Selasa, 07 Juli 2009

Perspektif Spiritual Pilpres 2009

Di tengah permasalahan DPT menjelang Pilpres 8 Juli 2009 ada baiknya semua kandidat mawas diri, bahwa siapapun yang keluar sebagai pemenang akan menghadapi permasalahan kesejahteraan rakyat dan lingkungan hidup yang berat. Oleh karenanya jangan menambah persoalan dengan ambisi pribadi atau kelompok.

Postingan ini sebenarnya lebih tepat diberi judul "Perspektif Spiritual Lima Tahun Ke Depan" Namun judul yang terakhir ini terasa kurang menjual. Tulisan ini bukan suatu ramalan spiritual, tetapi suatu peringatan akan masa depan. Sebagaimana postingan lain yang berlabel spiritual, maka postingan ini hendaknya tidak dibaca dengan kacamata eksakta. Namun demikian tetap perlu saya sampaikan.

Sebenarnya terwujudnya jaman keemasan tidak tergantung pada institusi apapun termasuk institusi keagamaan, institusi politik, ataupun institusi media massa Memang kita bisa mengupayakannya dengan cara-cara manusiawi non kekerasan sebagaimana saya sampaikan dalam buku saya Herucakra Society Jalan Ketiga Ekonomi Dunia dan juga dalam blog ini terutama dalam tulisan yang berjudul "Jalan Ketiga Ekonomi Dunia"

Namun sebagaimana pernah saya sampaikan, berdasarkan pengalaman, apabila cara-cara non kekerasan tidak berhasil, Tuhan Yang Maha Kuasa sendiri yang akan bertindak dengan menjatuhkan hukuman atau kutukan ke bumi. Hal itu terjadi tanpa perbuatan tangan manusia sebagaimana ditulis Kitab Suci. Apa yang ditulis oleh Kitab Suci itu menuntut kita untuk TIDAK melakukan kekerasan, TIDAK menjadi eksekutor, karena TUHAN sendiri yang akan melakukan-Nya di hari yang dahsyat.

Jadi, jaman keemasan itu tergantung hanya pada kuasa TUHAN. Tidak tergantung pada institusi apa pun. Juga tidak tergantung pada saya.

Saya berpendapat bahwa yang dimaksud saatnya tidak diketahui adalah mengenai hari, jam, menit, dan detiknya. Tetapi mengenai dekadenya atau tahunnya mungkin masih bisa diprediksi. Semakin detil semakin tidak bisa diprediksi. Dalam kurun waktu lima tahun ke depan boleh jadi telah ditetapkan Tuhan akan datangnya hari H yang dahsyat itu, tetapi bisa juga terjadi setelah lima tahun itu. Tetapi kurun waktu lima tahun bukan suatu kurun waktu yang pendek untuk diabaikan atau dispelekan begitu saja. Apalagi kalau dasar pertimbangannya adalah kesengsaraan rakyat. Berjaga-jaga dan waspada tetap perlu.

Memang ada semacam ateisme praktis yang mengatakan bahwa urusan kesejahteraan publik adalah urusan manusia di bumi. Sementara Tuhan amat sangat jauh di Surga. Orang tidak mengakui dan menghormati kekuasaan-Nya serta perhatian-Nya yang nyata kepada orang kecil dan tertindas (Dr. B Anton Pareira O. Carm, 2005, Kritik Sosial Politik Nabi Yesaya, Penerbit Dioma, Malang, hlm 299). Ateisme praktis seperti itu yang perlu dikritik.

Pengalaman saya selama kurun waktu tujuh tahun terakhir memperjuangkan demokrasi ekonomi dan biososioekonomi mengatakan bahwa memang kekuasaan Tuhan begitu nyata. Ada hal yang perlu diingat mengenai suatu ayat dalam Kitab Perjanjian Lama (Kitab yang berisi kisah umat Tuhan dan firman-Nya sebelum Yesus Kristus). Peringatan itu dicatat Kitab Mazmur (salah satu Kitab dalam Perjanjian Lama) yaitu Mazmur 110:5-6 yang bunyinya:"TUHAN ada di sebelah kanan-Mu; Ia meremukkan raja-raja pada hari murka-Nya, Ia menghukum bangsa-bangsa, sehingga mayat-mayat bergelimpangan; Ia meremukkan orang-orang yang menjadi kepala di negeri luas" Apakah ayat ini tidak ada relevansinya dengan kehidupan sosial sekarang? Bagi orang yang menganut ateisme praktis akan segera mengatakan tidak relevan.

Tetapi bagi yang kritis tidak akan secepat itu menilai. Sebagaimana kita saksikan melalui laporan media massa bahwa pada 26 Desember 2004 telah terjadi tsunami dahsyat dengan korban meninggal berasal dari berbagai bangsa dan negara. Kemudian pada tahun 2005 ada dua kecelakaan pesawat terbang dengan korbannya seorang raja dan gubernur. Sultan Deli XIII (Letkol Tuanku Ottoman Mahmud Perkasa Alam) meninggal dalam kecelakaan pesawat CN 235 Kamis 21/7/2005 (sumber Kompas.com 23/7/2005). Sementara Tengku Rizal Nurdin yang menjabat Gubernur Sumut meninggal dalam kecelakaan pesawat Mandala Airline 5/9/2005 (sumber http://rizalnurdin.blogspot.com ).

Bukan berarti bahwa mereka yang meninggal dalam tsunami dan kecelakaan pesawat itu lebih besar kesalahannya dari pada kita yang masih hidup. Saya menganggap hal itu baru suatu peringatan. Hari yang dahsyat akan lebih dahsyat dan menyangkut seluruh dunia bukan hanya Indonesia.

Hari yang dahsyat itu berkaitan dengan suatu hukuman bukan kerusuhan sebagaimana dipersepsi sebagian orang. Memang ada suatu ramalan bahwa munculnya satrio piningit didahului goro-goro. Goro-goro tidak berarti kerusuhan. Kalaupun yang dimaksud kerusuhan, itu sudah terjadi di tahun 1998 sebelum saya meyakini bahwa hal mengenai satrio piningit itu menunjuk saya (4 Juli 2002). Kita semua pihak, harus menjaga agar tidak terjadi tindak kekerasan atau kerusuhan.

Mengenai goro-goro berikut ini saya kutipkan apa yang sering didaraskan atau disenandungkan dalang wayang kulit: "...ndadekake perbawaning goro-goro. Bumi gonjang-ganjing, langit kelap-kelap....Ana lindhu sadina kaping pitu, aluning samodra ngelepi padharatan,...gunung tarung padha gunung" Yang terjemahannya:"...memicu terjadinya goro-goro. Bumi goncang, langit membara (karena muntahan lava gunung berapi, halilintar, atau kejatuhan meteor), ada gempa sehari tujuh kali, gelora samudera naik menenggelamkan daratan,...gunung saling bertabrakan" Kurang lebih seperti itu. Mengenai gempa tidak hanya didaraskan dalang wayang kulit tetapi disebut Kitab Suci baik Perjanjian Lama atau Baru.

Yang ingin saya sampaikan di dalam postingan ini intinya adalah agar semua pihak tidak menenggelamkan atau mengabaikan biososioekonomi dan demokrasi ekonomi. Kalau biososioekonomi tidak diimplementasikan, maka rakyat tetap dalam kondisi terjajah. Penindasan akan mendapat hukuman TUHAN sebagaimana ditulis Kitab Suci

Bagi yang ateis sekalipun juga perlu menyadari bahwa kalau biososioekonomi tidak diimplementasikan lingkungan hidup akan rusak atau bahkan hancur akibat hukum alam yang wujudnya bisa pemanasan global atau kerusakan lain. Efek buruk Pertumbuhan PDB sama dengan pertumbuhan populasi penduduk. Hanya biososioekonomi yang tidak mensyaratkan pertumbuhan PDB. Biososioekonomi tidak sekedar ideologi pro wong cilik tetapi juga berarti ekologi dan kearifan yang ramah lingkungan. Hal-hal seperti ini yang belum dimengerti banyak orang.

Semoga pilpres kali ini tidak menghasilkan presiden dan wapres yang anti biososioekonomi. Memang yang akan terkena kutukan bukan hanya pejabat pemerintah. Hal itu sudah saya sampaikan dalam postingan terdahulu:"Peringatan dan Pesan untuk Orang Jawa: Terhindar Kutukan Memasuki Jaman Keemasaan" Namun demikian pejabat pemerintah tidak boleh lepas tanggung jawab. Marilah kita mengikuti pilpres dengan penuh rasa tanggung jawab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar