Rabu, 29 April 2009

Mewujudkan Perubahan, Satu Bumi untuk Semua (2)

Tidak sedikit yang menyangka bahwa perubahan besar hanya bisa diwujudkan dengan tampilnya seorang pemimpin yang kuat. Anggapan seperti itu sebenarnya merupakan bentuk penyelesaian persoalan secara teritorial dengan mengabaikan suatu realitas bahwa masalah yang bisa diselesaikan di suatu wilayah, bisa berpindah ke wilayah lain. Overinvestment yang terjadi di negara A bisa berpindah ke negara B. Sebenarnya selain pasar masih ada satu lagi dari tiga pilar keadaban publik yang bisa mengglobal yaitu society. Upaya mengatasi krisis global seharusnya melibatkan global society. Tentu yang dimaksud global society bukan kumpulan para pemimpin negara di dunia. Tetapi jejaring sosial antar individu, pusat pengaruh, maupun institusi NGO di seluruh dunia. Krisis global harus diatasi secara global.

Program MDGs adalah salah satu contoh program yang sesat pikir. Mengapa? Pertama, karena program itu dibiayai dari pajak negara yang persentasenya terbatas. Orang yang memahami matematika pasti tahu keterbatasan persentase pajak di satu sisi dan besarnya liabilitas publik di sisi lain. Kedua, pajak suatu negara adalah prestasi otoritas fiskal negara itu sehingga tidak mudah baginya untuk merelakan sebagian pajak itu didistribusikan ke negara lain.
Sementara itu tantangan dan persoalan yang dihadapi demikian besar.

Menurut hemat saya perubahan besar ke arah yang lebih baik bisa terwujud jika masing-masing orang mengubah paradigmanya sesuai posisi dan bidangnya. Perubahan paradigma yang saya maksud adalah agar masing-masing orang mengakomodasi paradigma biososioelonomi. Bagi ilmuwan dan cendekiawan segeralah mengkritik biososioekonomi bila biososioekonomi salah. Bila benar segera mendorong implementasi dan pengembangannya lebih lanjut. Bagi elite media konvensional (cetak + tv) segera mengambil peran. Semua mempunyai peran masing-masing dalam perubahan besar ini. Itu dimulai dengan menyimak biososioekonomi, karena tanpa menyimak tidak ada dialog dan diskusi. Adanya hanya monolog.

Anda semua bukan bawahan saya. Tuhan (yang saat ini tidak nampak) akan langsung memimpin saudara semua dalam perubahan besar ini melalui hati dan pikiran Anda. Jadi, bukan saya yang memimpin tapi Tuhan. Semoga ini dimengerti.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar