bukanlah sesuatu yang baru karena telah ditulis Kitab Suci.



Agar Anda terhindar dari kutukan/tulah TUHAN dan terhindar dari kemalangan dan agar Anda bisa selamat masuk ke jaman keemasan maka lakukan hal-hal berikut ini dengan sepenuh hati, dengan suka cita, dan ketulusan. Ini bukan suatu tiket untuk masuk ke Surga. Tetapi sekedar agar terhindar dari tulah TUHAN atau kemalangan di hari H yang dahsyat. Tiga hal yang harus Anda lakukan adalah:

  1. Hindari kelima hal (dari A sampai dengan E) yang membuat TUHAN marah sebagaimana saya sebut di atas. Jangan melakukan kelima hal yang membuat TUHAN marah.
  2. Meskipun Anda tidak menerima kekayaan warisan berlimpah ruah, Anda perlu meningkatkan kedrmawanan atau etos sosial Anda termasuk membantu mereka yang tertimpa bencana.
  3. Selain itu perlu juga berdoa. Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya pada agama atau keyakinan Anda masing-masing dan yang telah Anda doakan setiap hari maka ucapkan (daraskan) doa yang akan saya tulis ini dengan sepenuh hati sebagai doa tambahan.Doa ini diinspirasikan TUHAN pada kaum raja, oleh karena itu doa pendek ini bersifat universal tidak tergantung agama atau dokrtrin surgawi yang Anda anut. Pertama kali doa ini diinspirasikan kepada Raja Daud yang hidup 3.000 tahun lalu dan dicatat dalam kitab Mazmur 118:25. Seorang raja yang dekat dengan TUHAN tahu kapan doa ini harus didoakan dan disebarluaskan kepada publik. Saat yang tepat adalah ketika sebuah Gerbang Emas telah terbuka dan ketika sebuah batu yang dipilih dan ditetapkan TUHAN dibuang oleh tukang-tukang bangunan.Namun batu yang dibuang itu menjadi batu sandungan dan menumbuk hancur banyak bangsa. Dengan dirumuskannya bioekonomi Gerbang Emas itu telah terbuka. Penjaga membukakan pintu bagi saya karena mereka mengenal saya. Namun bioekonomi itu juga dibuang oleh banyak orang.maka TUHAN mendatangkan hari H yang dahsyat itu yang tak terduga sebelumnya. Untuk itulah doa ini perlu diseberluaskan dan diucapkan. Doanya sangat pendek yaittu:"Ya TUHAN, berilah kiranya keselamatan! Ya TUHAN, berilah kiranya kemujuran!" Doa ini diucapkan minimal dua kali sehari, pagi setelah bangun tidur dan malam menjelang tidur. Juga diucapkan bila Anda berada pada situasi kritis di tengah badai, gempa atau musibah lain. Doa (hal ke-3) ini tidak ada artinya apa-apa kalau kita tidak melakukan dua hal pertama yaitu menghindari lima hal yang membuat TUHAN marah dan meningkatkan kedermawanan.

Meskipun akar krisis Tiga-F adalah kebiasaan mewariskan kekayaan berlimpah pada anak cucu, tetapi BUKAN berarti mereka harus dibunuh. Jangan melakukan kekerasan sebagaimana dilakukan dalam Revolusi Perancis. Orang-orang yang menggerakkan dan melakukan Revolusi Perancis adalah orang-orang yang tidak mengenal larangan TUHAN. Kita orang Timur. Kita percaya bahwa TUHAN memiliki kuasa untuk menjatuhkan tulah-Nya ke bumi. Hukuman TUHAN itu jatuh begitu saja tanpa perbuatan tangan manusia sebagai eksekutornya. Revolusi Perancis adalah contoh kegagalan peradaban Barat memahami sabda TUHAN.

Kiranya perlu juga diketahui bahwa dalam menghadapi situasi krisis saat ini TUHAN menghendaki kesabaran dan ketabahan (tawakal). Kusumo Lelono dalam bukunya Satrio Piningit (Gramedia Pustaka Utama, 1999, hlm 40-41) juga mengingatkan perlunya kesabaran dan tawakal:"Memang kasihan keadaan rakyat, seumpama mati separo tetapi nyatanya hidup, tetapi ada juga yang selalu tega menentukan mati hidupnya orang lain, yang demikian itu selalu disebut masa gelap. Lebih baik sabar dan tawakal memohon menetesnya anugerah kasih sayang Tuhan yang sebenarnya." Tidak ada satu alasan pun untuk melakukan kekerasan. Sabar dan tawakal. Hidup saya juga susah seperti Anda.
Penutup
Sikap eling lan waspada tetap aktual untuk dijalankan. Hari H yang dahsyat yang menjadi tanda peralihan jaman itu tidak terduga sebelumnya karena keputusan untuk menetapkan hari itu mutlak ada di tangan TUHAN. Memang, TUHAN akan mempertimbangkan dua hal. Pertama, peningkatan kesengsaraan rakyat akibat krisis Tiga-F. Kedua, toleransi yang diberikan TUHAN untuk bertobat. Semakin cepat peningkatan kesengsaraan rakyat, semakin pendek kesempatan yang diberikan TUHAN. Namun demikian hari H yang dahsyat itu tetap tidak bisa diramal.Kalau tidak ada pertobatan, pukulan TUHAN itu akan sangat dahsyat sehingga penduduk bumi berkurang drastis atau bahkan tinggal sedikit.

Berbahagialah orang yang menerima (mendengarkan pembacaan) pesan ini karena orang tersebut diibaratkan orang yang memperoleh undangan pesta perkawinan secara gratis (dari mempelai perempuan). Orang-orang yang memperoleh undangan ini adalah orang-orang yang memiliki kesempatan besar untuk terhindar tulah TUHAN dan kemalangan sehingga bisa memasuki tempat pesta perkawinan dimana hidangan yang bersumsum dan bergemuk telah disediakan. Mereka akan hidup dalam damai sejahtera dan dalam terang TUHAN di jaman keemasan. Dari tempat ini TUHAN berkenan menyingkap kain perkabungan bagi bangsa-bangsa sehingga mereka terbebas dari kelaparan dan kemiskinan. Mengikuti pesan ini berarti bersedia datang ke pesta perkawinan. "Marilah!"

Sebelum pesan dan peringatan ini saya tutup saya perlu menegaskan kembali bahwa, meskipun saya mempunyai hak atas takhta Mataram, saya mendukung sepenuhnya keberadaan NKRI dan menjadi bagian NKRI sebagai negara demokrasi modern yang berdasar hukum dan Pancasila yang menghargai keberagaman (Bhinneka Tunggal Ika) dan menjamin hak-hak asasi manusia. Wahyu keprabon dan Satrio Piningit itu tak ada kaitannya dengan jabatan Presiden RI. Oleh karena itu ikutilah pemilu dan pilpres sesuai dengan agenda dan konstitusi NKRI. Tidak perlu ada Negara atau Kerajaan Mataram. Pancasila dan NKRI sudah final.

Kalau Anda mempunyai perasaan dan keprihatinan seperti saya, agar banyak orang terhindar dari tulah TUHAN atau kemalangan, saya rasa Anda tidak keberatan untuk menyebarluaskan pesan dan peringatan ini maupun membacakannya bagi mereka yang kurang lancar memahami bahasa tulis. Saya tidak memaksa Anda untuk mempercayai atau menyebarluaskannya.

Orang Jawa adalah sahabat mempelai perempuan. Pertama-tama bukan karena wahyu keprabon atau pulung kesejahteraan dalam masyarakat Jawa disimbolkan oleh perawan atau karena mitologi Dewi Sri. Tetapi pertama-tama karena orang Jawa mau bersusahpayah bersama saya mempublikasikan teori ekonomi saya. Sahabat mempelai perempuan memang layak mendapat undangan pesta perkawinan ini.Namun undangan ini juga tersebar pada orang yang bukan Jawa, yang bukan sahabat mempelai perempuan maupun yang bukan sahabat Mempelai Laki-laki, untuk berjaga-jaga bila mereka yang masuk kategori sahabat tidak mau datang (tidak mau mengikuti pesan ini).

Demikian apa yang perlu saya sampaikan. Hal-hal benar yang ada dalam pesan ini adalah benar dan itu berasal dari TUHAN. Kalau ada kesalahan hal itu adalah kekhilafan saya sebagai manusia. Namun saya sudah berusaha sebaik mungkin agar tidak salah. Kalau ada pertanyaan bisa disampaikan dengan mengunjungi blog saya dengan URL adalah http://satriopiningitasli.blogspot.com

Ditulis dengan sesungguhnya dan dengan penuh tanggung jawab oleh
Ir. R. Yohanes Hani Putranto (R. Hani Japar).


Jakarta, 8 Juli 2008


Ir. R. Yohanes Hani Putranto
( R. Hani Japar *)

*)CATATAN
  • R. Hani Japar adalah nama penunjukan (nama pulung) bukan nama kecil saya. Nama ini tersandi dalam mimpi penduduk Bantul dan pernah membuat heboh masyarakat dan menjadi pemberitaan media massa sekitar bulan Mei 1993. Mengenai mimpi ini bisa dibaca di dalam buku Bayang-bayang Ratu Adil karya Sindhunata terbitan Gramedia Pustaka Utama 1999 hlm 292-297. Nama sandi itu adalah RA Parjinah. Pada tanggal 4 Juli 2002 saya berhasil membaca sandi itu yaitu dengan memindah huruf r di tengah ke belakang kemudian membacanya dari kanan ke kiri maka terbacalah R. Hani Japar. Japar adalah nama orang tua saya.Dalam mimpi itu RA Parjinah dianggap sebagai anak pasangan Pambayun-Ki Ageng Mangir.Ini sesuai dengan kondisi saya karena kedua orang tua saya memang salah satunya berasal dari Mangir dan satunya berasal dari kota Yogyakarta.Menurut saya hal ini adalah pemenuhan ramalan Jawa yang mengatakan bahwa Mataram akan makmur setelah terjadi perkawinan antara K Progo dan K Opak yang saya tafsirkan sebagai perkawinan antara orang Mangir dengan orang kota Yogyakarta.
  • Ada juga peringatan dari Sabdopalon yang bunyinya: "Sang Prabu diaturi ngyektosi, ing besuk yen ana wong Jawa ajeneng tuwa, agegaman kawruh, iya iku sing diemong Sabdopalon, wong jawan arep diwulang weruha marang bener luput" (Ki Kalamwadi hlm 143-145, Serat Darmogandul, Dahara Prize, Semarang 1990, sebagaimana dikutip Bambang Noorsena, Menyongsong Sang Ratu Adil, Yayasan Andi, 2003 hlm 326)
  • Di tulisan lain ada juga peringatan Sabdopalon:"Tetapi ingat, bila besok ada orang yang mempunyai nama tua tidak memakai keris bersedia duduk sejajar dengan tuan (raja), dialah utusan dan asuhan saya. Saya akan membuat tanah Jawa makmur. Saya akan membawa orang seberang ke tanah Jawa, saya akan membuang orang Jawa yang kurang baik ke seberang" (Thojib Djumadi "Panguwasa Landa Jirunung Sabdopalon" dalam Jayabaya N0 37 XLII, 8 Mei 1988 sebagaimana dikutip oleh Bambang Noorsena, Menyongsong Sang Ratu Adil hlm 64). Dengan diaplikasikannya bioekonomi seharusnya seluruh dunia akan mengalami keadilan dan kemakmuran.

Tulisan Saya:
  • Buku: Herucakra Society Jalan Ketiga Ekonomi Dunia, Penerbit Wedhatama Widya Sastra, Jakarta, 2004
  • Makalah: "Bioekonomi, Ekonomi Masyarakat, dan Kependudukan. Dalam Kaitannya dengan Upaya Membantu Pemerintah RI Mengatasi Keterpurukan Sektor Riil dan Menghadapi Tantangan di Masa Mendatang" Disampaikan dalam seminar bulanan ke-22 di Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM Yogyakarta 2 Nopember 2004
  • Karya Tulis: "Mengentaskan Kemiskinan dengan Paradigma Baru Demokrasi Ekonomi" Masuk babak final (10 besar) lomba karya tulis pengentasan kemiskinan yang diselneggarakan LP3ES dan Yayasan Damandiri 2005
  • Karya Tulis: "Dampak Biososioekonomi Terhadap Upaya Mewujudkan Indonesia 2025" Disampaikn dalam lomba karya tulis yang diselenggarakan Bank Indonesia 2006

Rabu, 22 Oktober 2008

Misteri Laba dan Kesengsaraan Rakyat



From: Hani Putranto Hani Putranto
Subject: Kiriman Artikel Opini:"Misteri Labadan Kesengsaraan Rakyat"

Date: Wednesday, June 18, 2008, 1:53 AM

Pengantar:
Meskipun artikel ini saya tulis tanggal 18 Juni 2008, sebelum Lehman Brother ambruk, tetapi tetap relevan untuk ditampilkan di blog saya ini. Selamat membaca semoga mengakrabkan anda dengan metode berpikir bieoekonomi (biososioekonomi). Jakarta 22 Oktober 2008. Ir. R. Yohanes Hani Putranto


Krisis Tiga-F yaitu financial (keuangan), fuel (minyak), dan food (pangan) telah menyengsarakan rakyat dimana-mana dan menjadi ancaman global yang serius. Rakyat yang beberapa bulan lalu masih hidup berkecukupan tiba-tiba daya belinya anjlok drastis karena harga kebutuhan pokok melambung. Sementara itu kebijakan pemerintah RI menaikkan harga BBM_dengan dalih menyelamatkan APBN_ mendapat kritik tajam dari berbagai kalangan. Pemerintah meresponnya dengan merencanakan pengenaan pajak atas windfall profit (Kompas 12/06/08, hlm 17).

Namun sebelum upaya itu direalisasikan, hendaknya semua pihak melihat dengan jernih mengenai windfall profit ataupun laba secara umum. Hal ini perlu ditegaskan karena saya menangkap ambiguitas pernyataan Purnomo Yusgiantoro bahwa pengenaan pajak itu sebatas tidak merugikan kontraktor migas. Tanpa pendangan yang jernih dan mendasar tentang laba, maka krisis dan persoalan yang kita hadapi ini akan sulit teratasi.

Pengembalian yang sah atas modal?

Pandangan ekonomi neoklasik atau yang populer disebut neoliberal mengatakan bahwa laba adalah pengembalian yang sah atas modal. (Case & Fair, 2001:437). Pandangan ini sering diperlakukan sebgai harga mati dan ideologi bagi banyak negara di dunia termasuk rezim yang saat ini memenangi pilpres 2004.

Berbeda dengan pandangan neoklasik, pandangan Marx mengatakan bahwa laba adalah nilai yang diciptakan tenaga kerja dan diambil alih secara tidak adil oleh kapitalis yang non produktif. Atau dengan kata lain laba diperoleh karena adanya eksploitasi terhadap buruh. Melihat gejolak harga-harga komoditas saat ini apakah pandangan Marx ini relevan? Rasanya tidak.Berapa pekerja yang terlibat dalam perdagangan berjangka minyak yang melambungkan harga minyak mentah di bursa komoditas berjangka? Tidak banyak. Apakah pekerja di sana dieksploitasi? Agaknya tidak. Pandangan Marx ini absurd dan tidak relevan.

Pandangan yang lebih mencerahkan dan relevan seperti yang sering saya sampaikan dalam berbagai kesempatan adalah bahwa laba diperoleh karena konsumen membayar lebih tinggi dari biaya produksi, distribusi, dan komponen pajak di dalamnya. Dalam kondisi normal, tidak terjadi gejolak harga, konsumen memandang bahwa harga yang harus dibayar itu wajar. Dalam arti konsumen tidak menuntut produsen dan distributor agar tidak menarik laba. Pajak yang ditarik pemerintah juga wajar karena pemerintah bisa berjalan kalau ada pajak yang dibayarkan kepadanya.

Akan tetapi apabila harga-harga tersebut melambung maka konsumen (baca: rakyat) akan menjerit karena hal itu menyengsarakan hidup mereka. Benar bahwa, harga terbentuk karena tarik-menarik antara penawaran dan permintaan. Namun Permintaan ini pun harus dibedakan antara permintaan riil konsumen end user dengan permintaan spekulatif termasuk untuk tujuan investasi.

Suatu produk apakah itu properti, minyak mentah, atau yang lain harganya bisa melambung apabila dijadikan instrumen investasi (dan spekulasi). Dengan diperdagangkannya minyak mentah dalam bursa berjangka, minyak menjadi ajang spekulasi yang harganya bisa melambung. Investor pertama yang masuk berharap harga minyak meningkat. Setelah meningkat ia akan menjualnya kepada investor kedua demikian seterusnya tergantung jumlah dana yang tersedia dan harapan akan peningkatan harga dikemudian hari. Menurut Paul B Farrel, sebgaimana dikutip Kompas 29/02/08, dana perusak itu besarnya 516 triliun dollar AS atau lebih dari sepuluh kali lipat PDB dunia yang hanya 48 triliun dollar AS.

Maka pandangan neoklasik tidak boleh diperlakukan sebagai harga mati tetapi harus dilihat konteks dan porsinya. Pandangan neoklasik masih bisa diterima sepanjang modal itu milik institusi bisnis dalam kondisi normal atau milik individu dalam skala kecil (usaha rakyat). Dalam tataran mikro dan kondisi normal seperti itu pandanagan neoklasik bisa diterima. Namun pemerintah adalah pemangku kepentingan publik sehingga harus melihat persoalannya secara makro.

Individu vs institusi bisnis

Apa yang dimaksud tidak merugikan dalam pernyataan Purnomo Yusgiantoro belum jelas. Sebuah perusahaan kontraktor migas dalam kondisi normal bisa meraih laba, misalnya, Rp20 miliar. Dengan melambungnya harga minyak labanya menjadi Rp 110 miliar misalnya. Berapa besarnya pajak yang pantas dikenakan dengan adanya windfall profit tersebut? Rp20 miliar atau Rp 90 miliar? Dengan mengenakan pajak hanya Rp 20 miliar, keadaan rakyat tidak kembali normal artinya konsumen (baca:rakyat) tetap sengsara karena merekalah yang membayar laba itu.

Pengenaan pajak atas windfall profit tetap relevan sebagai upaya kuratif. Namun upaya preventif agar harga tidak melambung, perlu dilakukan juga. Apakah itu berarti perlu semacam "Keynes baru" seperti anjuran A Tony Prasetiantono (Kompas 16/06/08)? Harus diingat bahwa kelemahan atau kesalahan Keynes adalah tidak membedakan antara individu dan institusi bisnis. Padahal keduanya berbeda.

Individu selain homo economicus juga homo socius sekaligus. Individu bisa membagikan 100% labanya, atau bahkan 100% kekayaannya, mampu menanggung kerugian besar, juga bisa secara sukarela kehilangan kesempatan untuk meraih laba. Sementara institusi bisnis tidak bisa melakukan apa yang dilakukan individu. Oleh karenanya anjuran Prasetiantono tidak boleh dipisahkan dari upaya menyeluruh untuk mencegah melambungnya harga-harga. Memang untuk itu diperlukan suatu etos sosial.

Yang diharapkan dari Pemerintah

Sebagai salah satu pemangku kepentingan publik pemerintah diharapkan tidak lagi membebani rakyat dengan dalih menyelamatkan APBN.Kedepannya pemerintah perlu melakukan hal-hal berikut.

Pertama, pemerintah harus mengubah paradigma neoliberalnya yang menganggap laba adalah pengembalian yang sah atas modal. Kedua, pemerintah perlu bekerja sama dengan pusat-pusat pengaruh baik formal atau non formal dalam civil society baik lokal atau global. Pusat-pusat pengaruh ini memiliki kemampuan efektif agar individu meningkatkan etos sosialnya, rela kehilangan peluang meraih laba, rela membagikan laba atau bahkan kekayaannya. Ketiga, pemerintah perlu menegosiasikan pembayaran utang luar negeri yang akan jatuh tempo. Keempat, pemerintah harus benar-benar bekerja untuk kepentingan publik dan rakyat bukan untuk kepentingan kelompok.

Semoga rakyat terhindar dari kesengsaraan, kemiskinan, atau kelaparan. Pemerintah seharusnya bisa kalau ada kemauan.

Jakarta 18 Juni 2008

Hani Putranto

Daftar Pustaka

Case, Karl E and Ray C Fair, 2001 Prinsip-prinsip Ekonomi Makro, Prenhalindo, Jakarta. Terj. dari Principles of Economics Prentice Hall, New Jersey 1999

Prasetiantono, A Tony. "Harga Minyak dan Bencana Fiskal" Kompas 16 Juni 2008

______, "Dampak Kenaikan BBM, Produsen Migas akan Dikenai "Windfall Profit Tax" Kompas 12 Juni 2008 hlm 17

______, "Komoditas akan Bergolak. 526 Triliun Dollar AS Kekuatan Perusak" Kompas 29 Februari 2008 hlm 8

Tentang Penulis

Hani Putranto, yang lahir di Merbau Mataram, Lampung Selatan 22 Maret 1967, adalah lulusan S1 Jurusan Pengolahan Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Karya-karyanya adalah:

  • Buku: Herucakra Society Jalan Ketiga Ekonomi Dunia, Penerbit Wedhatama Widya Sastra, Jakarta, 2004.
  • Makalah: "Bioekonomi, Ekonomi Masyarakat, dan Kependudukan. Dalam Kaitannya dengan Upaya Membantu Pemerintah RI mengatasi Keterpurukan Sektor Riil dan Menghadapi Tantangan di Masa Mendatang". Disampaikan dalam seminar bulanan ke-22 di Pusat Studi Ekonomi Pancasila UGM 2 November 2004
  • Karya Tulis: "Mengentaskan Kemiskinan dengan Paradigma Baru Demokrasi Ekonomi". Masuk 10 besar lomba karya tulis yang diselenggarakan LP3ES dan Yayasan Damandiri tahun 2005
  • Karya Tulis:"Dampak Biososioekonomi Terhadap Upaya Mewujudkan Indonesia 2025". Disampaikan dalam Lomba Karya Tulis yang diselenggarakan Bank Indonesia 2006

Sehari-hari bekerja di Jakarta sebagai agen property.