Senin, 27 Juli 2009

Mimpi Firaun dan Tafsir Ramalan Satrio Piningit

Di dalam suatu mimpi disebutkan tujuh ekor lembu kurus memakan tujuh ekor lembu gemuk. Itulah mimpi yang dialami oleh Firaun sebagaimana dikisahkan dalam Alkitab. Mimpi itu membuat Raja Mesir itu resah dan gelisah. Ia ingin mengetahui makna mimpi itu dan memanggil orang-orang yang menurut perkiraannya bisa menafsirkan mimpi itu.Tetapi tak satupun yang dapat mengartikan mimpi itu kepadanya.

Sampai akhirnya berdasarkan anjuran kepala juru minuman dipanggilnyalah seorang tahanan keturunan Ibrani yang dikenal sebagai Yusuf (anak Yakub). Berkat bantuan Tuhan dan terang iman, Yusuf bisa mengartikan mimpi itu, bahwa akan terjadi kelimpahan selama tujuh tahun yang kemudian diikuti masa kelaparan karena paceklik selama tujuh tahun pula. Kemudian ia menasihati Firaun: "Oleh sebab itu, baiklah tuanku Firaun mencari seorang yang berakal budi dan bijaksana, dan mengangkatnya menjadi kuasa atas tanah Mesir. Baiklah juga tuanku Firaun berbuat begini, yakni menempatkan penilik-penilik atas negeri ini dan dalam ketujuh tahun kelimpahan itu memungut seperlima dari hasil tanah Mesir. Mereka harus mengumpulkan segala bahan makanan dalam tahun-tahun baik yang akan datang ini dan, di bawah kuasa tuanku Firaun, menimbun gandum di kota-kota sebagai bahan makanan, serta menyimpannya. Demikianlah segala bahan makanan itu menjadi persediaan untuk negeri ini dalam ketujuh tahun kelaparan yang akan terjadi di tanah Mesir, supaya negeri ini jangan binasa karena kelaparan itu." (Kej 41:33-36). Supaya negeri ini jangan binasa karena kelaparan, demikian perlu saya tegaskan sebagai sesuatu yang perlu diingat bahwa meskipun bangsa Mesir tidak mengenal atau mempercayai Tuhan (monoteis) Yang Maha Kuasa tetapi direncanakan oleh Tuhan untuk terhindar dari bahaya kelaparan. Dan meskipun Yusuf adalah orang asing, Firaun mempercayainya sehingga bangsa Mesir terhindar dari kebinasaan akibat kelaparan.

Ada suatu rumusan yang mirip dan sebangun. Mimpi Firaun mengenai tujuh ekor lembu kurus dan tujuh ekor lembu gemuk itu mirip dan sebangun dengan rumusan dasar teori biososioekonomi: "kelahiran adalah hutang yang harus di bayar dengan kematian" yang salah satunya kemudian menghasilkan neraca herucakra society (hcs) yang menggambarkan aset dan liabilitas masyarakat sebagaimana telah saya tampilkan dalam buku saya Herucakra Society Jalan Ketiga Ekonomi Dunia (hlm96), dan juga dalam makalah saya di situs Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM.

Neraca yang saya rumuskan itu adalah suatu keseimbangan yang harus dicapai untuk terwujudnya masyarakat yang adil sejahtera berkesinambungan yang selaras dengan alam. Kalau jumlah kelahiran lebih besar dari kematian maka alam akan terganggu keseimbangannya dan akan mengalami peningkatan beban. Kalau neraca hcs mencatat nilai bersih minus maka akan banyak persoalan pada perekonomian masyarakat seperti instabilitas (gejolak pasar) dan rendahnya daya beli rakyat. Biososioekonomi menawarkan metode berpikir dan analisis untuk memahami persoalan makro ekonomi lebih jelas dalam relevansinya dengan kesejahteraan publik (rakyat). Teori lama tidak relevan dengan persoalan rakyat karena yang dipakai sebagai ukuran atau besaran yang harus dicapai adalah pertumbuhan PDB. Kelemahan konsep PDB dan pertumbuhan PDB sudah saya bahas di blog ini.

Hukum akuntansi dan keseimbangan merupakan suatu hal yang mendasar dan harus diperhatikan dalam mengelola makro ekonomi. Biososioekonomi membuat persoalan makro itu menjadi sederhana tetapi jelas dan tidak ambigu. Di dunia ini ada keseimbangan ada untung ada rugi, ada gemuk ada kurus sebagaimana terlihat dalam kisah Yusuf dan Firaun. Seseorang yang diserahi mengelola makro ekonomi harus mengetahui letak keseimbangannya. Kalau banyak orang berhutang, kalau defisit anggaran negara membengkak di mana letak keseimbangannya? Ketidakseimbangan, sebagaimana dijelaskan oleh teori biososioekonomi, terjadi karena pemasukan bagi publik kurang. Pajak kurang, derma juga terlalu kecil, sementara daur ulang kekayaan individu sebagaimana diharapkan teori biososioekonomi hampir nihil.

Bukankah persoalannya sangat jelas? Bagaimana solusi agar terhindar dari bencana ekonomi itu juga jelas? Solusi untuk keluar dari krisis juga jelas. Kalau memang teori biososioekonomi salah tunjukkanlah letak salahnya.

Banyak orang menafsirkan dan mengartikan ramalan mengenai satrio piningit tidak seperti yang saya jelaskan. Kalau krisis dan kesengsaraan rakyat berlanjut tentu bukan salah saya. Bagi saya solusinya sudah jelas.
Satrio piningit sekedar pemberi peringatan, bukan eksekutor. Saya tetap meyakini bahwa Tuhan memiliki kuasa menjatuhkan tulah ke bumi sebagaimana Dia lakukan terhadap bangsa Mesir dahulu.

Menurut hemat saya, bangsa Mesir dihukum Tuhan bukan karena tidak mengenal Tuhan (monoteis) tetapi karena durhaka dan menindas. Durhaka atas kebaikan-Nya yang telah meloloskan bangsa itu dari bencana kelaparan. Menindas bangsa Yahudi yang pernah dipakai Tuhan untuk meloloskan bangsa itu dari bencana kelaparan. Orang yang benar-benar mengenal Tuhan seharusnya tidak bertindak durhaka, tidak menindas dan tidak melakukan kekerasan. Kepada para penindas tulah dan hukuman telah disediakan. Hanya saja hari h yang dahsyat itu memang datang seperti pencuri, tak terduga dan tidak bisa diprediksi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar