Senin, 03 Agustus 2009

Mewaspadai Pelacuran Intelektual

Segenap aktivis sosial dan politik serta siapapun yang peduli pada masa depan yang lebih adil, sejahtera, dan damai, perlu mewaspadai jenis pelacuran seperti ini. Pelakunya bisa siapa saja, bahkan boleh jadi orang-orang di sekeliling kita yang kelihatannya terhormat.

Pelacur intelektual menggadaikan dan menenggelamkan kebenaran. Ia sebenarnya mengetahui apa yang benar, tetapi ia justru berbuat agar yang benar itu tidak muncul demi memperoleh bayaran (keuntungan pribadi) dan demi menyenangkan pihak-pihak tertentu.

Memang suatu kebenaran sering pahit untuk diterima dan perjuangan untuk mengatakan dan menegakkan kebenaran sering menakutkan. Bagi yang tidak berani mengatakan dan menegakkan kebenaran ada baiknya diam dari pada melacur. Meskipun dengan diam itu ia akan tetap dinilai rendah, tetapi itu lebih tinggi dari pada melacur.

Perjuangan dan pengalaman saya memperkenalkan dan menegakkan biososioekonomi sering berhadapan dengan berbagai macam orang. Dari pengalaman itu saya bisa menilai apakah orang yang saya hadapi selevel dari segi intelektual atau tidak. Saya juga menemukan segelintir cendekiawan yang berani. Salah satunya adalah Pak Muby (alm Prof. Dr. Mubyarto). Mubyarto adalah contoh ilmuwan yang rendah hati dan jujur. Ia langsung membaca buku saya (Herucakra Society Jalan Ketiga Ekonomi Dunia) sampai tuntas begitu ia menerima kiriman saya dan mengaguminya serta mempersilakan saya mempresentasikan makalah saya. Orang yang tidak rendah hati tidak akan serta merta mau meluangkan waktu membaca tulisan orang yang cuma lulusan S1 dan tidak terkenal pula. Orang takut gengsinya jatuh. Yang jelas Pak Muby tidak melacur karena ia memberi akses publik bagi biososioekonomi.

Seorang pelacur intelektual mungkin akan berkata seperti ini:"Tuan, teori biososioekonomi ini berbahaya bagi status quo tuan, berilah saya uang untuk menenggelamkannya." Saya meyakini pelacur seperti itu ada, entah dimana. Dalam komunikasi publik pelacur itu membuat suatu opini atau argumen yang seolah-olah logis supaya mendapat banyak dukungan dan bayaran.

Saya bukan berlatar belakang formal sarjana ekonomi. Akan tetapi di tangan saya ilmu ekonomi menjadi terang benderang, berwibawa, dan tidak menjadi subordinat teori politik. Kalau biososioekonomi mengatakan kekayaan berasal dari konsumen dan harus dikembalikan kepada konsumen (semua orang) dan didistribusikan tanpa sekat-sekat negara dan primordial maka teori politik harus menyesuaikan diri agar redistribusi aset individu antar negara merupakan keniscayaan. Melawan hukum biososioekonomi hanya akan menghasilkan kesengsaraan rakyat, meskipun mungkin menguntungkan pelacur intelektual.

Di tengah hajatan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia 2009 ada baiknya ekonom mawas diri dan berefleksi demi kesejahteraan publik. Kalau tidak rakyat akan muak dan jijik melihat ekonom konvensional. Tidak semua ekonom adalah ekonom konvensional memang. Sebagian terbuka pada koreksi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar