Senin, 20 April 2009

Dampak Biososioekonomi dalam Bidang Lingkungan Hidup dan Kependudukan

Memperingati Hari Bumi tanggal 22 April 2009 ini saya menampilkan tema lingkungan hidup dalam kaitannya dengan biososioekonomi. Postingan ini mengutip apa yang saya tulis dalam "Karya Tulis 2025" yang diselenggarakan Bank Indonesia Desember 2006.

Pada awal ketika program kelaurga berencana (KB) diperkenalkan, sering mendapat tentangan dari komunitas tertentu yang berpandangan kurang luas. Namun saat ini hampir semua pihak menyadari bahwa pertumbuhan populasi penduduk yang tak terkendali berbahaya bagi kehidupan manusia di bumi. Laporan Susan George dalam The Lugano Report sudah mengingatkan bahayanya kelebihan populasi penduduk bumi( Juliawan, B Hari, 2004. "Keretaku tak Berhenti Lama" Basis, edisi 05-06 Th ke-53, hlm 9-10, Mei-Juni 2004).



Menurut biososioekonomi kelahiran adalah hutang yang harus dibayar dengan kematian. Maka pertumbuhan penduduk lebih dari nol persen akan meningkatkan beban alam. Pertumbuhan PDB juga merupakan beban bagi alam. Sayangnya istilah pertumbuhan PDB kalah populer dengan istilah pertumbuhan ekonomi yang menggantikannya. Ada anggapan bahwa adanya kegairahan ekonomi hanya terjadi bila ada pertumbuhan PDB. Bagi orang awam yang tidak mengenal konsep PDB, bisa keliru menangkap istilah pertumbuhan ekonomi. Dalam kondisi pertumbuhan PDB nol persen tetapi PIT 100% sebenarnya ada juga kegairahan ekonomi karena semua orang bisa tumbuh menjadi lebih kaya. Dalam kondisi seperti ini bisa juga dikatakan ada pertumbuhan ekonomi. Bahkan pertumbuhan ekonomi seperti ini adalah pertumbuhan ekonomi dengan pemakaian sumber daya alam yang efisien.



Memang di dalam perekonomian konvensional apabila pertumbuhan PDB nol persen atau lebih rendah dalam waktu yang cukup lama, bisa membahayakan industri perbankan. Dalam kondisi seperti ini tidak ada pertumbuhan laba dan tidak ada kredit investasi baru yang dikucurkan. Laba bisnis perbankan tergantung kredit konsumsi yang akan digenjot habis-habisan, serta laba dari surat berharga seperti SBI. Akan tetapi dalam paradigma biososioekonomi pertumbuhan PDB nol persen tidak akan merusak industri perbankan karena perbankan akan mendapat fee dari dana daur ulang yang berada di tangannya.



Akibat pembangunan dan pertumbuhan PDB, lingkungan hidup tempat kita tinggal mengalami kerusakan. Pemanasan global bisa melelehkan es di kutub utara (Lihat tulisan yang berjudul "Kutub Utara Meleleh, Ancaman bagi Semua" Kompas 22 November 2004). Pemanasan global terjadi karena efek gas rumah kaca yaitu gas dari pembakaran bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan batu bara. Melelehnya es kutub akan meningkatkan tinggi permukaan laut dan mengancam keberadaan kota-kota pantai. Kenaikan itu bisa mencapai 7 meter dalam waktu kurang lebih seratus tahun ke depan. Indonesia yang merupakan negara kepulauan pasti terancam.



Bahkan laporan mengenai efek pemanasan global termutakhir amat menciutkan hati: "Tahun 2009, China akan melewati AS sebagai pemancar terbesar gas utama pemanasan global, satu dekade lebih cepat daripada ramalan terdahulu" Demikian laporan Badan Energi Internasional seperti dikutip Ninok Leksono (Lihat tulisan yang berjudul "Dunia 2048: Kerontang dan Tanpa Seafood"? Kompas 22 November 2006, hlm 1. Dalam tulisan itu juga dikatakan konsekwensi dari pemanasan global seperti banjir besar akan menelan 20% PDB dan memicu depresi ekonomi. Hal ini karena pertumbuhan PDB yang tinggi di China dan penggunaan energi batu bara di sana.


Biosoioekonomi sebenarnya menawarkan pembangunan yang berkelanjutan dengan sesedikit mungkin mengubah atau menggeser keseimbangan alam, sesedikit mungkin membebani alam. Di wilayah-wilayah yang sudah maju pertumbuhan PDB harus ditekan serendah mungkin mendekati nol persen. Dan apabila aplikasi biososioekonomi sudah merata dan angka PDB sudah cukup merata di seluruh dunia, maka pertumbuhan PDB harus dikendalikan mendekati nol persen. Adanya dinamika perkembangan teknologi, tidak memungkinkan pertumbuhan PDB menjadi kontinyu nol persen dalam jangka panjang. Meskipun demikian dibandingakn dengan perekonomian konvensional yang membebani alam, apa yang ditawarkan oleh sistem perekonomian biosoioekonomi sudah sangat bersahabat dengan alam.


Itulah dampak biososioekonomi sebagai hukum alam yang apabila dilawan akan menghasilkan yang mengerikan. Tetapi apabila diikuti juga akan membuka peluang bagi kehidupan yang lebih baik.

Kalau kita memang mencintai bumi maka suda saaatnya kita memilih sistem perekonomian yang bersahabat dengan alam, bukan perekonoian yang ingin menggenjot PDB setinggi mungkin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar