Selasa, 25 Agustus 2009

Kalau Meminta Bukti Berarti Meminta Korban....Mengapa Bukti itu Diminta?

Pemenang Pilpres 2009 telah ditetapkan, secara pribadi saya mengucapkan selamat kepada pasangan SBY-Boediono. Siapapun yang menjadi presiden, tantangan Indonesia tetap berat. Dalam permasalahan ekonomi, saya berharap agar semua pihak, baik pemerintah atau civil society tidak hanya terpaku pada pendekatan empiris. Postingan kali ini adalah tulisan saya yang saya tulis 12 Februari 2007 yang merupakan suatu pendahuluan dari naskah buku saya "Wahyu untuk Rakyat" edisi kedua. Naskah tersebut tidak banyak beredar, oleh karena itu saya mempostingnya di blog ini agar banyak orang terbuka pada pendekatan deduktif logis serta mengetahui hambatan yang saya alami dalam memperjuangkan biososioekonomi. Berikut ini kutipan selengkapnya.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan, surat pembaca, maupun otobiografi perjalanan spiritual penulis dalam menemukan dan memperjuangkan kebenaran, keadilan, dan perdamaian. Melalui tulisan-tulisan yang pernah dikirim ke berbagai media massa dan forum itu, penulis yang bukan siapa-siapa dan yang belum dikenal orang dalam dunia pemikiran ekonomi dan demokrasi berusaha dan berjuang sendirian memperkenalkan keadilan sosial dan teori baru penemuannya, bioekonomi. Perjuangan itu tidak selalu mudah seperti terekam dalam buku ini. Bahkan ketika buku Herucakra Society Jalan Ketiga Ekonomi Dunia yang memuat teori bioekonomi diterbitkan Oktober 2004 dan seminar diadakan_dalam seminar bulanan ke-22 yang diselenggarakan Pusat Studi Ekonomi Pancasila UGM 2 November 2004_perjuangan itu tetap saja berat. Tanpa memiliki bekal spiritual yang cukup tentu penulis sudah mundur dari medan yang berat itu.

Dari berbagai pengalaman memperjuangkan bioekonomi itu memang bisa diambil pelajaran. Sebagian hambatan mungkin memang adanya interes pribadi. Sedangkan hal lain yang menghambat adalah: kecenderungan manusia (Indonesia) untuk bersikap empirisistis, pengabaian potensi individu dalam menyejahterakan rakyat, dan egoisme sektoral yang terkotak-kotak.

Dengan pendekatan deduktif-logis seperti yang penulis lakukan dengan teori bioekonomi selama ini, sebenarnya kita bisa mengetahui bahwa pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) tidak bisa mengentaskan kemiskinan. Dengan mengkaji konsep PDB dan pertumbuhan PDB secara komprehensif tanpa melihat fakta empiris pun kita bisa tahu bahwa peran pertumbuhan PDB untuk mengatasi kemiskinan itu kecil. Pendekatan empiris-induktif seperti dilakukan New Economics Foundation (NEF) menghasilkan kesimpulan yang sama bahwa kaum papa hanya mendapat sedikit manfaat dari pertumbuhan PDB (Kompas, 26 Januari 2007:"Kaum Papa Hanya Mendapat Sedikit Manfaat dari Pertumbuhan") Bagi lembaga yang memiliki kemampuan finansial dan teknis memadai maka sah-sah saja melakukan pendekatan empiris-induktif yang memang membutuhkan dana besar. Tetapi bagi individu sepperti penulis, pendekatan empiris-induktif itu tentu memberatkan.

Dalam kehidupan sehari-hari kecenderungan empirisistis yang eksklusif dengan mengabaikan pendekatan deduktif-matemtis sering berbahaya bagi diri sendiri. Beberapa kegiatan investasi money game yang berkedok MLM atau berkedok investasi valas sering memakan nasabah sebagai korbannya. Para korban biasanya diberi informasi (pendekatan empiris) bahwa saudara atau kenalannya telah berinvestasi dan memperoleh bonus atau laba yang besar. Meskipun secara empiris hal itu benar, bukan berarti nasabah berikutnya akan memperoleh keuntungan sebesar itu. Padahal dengan pendekatan deduktif-matematis kita bisa tahu apakah program investasi atau marketing plan perusahaan money game yang berkedok MLM itu bisa dipertanggungjawabkan atau tidak. Bonus atau laba adalah beban bagi sistem. Sejauh mana suatu sistem mampu menanggung/membayar laba sebenarnya bisa didekati secara matematis.

Demikian juga dengan sistem perekonomian. Mestinya dengan pendekatan deduktif-logis kita bisa mengetahui apakah sistem perekonomian masih mampu membayar laba, bunga, gaji pegawai, dan jaminan sosial atau tidak. Tidak perlu menunggu jatuhnya korban dari pengalaman suatu krisis moneter atau turbulensi keuangan. Kecenderungan empirisistis itu sebenarnya sangat menjengkelkan bagi rakyat kebanyakan yang paling menderita akibat kebijakan publik.

Kebiasaan elite masyarakat dan pemerintah untuk mengabaikan potensi individu dalam menyejahterakan rakyat juga ikut menghambat gerak bioekonomi. Berbagai pihak termasuk media massa masih menganggap yang bisa menyejahterakan rakyat adalah pemerintah dan perusahaan. Perusahaan memberikan lapangan kerja dan sedikit derma (biasanya di bawah 3% dari laba perusahaan) untuk kegiatan filantropi. Sementara itu pemrintah dianggap bisa memberi jaminan sosial.

Bagi mereka yang terbiasa berpikir deduktif-logis pasti tidak percaya bahwa institusi pemerintah dan perusahaan mampu menyejahterakan rakyat. Justru individulah yang memiliki potensi menyejahterakan rakyat. Sebagai perbandingan, dari fakta empiris disebutkan bahwa sumbangan individu asing jauh lebih besar dari pada bantuan resmi yang dijanjikan pemerintahan asing dalam membantu korban tsunami Aceh Desember 2004 (Kompas, 24 Januari 2005, hlm 15:"Hibah Individu Asing Lebih Besar"). Penelitian PIRAC seperti dikutip majalah Swasembada no 07/XXII/6-19 April 2006 halaman 29 mengemukakakan bahwa pada tahun 2002 terhimpun dana filantropi sebesar 115,3 miliar dari 80 perusahaan dan Rp 1 triliun dari perorangan.

Oleh karena itu penulis tetap berpendapat bahwa upaya untuk menyejahterakan rakyat harus fokus pada potensi individu sebagai sumber dana karena individu juga bersifat homo socius. Tulisan dalam buku ini merupakan upaya tersebut yang sering dilupakan oleh media massa dan para pemangku kepentingan publik baik pemerintah maupun tokoh masyarakat dan LSM.

Egoisme sektoral dan terkotak-kotak juga menghambat gerak bioekonomi. Orang tidak peduli lingkungan rusak dan hancur demi mengejar pertumbuhan PDB. Juga perbaikan satu sektor misalnya meneter sudah dianggap cukup meskipun sektor riil terpuruk. Padahal bioekonomi menawarkan perbaikan yang menyeluruh dan serentak bukan sektoral. Perbaikan menyeluruh itu termasuk bidang kependudukan, serta lingkunga hidup yang sering diabaikan ekonom arus utama.

Meskipun buku ini merekam sikap dan pemikiran penulis dari waktu ke waktu namun tidak berarti buku ini menjadi semacam buku harian. Ada tulisan yang tidak ditampilkan karena tulisan tersebut ditujukan untuk komunitas tertentu atau terlalu mirip dengan yang sudah ditampilkan dalam buku ini sehingga dipilih salah satu saja yang ditampilkan. Karena alasan tertentu tulisan yang dikirim penulis kepada salah satu media di Yogyakrta tanggal 14 Maret 2006 atau dua bulan 13 hari sebelum gempa Yogya dan Klaten, tidak ditampilkan secara penuh di sini meskipun nilai kesejarahannya termasuk yang penting. Demikian pula tulisan yang ditolak media massa 21 Desember 2004 atau 5 hari sebelum tsunami Asia, tidak ditampilkan karena mirip dengan yang ditampilkan dalam buku ini.

Dari buku ini bisa dilihat perkembangan penulis yang sangat malu dengan kata mataram yang mengalami konotasi jelek di masyarakat. Kalau penulis tidak dilahirkan di tempat yang memakai nama mataram tentu sudah melupakan dan membuang mataram jauh-jauh. Namun setelah mencermati sejarah Mataram, ternyata Mataram sudah hilang 400-an tahun yang lalu.

Penulis sering terganggu membaca buku kumpulan tulisan yang tidak mencantumkan kapan masing-masing judul ditulis atau diterbitkan. Oleh karena itu di dalam buku ini setiap judul tulisan diberi keterangan mengenai kapan ditulis supaya situasi yang melingkupi saat tulisan itu ditulis bisa dibayangkan. Kata pengantar, Pendahuluan dan Penutup ditulis dalam kurun waktu yang relatif bersamaan yaitu 12 Februari 2007. Sebagian besar tulisan dalam buku ini diurutkan sesuai waktu penulisannya kecuali Bagian Kedua, Kata Pengantar, dan Pendahuluan.

Masyarakat Indonesia sebenarnya bisa berperan lebih besar dalam tatanan dunia baru yang lebih adil, demokratis, dan damai. Persoalannya mau atau tidak. Semoga buku ini bermnfaat bagi siapa saja.

Demikian saya tulis sebagai pendahuluan dalam naskah buku saya "Wahyu untuk Rakyat." Kalau meminta bukti berarti meminta korban mengapa bukti seperti itu diminta? Dengan pendekatan deduktif-logis jatuhnya korban akibat krisis ekonomi bisa diminimalisir. Krisis akan tetap terjadi hanya saja bentuknya berubah-ubah. Tetapi apapun bentuk krisis seharusnya rakyat tidak menanggung bebannya. Dibutuhkan Kecerdasan dan keterbukaan untuk mau menggunakan pendekatan deduktif. Marilah kita menjadi negarawan dan anggota masyarakat yang baik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar