Jumat, 03 April 2009

Dampak Biososioekonomi dalam Sektor Modal/Keuangan Global

Berikut ini saya kutipkan sebagian karya tulis saya dari karya tulis yang saya sampaikan dalam lomba Karya Tulis 2025 yang diselenggarakan Bank Indonesia Desember 2006.

Menurut Biososioekonomi, perekonomian konvensional sebenarnya sangat ekspansif karena aset individu jauh lebih tinggi dari aset masyarakat atau libilitas (masyarakat-pen) jauh lebih tinggi dari aset. Dalam kondisi yang sangat ekspansif seperti ni berbagai instrumen investasi apakah itu barang riil seperti properti atau surat berharga seperti saham bisa mengalami overinvestment yang nampak pada harga yang bubbles. Harga tinggi ini bisa terkoreksi jatuh dan menimbulkan krisis. Properti dan saham yang menjadi jaminan kredit terpangkas nilainya, bank merugi atau mengalami kredit macet kemudian membebankan biaya krisis pada pemerintah (bdk tulisan A Tony Prasetiantono yang berjudul"Ada Apa dengan Ekonomi Jepang?" Kompas 7 Mei 2002). Hutang pemerintah Jepang pernah mencapai 140% PDB. Negara-negara lain juga hutangnya besar. Sebagian hutang merupkan biaya untuk mengatasi krisis. Hutang telah menjadi permaslahan global bagi banyak negara (lihat tulisan A Tony Prasetiantono yang berjudul "Utang Suatu 'Horor' Global" Kompas 5 Februari 2002)

Teori ekonomi konvensional (neoliberal atau keynesian-pen) memandang siklus bisnis sebagai sesuatu yang alamiah. Naik turunnya perekonomian dari booming ke resesi atau depresi dianggap sebagai hukum alam yang wajar. Pandangan ini tidak tepat. Kalau kita mengamati naik turunnya populasi burung hutan, misalnya, selama 100 tahun, maka akan terlihat keteraturan naik turunnya populasi burung tersebut mengikuti musim. Dalam hal ini gerak kurva naik turun adalah alamiah. Tetapi perekonomian tidak bisa dipandang seperti ini.

Overinvestment yang berubah menjadi krisis dalam perekonomian bukan sesuatu yang alamiah. Menurut biososioekonomi hal itu terjadi karena jumlah laba yang dikeluarkan dari sistem ekonomi ke dalam sistem sosial tidak sebanding dengan jumlah laba yang tercipta dalam sistem ekonomi itu. Teori ekonomi konvensional hanya mengenal pajak untuk mengeluarkan laba itu dari sistem ekonomi, mungkin juga sedikit derma yang karena jumlahnya kecil maka diabaikan. Karena pajak persentasenya terbatas maka overinvestment itu akan terjadi berulang-ulang seolah-olah sebuah siklus alam yang tidak bisa dihindari. Selain pajak biososiokeonomi mengenal derma dan daur ulang kekayaan individu untuk mengeluarkan laba (dan kekayaan) dari sistem ekonomi. Tingkat laba juga tidak akan jatuh karena laba yang dikeluarkan dari sistem ekonomi setara dengan laba yang tercipta. Laba atau kekayaan itu masuk lagi ke dalam sistem ekonomi sehingga tingkat laba tidak pernah jatuh.

Globalisasi investasi, khususnya investasi pada portofolio, dan globalisasi modal asing sering menyebabkan overinvestment dan tidak stabilnya perekonomian suatu negara. Kurs valas bisa bergejolak dan merepotkan berbagai pelaku ekonomi terutama pabrikan dan perbankan. Dalam perekonomian konvensional modal menjadi sangat volatil. Biososiokeonomi berusaha menstabilkan perekonomian selain dengan menghibahkan atau meminjamkan sejumlah dana ke bank sentral juga karena aset-aset masyarakat, yang dikelola yayasan pengelola seperti valas, saham, dan properti, dijual sesuai jadual jatuh tempo yang telah ditetapkan untuk membayar jaminan sosial seperti beasiswa.

Demikian sebagian kutipan saya. Lain kali saya juga akan memposting tulisan-tulisan biososioekonomi di masa lalu. Karya tulis saya tersebut ada dalam naskah tulisan saya "Wahyu untuk Rakyat" edisi kedua.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar