Minggu, 09 Agustus 2009

Minus

Menyangkal bahwa saat ini penindasan tidak ada adalah suatu tindakan yang tidak bijaksana. Penyangkalan seperti itu akan menyakiti orang-orang yang tertindas. Mengakui adanya penindasan bukan berarti menyetujui tindakan kekerasan yang dilakukan teroris yang menyerang warga sipil (Barat ataupun Timur). Postingan kali ini adalah tulisan yang saya tulis tanggal 26 Oktober 2002 dan dikirimkan ke harian umum nasional tetapi tidak dimuat. Selain artikel "Dialog Antar Kebenaran" yang saya posting beberapa waktu lalu postingan ini adalah suatu bagian dari upaya-upaya damai menuju masyarakat yang adil dan sejahtera. Sebagai orang tertindas, saya tetap mempercayai perjuangan damai dan kuasa Tuhan untuk menjatuhkan hukuman ke bumi. Berikut ini kutipan selengkapnya.

Inilah judul yang saya buat untuk tulisan ini. Supaya jelas, tegas, dan mudah diingat maka saya buat sependek mungkin. Setelah umat manusia menemukan kenyataan bumi ini bulat, bukan datar, maka kini tiba saatnya mata manusia terbuka bahwa bumi ini minus bukan netral. Anggapan bahwa bumi adalah ruang netral telah terbukti menimbulkan kesalahan dalam pengelolaan kekayaan dan perekonomian sehingga menimbulkan kesengsaraan manusia termasuk peperangan, bencana finansial, depresiasi permanen mata uang dan sebagainya.

Saya tidak akan lelah mengatakan bahwa bumi ini memang minus, karena hal ini merupakan bagian dari panggilan hidup saya, seperti yang dicatat dengan sangat baik oleh Kusumo Lelono dalam bukunya Satrio Piningit (Gramedia Pustaka Utama, 1999). Kusumo Lelono mencatatnya dengan kata-kata: "Keluar dari istana meraih kemuliaan menerangkan tegaknya buwana yang sesungguhnya kosong hanya Allah yang memiliki" (hlm 29-30). Memang tantangan ini berat bagi saya karena saya pasti akan berhadapan dengan kekuasaan para redaktur yang bisa menolak naskah ini.

Permasalahan yang dihadapi umat manusia dewasa ini adalah ketidaktahuannya bahwa dunia ini minus. Di dalam ruang minus, alam akan memandang kelahiran individu manusia sebagai hutang terhadap alam. Apapun yang diambil manusia dari alam ini harus dihitung sebagai hutang, bahkan makanan yang sangat vital bagi kelangsungan hidupnya pun harus dihitung hutang. Kematian adalah cara untuk menghentikan dan membayar sebagian hutang manusia. Melalui kematian dan pembusukan itulah tubuh manusia didaur ulang untuk diproses kembali menjadi gandum, padi, kedelai, dll.

Kalau umat manusia menginginkan pembangunan yang berkelanjutan maka pertama kali yang harus diperhatikan dan dilakukan semestinya adalah daur ulang kekayaan individu. Ilmu ekonomi yang berhubungan dengan ini adalah ilmu ekonomi yang saya temukan dan kemudian saya beri nama bioekonomi. Dengan bioekonomi inilah chaos_finansial yang mungkin juga melebar menjadi chaos sosial_bisa dihindari, karena masuknya materi dan energi dari alam bebas ke dalam sistem ekonomi yang kemudian diikuti dengan pencetakan uang diimbangi dengan pengeluaran uang dari sistem ekonomi sehingga terjadi proses reversibel. Menurut hukum II Termodinamika proses reversibel inilah yang menyebabkan sistem stabil tidak mengalami chaos. Chaos dalam sistem ekonomi sudah sering memunculkan diri dalam bentuk depresi besar, resesi berkepanjangan, kebangkrutan masal, hiperinflasi dll. Semua itu terjadi karena ilmu ekonomi yang sekarang diterapkan merupakan produk dari asumsi bahwa dunia ini netral. Ketika asumsi ini salah maka seharusnya ilmu ekonomi lama tidak bisa dipakai lagi.

Penemuan bumi sebagai ruang minus adalah suatu penemuan dahsyat yang jauh lebih dahsyat dari penemuan bumi sebagai benda yang berbentuk bulat. Memang, sebenarnya ini bukan suatu penemuan yang baru. Paling tidak, sepanjang yang saya tahu suatu kitab bangsa Yahudi yang disebut Genesis yang ditulis kira-kira 3.000 tahun yang lalu telah mencatatnya dengan kata-kata:"Terkutuklah tanah karena engkau (Adam)...." Entah karena apa umat manusia saat ini termasuk bangsa Yahudi sendiri beranggapan bahwa bumi ini netral. Hanya bangsa besar dan terpilihlah yang sanggup menemukan kembali bumi sebagai ruang minus. Oleh karena itu kita harus bersyukur dan bersatu di tengah-tengah konflik di panggung peradaban dunia yang dikatakan oleh "Tajuk Rencana" Kompas, setahun lalu setelah penyerbuan AS ke Afghanistan, sebagai absurd. Memang menurut saya hal itu adalah absurd, karena baik kubu kapitalis maupun yang anti kapitalis sama-sama tidak menyadari bahwa bumi ini adalah minus bukan netral.

Kita memang harus menjaga keamanan agar terhindar dari serangan teroris, dan itu adalah tugas negara. Tetapi kita tidak boleh terseret pada konflik-konflik atau tarik menarik kepentingan yang tidak bermutu sehingga mengganggu pemulihan ekonomi. Sebagai bangsa yang besar kita justru terpanggil untuk mengingatkan masing-masing peradaban umat manusia dan mendorong mereka untuk melihat ke dalam diri mereka sendiri sehingga mereka melakukan otokritik. Yaitu sejauh mana kontribusi mereka masing-masing dalam kekeliruan peradaban manusia yaitu pandangan bahwa bumi ini netral. Seberapa jauh masing-masing peradaban umat manusia melakukan kekeliruan dengan mengukuhkan adat-istiadat ciptaan manusia yang saya namakan linierisme individu (sistem pewarisan kekayaan) menjadi hukum Tuhan yang tidak bisa dikritik.

Tidak akan ada kemakmuran dan keadilan sosial apabila linierisme individu masih merajalela. Linierisme individu itulah yang mestinya disebut ilalang atau benih-benih ilalang yang menyebabkan gagal panen. Saya percaya bahwa kemakmuran dan keadilan sosial melalui daur ulang kekayaan individu itu bisa diwujudkan dengan damai, legal, dan demokratis. Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati yang saya miliki saya berpesan agar jangan melakukan kekerasan, jangan mengambil dan merampas milik orang lain. Sayapun, orang yang pertama kali terpilih menemukan kenyataan dunia ini minus, tidaklah diberi wewenang Tuhan untuk membakar ilalang-ilalang itu. Tuhan tidak memerlukan tangan manusia untuk mengeksekusinya.

Sebenarnya saya enggan mengemukakan ini semua. Hal ini saya kemukakan dengan berat hati untuk memenuhi kerinduan hati bangsa Indonesia terutama orang Jawa yang telah merindukan perkawinan antara Kali Progo dan Kali Opak. Memang adalah suatu hal yang kebetulan kalau saya adalah hasil perkawinan antara Kali Progo dan Kali Opak yaitu antara orang Mangir dan Mataram (kota Yogyakrta) yang diharapkan bisa mengalirkan kemakmuran dan keadilan.

Jakarta, 26 Oktober 2002

Demikian waktu itu saya tulis. Saat ini kapitalisme banyak dikritik, jauh lebih banyak dikritik ketimbang awal 2000-an setelah krismon 1997-1998. Berbagai kejadian telah terjadi dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir. Saya tetap berkeyakinan bahwa perjuangan damai dalam mewujudkan kesejahteraan publik melalui demokrasi ekonomi dan biososioekonomi adalah keharusan. Hanya Tuhan yang boleh membunuh (dan menghentikan waktu bertobat) seseorang. Ketika biososioekonomi terkepung atau dibuang, sering terjadi bencana atau gempa di mana-mana seperti yang telah saya ceritakan dalam blog ini. Salah satu gempa (dan tsunami) telah merenggut puluhan wartawan surat kabar lokal. Hal semacam itu menambah keyakinan saya pada jalan damai. Biar Tuhan sendiri yang menghukum kalau ada yang menghambat biososioekonomi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar