Kamis, 16 Juli 2009

Ateisme Akan Kena Batunya?

Ada ateisme absolut, ada ateisme praktis. Ateisme absolut tidak mempercayai adanya Tuhan sama sekali. Sedangkan ateisme praktis masih mempercayai adanya Tuhan tetapi tidak mempercayai kuasa-Nya. Dalam buku yang berjudul:"Kritik Sosial Politik Nabi Yesaya", Dr. Berthold Anton Pareira O.Carm menulis di halaman 299 sbb: "Karena pengenalan akan Allah merupakan dasar perdamaian dan keadilan? Saya kira demikian. Dasar segala kekerasan dan penindasan ialah karena orang tidak mengenal Allah atau tidak mau mengakui dan menghormati kekuasaan-Nya serta perhatian-Nya pada orang kecil tertindas (bdk. Mzm 82). Orang menduga bahwa Allah itu jauh dari dunia dan tidak berbuat apa-apa. Itulah ateisme praktis yang telah membawa penderitaan dan mencelakakan banyak orang lain"

Banyak orang menyangka bahwa Tuhan itu jauh dan tidak berbuat apa-apa atau berbuat nyata hanya di masa lalu di area Timur Tengah. Sehingga peringatan akan kedatangan murka-Nya sering diremehkan atau dianggap aneh. Bahkan ada yang ekstrim dengan berpandangan: tidak mungkin Tuhan murka. Pandangan semacam ini mungkin karena salah paham terhadap Injil. Dalam buku yang sama di halaman 269, Pareira menulis: "Pewartaan tentang kemurkaan Tuhan dianggap sudah tidak cocok lagi dengan Injil. Pemikiran dan sikap ini menurut hemat saya sama sekali tidak injili. Memang gambaran Bapa meresapi seluruh Perjanjian Baru. Akan tetapi, Tuhan Yesus juga menunjukkan bahwa Bapa di surga juga bisa bersifat keras dan memperlihatkan murka-Nya...."

Di jaman ini banyak orang tidak tahu mengapa Tuhan murka. Tetapi orang yang mempelajari dan memahami biososioekonomi (bioekonomi) akan bisa memahami juga mengapa Tuhan murka. Pewarisan kekayaan berlimpah ruah kepada anak keturunan sendiri sebagaimana ditentang biososioekonomi adalah sebuah kejahatan maha besar di hadapan Tuhan, ketidakadilan terhadap sesama, dan pemerkosan terhadap alam lingkungan hidup di sekitar kita. Alkitab sendiri sudah mengingatkan bahwa triple six yang akan mendapat hukuman atau murka Tuhan itu berkaitan dengan pewarisan kekayaan berlimpah itu. Dan itu adalah fakta Alkitabiah bukan tafsir.

Pengalaman saya memperjuangkan demokrasi ekonomi dan biososioekonomi memang ketika biososioekonomi terpojok dan tertindas sering terjadi bencana seperti gempa di berbagai tempat. Tidak semua gempa menunjukkan kemurkaan-Nya memang. Sebagian gempa hanya kejadian alam biasa. Tetapi selama tujuh tahun perjuangan saya ada tujuh gempa yang bisa dianggap istimewa (lihat postingan terdahulu:"Gempa Italia Gempa ke-7" di blog ini). Menurut hemat saya ketujuh gempa ini merupakan peringatan akan murka-Nya yang lebih dahsyat di masa yang akan datang.

Demikian juga setelah postingan yang berjudul :"Perspektif Spiritual Pilpres 2009" yang diposting tanggal 07/07/2009 telah terjadi 2 kali guncangan gempa yaitu di China 10/07 (Kompas Mobile 11/07/2009 diakses pkl 04:15) dan Taiwan 14/07 (Kompas Mobile 14/07/2009 pkl 04:13).

Hal pokok yang ingin disampaikan dalam postingan ini adalah bahwa ketika cara-cara damai untuk mengimplementasikan biososioekonomi, menentang triple six (dan neoliberal) buntu, maka sangat bijaksana kalau kita menunggu saja kuasa Tuhan untuk menjatuhkan hukuman ke bumi. Justru keyakinan dan sikap seperti ini yang bisa menghindari kekerasan horisontal untuk tetap menjaga perdamaian.

Bagi saya Tuhan itu begitu nyata, dekat, membela orang tertindas dan mempunyai kuasa menjatuhkan hukuman ke bumi. Cara-cara damai untuk menentang triple six (dan neolib) seolah gagal. Tetapi tepat pada saat seperti itu kuasa Tuhan sedang bekerja untuk menjatuhkan hukuman ke bumi di hari h yang tak terduga. Datang seperti pencuri. Dan ateisme pun akan kena batunya.

Hanya implementasi atau aplikasi biososioekonomi yang akan membuat wong cilih bisa tersenyum dan lingkungan hidup terjaga seimbang lestari.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar