Minggu, 05 Juli 2009

Mengubah Paradigma Mengubah Angka

Elite politik menuduh ada yang tidak sabar dengan perbaikan ekonomi yang sedang diupayakannya. Suatu tuduhan yang mengindikasikan tidak dipahami dan dirasakan betapa berat rakyat menanggung beban dan bayangan bertambahnya beban dikemudian hari karena elite politik terbenam dalam paradigma neolib, dan berpikir linier. Sehebat apapun suatu program kalau itu lahir dari cara berpikir linier dalam paradigma neolib tak akan banyak memperbaiki ekonomi rakyat, tak akan meringankan beban rakyat secara nyata. Sedikit perbaikan memang bisa, ekonomi bisa saja dikatakan pulih dari krisis. Tetapi stabilitas adalah suatu barang langka dalam perekonomian yang ekspansif dan mengalami overinvestment seperti yang saat ini kita alami secara global. Krisis kelihatannya pulih di satu sektor, tetapi bisa berpindah ke sektor lain. Demikian juga suatu krisis yang kelihatannya sudah berlalu di suatu wilayah, sebenarnya sedang bergerak pindah ke wilayah lain. Atau beban dan masalahnya sedang ditimpakan ke negara lain dengan sengaja.

Oleh karena itu saya menawarkan perubahan paradigma dalam mengentaskan kemiskinan sebagaimana saya sampaikan dalam Lomba Karya Tulis Pengentasan Kemiskinan 2005 yang diadakan oleh LP3ES dan Yayasan Damandiri. Dengan mengubah paradigma, angka-angka bisa berubah spektakuler tidak linier. Berikut ini saya kutipkan sebagian makalah saya dalam lomba tersebut.

Ada dua pendekatan yang sering dipakai sebagai metode berpikir untuk menghadapi berbagai persoalan, termasuk ekonomi dan kemiskinan, yaitu metode induktif-empiris dan metode deduktif-logis (bdk Mubyarto, Gagasan besar Ekonomi & Kemajuan Kemanusiaan, Aditya Media, Yogyakarta. Hlm 23). Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Dengan pendekatan induktif-empiris kita sering tidak bisa melihat atau meramalkan angka-angka yang mungkin terjadi sebagai akibat perubahan paradigma atau variabel yang disengaja. Sebagai contoh selama 22 tahun (1980-2002) kurang lebih 20 pengembang hanya mampu memasok sekitar 32.700 unit apartemen atau rata-rata 1.600 unit per tahun. Semantara salah satu pengembang dalam kurun waktu 3 tahun 2002-2004, yang notabene adalah masa krisis, mampu memasok 7.796 unit atau 2.599 unit per tahun (lihat Tabloid Transaksi Properti, 5 Mei - 30 Juni 2003 hlm 1. Tabloid ini diterbitkan oleh Pusat Studi Properti Indonesia pimpinan Panangian Simnungkalit). Keduapuluh pengembang yang pertama tadi terjebak pada paradigma lama bahwa apartemen atau hunian vertikal hanya diperuntukkan bagi pekerja asing yang tinggal di Jakarta. Sementara satu developer terakhir menggunakan paradigma baru yaitu dengan membidik konsumen lokal sebagai penghuninya, dengan merancang unit apartemennya lebih kecil sehingga harganya terjangkau. Dahulu memang tidak terpikir bahwa orang kita mau tinggal di apartemen karena data empirisnya memang langka. Contoh lain mengenai globalisasi, selama bertahun-tahun globalisasi (ekonomi) dianggap sebagai biang kemiskinan dan penderitaan tetapi dengan adanya bencana tsunami Asia Desember 2004, globalisasi (informasi dan solidaritas) mampu meringankan penderitaan ratusan ribu orang yang terkena musibah. Oleh karena itu meskipun tidak anti pendekatan induktif-empiris maka dalam tulisan ini lebih ditekankan pada pendekatan deduktif-logis dengan memahami hukum-hukum alam yang mendasari terjadinya atau munculnya data-data empiris. Dengan pendekatan deduktif-logis dalam memandang masalah kemiskinan dan ekonomi diharapkan bisa menghasilkan perubahan mendasar secara besar-besaran dan mempertahankan tingkat kesejahteraan yang tinggi dan keadilan yang berkesinambungan.

Demikian kutipan saya. Kegagalan seorang pemimpin selain terjebak pada cara pandang linier juga karena pandangan yang empiristis. Segala-galanya dituntut harus ada fakta empirisnya padahal dalam kasus tertentu fakta atau data empirisnya belum tersedia. Kalau hal-hal seperti itu mau dilanjutkan, beban rakyat tidak akan berkurang banyak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar