Rabu, 22 Juli 2009

Dialog Antar Kebenaran

Debat Capres dalam kampanye pilpres beberapa waktu lalu tidak memberikan pencerahan bagi publik mengenai neoliberalisme dan bahayanya bagi kehidupan rakyat. Hal ini karena selain waktunya terbatas juga karena para kandidat lebih fokus bagaimana memenangkan pilpres.

Selain kritik (debat) terhadap neoliberalisme, perlu juga suatu dialog. Siapapun presidennya kritik dan dialog perlu dilanjutkan di ruang publik maupun ruang akademik. Postingan saya kali ini menampilkan tulisan saya yang berjudul:"Dialog Antar Kebenaran" yang merupakan salah satu tulisan saya dalam kumpulan tulisan "Wahyu untuk Rakyat" edisi baru. Kumpulan tulisan saya itu sampai hari ini masih berujud naskah, akan tetapi beberapa orang memang sengaja saya kirimi. Siapa saja pihak-pihak yang saya kirimi bisa dilihat dalam postingan yang berjudul:"Wahyu Keprabon" di blog ini.

"Dialog Antar Kebenaran" ini saya tulis tanggal 7 Februari 2007saat saya belum mengenal media alternatif seperti blog atau facebook. Berikut ini kutipan selengkapnya.

Dialog adalah suatu komunikasi dua arah di mana masing-masing pihak mengemukakan kebenaran atau perasaan kepada pihak lain dan juga mendengar dan menyimak kebenaran atau perasaan yang dikemukakan pihak lain. Dialog tidak sama dengan berdebat. Di dalam dialog tidak perlu terjadi kesepakatan untuk menemukan kebenaran yang paling benar.

Beberapa tahun yang lalu, akhir 2002 dan awal 2003, diadakan pertemuan tokoh-tokoh masyarakat dalam dan luar negeri juga para intelektual dunia untuk berdiskusi dan berdialog guna mencegah kemungkinan benturan antar peradaban. Dua pertemuan terpisah yang digagas oleh dua lembaga yaitu Center for World Conscience yang didirikan oleh Christianto Wibisono dan The Habibie Centre itu berusaha menjawab kekhawatiran waktu itu yang dibayang-bayangi perang Irak.

Selama ini dialog yang populer memang dialog antar agama atau antar iman. Atau paling tidak antar peradaban Barat dengan Islam yang hampir sama dengan dialog antar agama. Suatu dialog antar kebenaran masih belum populer. Padahal untuk mewujudkan suatu dunia yang nyaman dan damai perlu juga mengadakan dialog antar kebenaran, agar masing-masing pihak mengerti kebenaran dari perspektif pihak lain.

Tulisan ini memaparkan beberapa contoh dialog antar kebenaran itu. Meskipun tulisan ini sangat sederhana, semoga bisa menggugah semua pihak untuk mau mendengar dan menyimak kebenaran dari perspektif yang berbeda.

Dialog Antara Agama dengan Ilmu Pengetahuan

Suatu dialog yang baik menuntut kerendah hatian kedua belah pihak. Hal itu tidak terlalu sulit apabila menyangkut dua cabang ilmu pengetahuan. Sebagai bagian dari masyarakat terbuka, ilmuwan atau ilmu pengetahuan, dituntut dan bahkan sudah terbiasa untuk rendah hati dan terbuka terhadap koreksi.

Mamun hal itu agak sulit bila menyangkut agama. Suatu agama bisa saja mengklaim lebih superior terhadap ilmu pengetahuan. Untuk suatu kepentingan yang lebih luas ada baiknya jika agama mau mendengarkan kebenaran dari perspektif yang lain. Terlebih-lebih kalau kepentingan yang luas itu menyangkut kesejahteraan semua orang dan perdamian.

Sebagai contoh adalah kegiatan filantropi. Adalah sangat menarik bahwa media yang menyebarluaskan kegiatan filantropi sebagai suatu "Sajian Utama" justru media bisnis seperti Swasembada bukan media umum yang mengklaim sebagai humanis atau memihak hati nurani rakyat. "Awalnya, hampir semua pengusaha dan eksekutif yang dihubungi SWA menolak menceritakan pengalaman filantropi mereka." Beberapa di antara mereka menyebutkan bahwa agamalah yang melarang itu (Swasembada No 07/XXII 6-19 April2006 hlm 29). Namun majalah itu bersikeras untuk menjadikan topik filntropi sebagai "Sajian Utama" dengan alasan untuk menyebarluaskan dan menyemaikan semangat kedermawanan sosial.

Agama (manapun) sering lebih fokus pada penyumbang, dalam arti orang yang menyumbang harus tetap berkenan di hadapan Tuhan. Sementara bagi ilmu pengetahuan (dan majalah itu) fokus pada yang disumbang, agar mereka yang lapar dan miskin terselamatkan. Kalau dengan publikasi gencar itu bisa meningkatkan kedermawanan sehingga mereka yang lapar dan miskin terselamatkan mengapa tidak disebarluaskan?

Sebenarnya kalau keduanya mau berdialog, tidak perlu saling menghambat. Agama bisa menyerahkan itu kepada masing-masing individu apakah motivasi menyumbangnya masih berkenan di hadapan Tuhan atau tidak, tanpa harus menghambat pihak lain untuk melakukan publikasi besar-besaran guna menyelamatkan yang disumbang.

Contoh lain mengenai poligami. Beberapa agama memang tidak melarang poligami. Namun menurut ilmu pengetahuan perbandingan antara penduduk laki-laki dengan perempuan itu 50 banding 50 atau satu banding satu Di dalam komunitas terbatas setelah perang mungkin perbandingan itu bergeser cukup jauh misalnya 40 banding 60. Tetapi ini kasus khusus di lokasi terbatas. Dalam kondisi normal bila separuh laki-laki melakukan poligami dengan dua isteri saja maka separuh laki-laki lain tidak memiliki isteri. Bukankah hal seperti ini bisa menimbulkan kerawanan dan kemungkinan konflik horisontal? Memang diperlukan sikap rendah hati untuk terbuka terhadap kebenaran dari perspektif hukum alam ini.

Dialog Antara Agama dengan Kearifan Lokal

Suatu masyarakat yang tinggal di suatu wilayah selama puluhan atau ratusan tahun tentu telah berinteraksi dengan lingkungan tempat tinggalnya, apakah lingkungan itu hutan tropis, padang pasir, pulau-pulau kecil atau salju abadi. Kearifan lokal biasanya diperoleh dari interaksi dengan lingkungan tempat tinggalnya selama puluhan atau ratusan tahun.

Agama (misioner) yang datang ke suatu wilayah membawa suatu kebenaran yang mungkin sejalan atau tidak sejalan dengan kearifan lokal. Ketika agama mengklaim kebenaran yang di bawanya sebagai kebenaran mutlak dan mengabaikan sama sekali kearifan lokal maka sering timbul ketegangan apalagi kalau kebenaran agama dipaksakakn melalui kekerasan.

Yudaisme, menurut hemat penulis, adalah kearifan lokal yang sangat cemerlang yang memperoleh terang iman Namun kecemerlangan itu pula yang mungkin menutupnya untuk menjadi agama misioner. Kearifan Yudaisme untuk bangsa Yahudi sendiri. Ketika Yudaisme belum mengalami transformasi menjadi Kristianitas, kearifan lokal Yahudi itu bisa berdialog dengan (kearifan lokal) masyarakat lain dengan damai. Kisah Yusuf anak Yakub merupakan contoh dialog dan kerja sama antara kearifan Yahudi yang sangat cemerlang dengan masyarakat lain yakni Mesir. Dari kerjasama itu bangsa Mesir bisa bebas dari bahaya kelaparan. Tanpa mengubah iman bangsa Mesir, Yusuf telah menampilkan citra Allah yang peduli kepada mereka yang terancam kelaparan, meskipun mereka tidak mengenal-Nya. Dengan terang iman, Yusuf menafsirkan mimpi Firaun dan mengusulkan cara-cara mencegah bahaya kelaparan. Dialog dan kerja sama seperti inilah yang seharusnya dijadikan pedoman atau model bagi agama misioner seperti Islam dan Kristen untuk berdialog dengan kearifan lokal.

Seperti halnya ilmu pengetahuan atau teori yang bisa salah, kearifan lokal pun bisa tercemar oleh takhayul, adat istiadat yang tidak sehat, atau berbagai kekeliruan lain. Dalam perjalanan waktu, kearifan lokal Yahudi yang cemerlang itu pun memerlukan koreksi.

Ada baiknya agama juga terbuka terhadap kearifan lokal yang memperoleh terang iman yang menawarkan solusi atas berbagai krisis dan ketidakadilan sosial. Agama yang menutup diri terhadap hal tersebut di atas boleh jadi sedang menutup diri terhadap kebenaran atau paling tidak sedang menampilkan wajah agama yang kolonialistis.

Dialog Antar Paradigma

Di dalam dunia ilmu pengetahuan pun perlu juga adanya dialog antar cabang ilmu pengetahuan, mazhab, maupun antar paradigma. Dialog itu seharusnya membawa pencerahan dan masa depan yang lebih baik, lebih adil, lebih sejahtera dan lebih damai. Suatu teori tidak bisa mengklaim sebagai kebenaran mutlak yang tidak memerlukan koreksi, meskipun teori itu selama berpuluh-puluh tahun dipakai sebagai pedoman kerja.

Kasus keterpurukan sektor riil di Indonesia bisa dipandang dari berbagai paradigma dimana masing-masing paradigma memiliki pendukung atau pengusul yang berbeda yang seharusnya bisa saling berdialog. Khusus dalam dialog antar paradigma ini bisa dicari kebenaran yang paling mendekati kebenaran. Keterbukaan semua pihak untuk mau mendengarkan dan menyimak pihak lain sangat diperlukan.

Media massa seharusnya tidak nyerocos dengan opininya sendiri, tetapi juga mau menyalurkan opini yang ada di masyarakat guna membuka pintu dialog antar paradigma. Kebebasan pers jangan hanya dipahami sebagai kebebasan media massa menyampaikan opininya sendiri dan menutup saluran bagi opini anggota masyarakat. Dialog antar paradigma sebagai bagian dari dialog antar kebenaran merupakan salah satu upaya untuk mengatasi krisis multidimensi di negeri ini.

Di masa mendatang seharusnya dialog tidak hanya terjadi antara agama yang satu dengan agama lain tetapi dengan berbagai kebenaran seperti yang dijelaskan di atas. Dialog antar agama saja tidak cukup untuk menunjang masyarakat yang damai dan sejahtera.

Jakarta, 7 Februari 2007

Demikian opini saya yang saya tulis waktu itu. Para pendukung neolib, sepanjang yang saya amati, belum mau menyimak paparan pihak lain. Atau mungkin karena suatu kepentingan, masih ngotot dengan paradigmanya sendiri. Paradigma neolib tidak salah total memang, dalam tataran mikro atau privat sepanjang tidak merugikan institusi publik seperti bank sentral atau negara (manapun), paradigma ini benar. Tetapi dalam tataran makro atau publik paradigma neolib itu SALAH. Dalam tataran mikro apa yang oleh individu dikategorikan aset pada tataran makro dikategorikan sebaliknya, liabilatas.

Media massa pun belum menjadi jembatan dialog. Bahwa mereka yang memperjuangkan atau menyuarakan ekonomi kerakyatan masih ditindas oleh media massa tidak hanya terjadi pada saya, tetapi juga rekan-rekan pejuang ekonomi kerakyatan yang saya temui. Rakyat akhirnya berharap pada kuasa dan belas kasih Tuhan. Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar