Kamis, 02 Juli 2009

Prof. Dr. Boediono yang Tak Peduli Mazhab

Prof. Dr. Boediono (selanjutnya disebut Boediono) tidak peduli mazhab ekonomi. Demikian terungkap dalam wawancara oleh majalah Tempo. Hasil wawancara itu dimuat oleh majalah Tempo minggu ini. Saya mengetahuinya dari mengakses http://tempointeraktif.com hari Selasa 30/06/09 jam 11:40. Apakah itu berarti Boediono telah siap menerima mazhab dan paradigma baru dalam pemikiran ekonomi?

Saya tidak mengenal Boediono secara pribadi. Selain dari hasil wawancara yang dilakukan majalah Tempo, saya mengamati Boediono dari beberapa sumber:(1)Wawancara yang dilakukan wartawan Kompas sebagaimana dimuat di harian Kompas 30/06/2009 hlm 39. (2)Analisis psikologi oleh Bagus Takwin, Niniek L Karim, Nurlita Hafiyah, dan Dicky Pelupessy sebagaimana dimuat di harian Kompas 30/06/2009 hlm39. (3)Tayangan ulang debat Cawapres di Trans 7 tanggal 01/07/09.

Dari sumber-sumber yang saya dapatkan di atas saya menemukan sosok Boediono. Di dalam wawancara dengan Tempo, ketika kepadanya ditanyakan mazhab ekonomi apa yang dia ikuti, Boediono menjawab bahwa ia tidak peduli mazhab. Dia mengikuti yang bisa diterapkan dan memberikan manfaat.

Namun pernyataan bisa diterapkan dan memberikan manfaat ini agak kurang jelas. Perlu dipertanyakan manfaat bagi siapa? Ekonomi selalu berkaitan dengan kepentingan. Pengeluaran bagi suatu pihak bisa berarti pemasukan bagi pihak lain. Efisiensi bagi suatu pihak bisa berarti pemborosan bagi pihak lain. Aset bagi suatu pihak bisa berarti liabilitas bagi pihak lain.

Selain itu apakah pernyataan bisa diterapkan berarti "yang mudah diterapkan." Membaca hasil analisis psikologi sebagaimana dimuat di harian Kompas yang saya sebutkan di atas tampak aspek kepribadian Boediono yang konservatif, kurang imajinatif, dan kurang bisa menerima solusi baru yang mungkin bisa benar. Ini merupakan kelemahan kepribadiannya.

Memang beliau juga memiliki kekuatan dan aspek kepribadian yang menonjol seperti sederhana dan pekerja keras, selalu berusaha mencapai yang didambakan dan selalu ingin hasil yang terbaik. Namun mengingat tantangan perekonomian yang dihadapi sangat besar kelebihan kepribadiannya bisa tenggelam oleh kelemahannya.

Dalam debat cawapres tampak Boediono tidak terlalu meyakinkan khususnya mengenai bagaimana cara mebiayai peningkatan kualitas hidup rakyat berkaitan dengan kesehatan dan pendidikan. Agak aneh memang, dengan latar belakang ekonom, Boediono tidak bisa menjawab pertanyaan mendasar dari mana pembiayaan diperoleh. Dalam hal ini Prabowo yang bukan ekonom lebih meyakinkan dengan tawaran paradigmanya dan sumber dananya. Tampak Boediono masih terjebak paradigma neolib.

Memang bersama Mubyarto, Boediono pernah menekuni Ekonomi Pancasila istilah lama yang sekarang diganti dengan istilah ekonomi kerakyatan. Namun dari kedua orang itu yang gigih, tekun, dan konsiten sampai akhir hayatnya menekuni ekonomi kerakyatan hanya Mubyarto. Mungkin benar bahwa Boediono pragmatis mencari mana yang mudah diterapkan. Analisis psikologi sebagaimana saya peroleh dari Kompas di atas memang menyebutkan:"Implikasinya, Boediono kurang tertarik pada pemikiran atau ide transformatif-revolusioner".

Oleh karena itu saya pribadi sebagai bagian dari anak bangsa berharap kepada semua pihak agar paradigma neoliberal ini JANGAN dilanjutkan. Siapapun nantinya yang keluar sebagai pemenang pilpres kali ini harus sadar akan bahaya neolib bagi rakyat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar