Minggu, 29 Maret 2009

Fenomena Katak Rebus

Pengantar: Tragedi Situ Gintung 27 Maret 2009 terjadi tepat satu hari menjelang peringatan 4 tahun gempa Nias. Pada waktu itu tanggal 1 April 2005, saya menulis artikel yang berjudul "Fenomena Katak Rebus" tetapi tidak dimuat. Dalam postingan kali ini saya tampilkan tulisan tersebut dengan mengetikkannya kembali. Hukum alam yang sedang bekerja secara perlahan-lahan tetapi pasti sering tidak disadari baik dalam tragedi Situ Gintung maupun bencana ekonomi-finansial yang berakibat pada kemiskinan. Selain ada di blog ini tulisan "Fenomena Katak Rebus" juga ada dalam kumpulan tulisan saya "Wahyu untuk Rakyat" edisi kedua. Di banding edisi pertama, edisi kedua ini memang tidak banyak beredar. Siapa saja yang saya kirimi tulisan "Wahyu untuk Rakyat" edisi kedua ini bisa di lihat dalam postingan terdahulu "Wahyu Keprabon" di blog ini. Semoga menjadi bahan renungan bagi semua pihak termasuk insan pers.


Apabila seekor katak hidup dimasukkan ke dalam panci berisi air kemudian dipanaskan perlahan-lahan, katak tersebut tidak bisa menyadari suatu kenyataan bahwa air yang berada disekelilingnya sedang memanas dan segera mendidih. Katak itu memiliki mekanisme untuk menyesuaikan diri dengan suhu lingkungannya, tetapi tidak tahan ketika air lingkungannya benar-benar sudah mendidih.

Mungkin fenomena ini pula yang saat ini sedang terjadi pada umat manusia. Toto Suparto dalam tulisannya "Terima Kasih Nias", Kompas 31/3 (2005) menanyakan apakah solidaritas itu mesti menunggu bencana? Solidaritas bagi tsunami Aceh 26 Desember (2004) sungguh luar biasa. Ketika manusia mulai melupakannya dan kembali ke dalam rutinitas sesuai prinsip business as ussual, alam mengingatkannya dengan gempa Nias 28 Maret (2005). Tanpa bermaksud mengecilkan derita para korban tsunami Aceh dan gempa Nias, perlu juga diingat bahwa di seluruh dunia ini ada 25.000 orang meninggal setiap hari karena kelaparan dan kemiskinan (Kompas17/06/04). Dalam satu tahun korbannya jutaan orang. Media massa belum memberikan perhatian yang cukup bagaimana mengatasinya termasuk bagaimana membangun dan menggerakkan solidaritas bagi mereka yang lapar dan miskin.

Sering kali kelaparan dan kemiskinan itu dianggap sebagai kesalahan mereka sendiri karena mereka malas, pemerintahannya korup, atau kebrengsekan mereka yang lain. Kita sering menutup mata bahwa kelaparan dan kemiskinan itu terjadi akibat hukum alam yang terjadi perlahan-lahan tetapi pasti. Fenomena ini memang seperti fenomena katak rebus. Kita sering menganggap alam ini tanpa batas dan berlimpah ruah, sehingga sering memakai mekanisme "penyesuaian diri" seperti katak: nanti semuanya beres tanpa keterlibatan kita, toh kemajuan teknologi akan mengatasi segalanya, teori Malthus itu salah. Mekanisme itu mungkin memang berguna tetapi bisa menimbulkan bencana.

Suatu pertanyaan reflektif-kritis yang perlu kita renungkan adalah bahwa kalau alam ini berlimpah ruah tanpa batas, mengapa di alam ini ada kematian? Kalau di alam ini tidak ada kematian, benar ramalan Malthus bahwa populasi manusia akan meningkat tajam secara eksponensial. Seberapa cepat kemampuan teknologi untuk mengimbanginya? Bukankah dengan kematian, alam akan terjaga keseimbangannya? Kalau jumlah kelahiran lebih besar dari jumlah kematian, atau dengan kata lain terjadi pertumbuhan penduduk positif, alam akan mengalami peningkatan beban. Peningkatan beban yang pelan-pelan inilah yang belum disadari sepenuhnya. Kerusakan lingkungan, pemanasan global, kelaparan, dan kemiskinan merupakan efek dari hukum alam yang bekerja secara perlahan-lahan.

Peningkatan beban yang dialami alam ini diperparah dengan kebiasaan buruk manusia yang juga tidak disadari yaitu sistem pewarisan kekayaan. Dengan sistem pewarisan kekayaan ini, mereka yang memperoleh warisan kekayaan berlimpah, kekayaannya akan meningkat secara eksponensial mengikuti deret ukur, sementara itu mereka yang tidak memperoleh warisan, kekayaannya akan meningkat sesuai deret hitung atau bahkan turun.

Data empiris mendukung hal ini, sperti dikutip Franz Dahler (Pijar Peradaban Manusia, Denyut Evolusi, Penerbit kanisius, Yogyakarta, 2000 hlm197) yaitu :"Seperlima penduduk terkaya mengalami kenaikan pendapatan 38,2 persen sedangkan seperlima penduduk termiskin mengalami penurunan 12 persen. Sekitar 2,7 juta orang terkaya bahkan mengalami peningkatan 120 persen dari 1977 sampai 1999". Bahwa korupsi merupakan salah satu penyebab kemiskinan memang benar, tetapi pewarisan kekayaan juga merupakan penyebab yang tak kalah mengerikan. Perlu diketahui bahwa data di atas terjadi di Amerika Serikat bukan Indonesia.

Upaya meningkatkan kesejahteraan manusia selama ini terlalu bertumpu pada maksimalisasi pertumbuhan ekonomi, padahal pertumbuhan ekonomi sendiri adalah beban bagi alam yang salah satu akibatnya adalah pemanasan global. Sama seperti kelahiran individu adalah beban, pertumbuhan ekonomi juga beban bagi alam. Untuk bisa memahami bahwa pertumbuhan ekonomi dan kelahiran adalah beban bagi alam diperlukan pikiran dan hati yang jernih dan bijaksana. Yang akan membedakan apakah kita homo sapiens sapiens atau bukan adalah kemampuan kita mejawab pertanyaan mengapa di dunia ini ada kematian.

Dengan kejernihan dan kebijaksanaan itu kita bisa merumuskan bahwa ternyata kelahiran itu, dipandang dari sudut pandang alam, adalah hutang yang harus dibayar dengan kematian. Rumusan ini merupakan dasar dari teori bioekonomi (biososioekonomi) suatu mazhab baru dalam pemikiran ekonomi (Hani Putranto, Herucakra Society Jalan Ketiga Ekonomi Dunia, 2004). Menurut teori bioekonomi itu pewarisan kekayaan berlimpah pada keturunan pemilik kekayaan akan menyebabkan alam akan mengalami defisit yang menimbulkan berbagai bencana ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Mestinya kalau setiap individu menyadari ini dan mau mendaur ulang kekayaannya (tidak menerima warisan berlimpah) sesuai prinsip bioekonomi maka jutaan orang yang terancam kemiskinan, kelaparan, dan kematian bisa diselamatkan. Program zero atau negative population growth bisa didanai dari kekayaan daur ulang. Benar kata Jon Sobrino, tokoh solidaritas El Salvador yang dikutip Toto Suparto:"Kita benar-benar menjadi manusia apabila mempunyai kepedulian dan tanggung jawab terhadap kehidupan manusia lain, terutama yang menderita dan paling miskin maupun tertindas". Kalau kita masih ingin disebut homo sapiens sapiens atau manusia bijaksana yang bijaksana mestinya kita harus menolak untuk menjadi katak rebus.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar