Senin, 06 April 2009

Ekonomi Keluar Rel, Rakyat Tetap Susah

Sebagai blogger saya tetap berusaha untuk independen dalam tulisan-tulisan saya. Independen di sini bukan berarti sekedar netral, tetapi pro kebenaran dan rakyat (publik). Oleh karena itu sebagai blogger dan sebagai anak bangsa, saya melalui blog ini, perlu menyuarakan pendapat saya khusus menjelang Pemilu 9 April 2009. Semoga bermanfaat bagi rakyat banyak dan tetap berada pada kebenaran.

Para bapa bangsa pendiri NKRI memiliki suatu visi bahwa negara yang didirikan adalah suatu negara yang tidak kapitalistis tetapi juga tidak komunistis. Negara ini tidak didirikan hanya untuk golongan tertentu. Dari semua untuk semua.

Akan tetapi dalam perjalanan 4 tahun terakhir ini nuansa neoliberalistik dalam kebijakan publik pemerintah masih sangat terasa. Awalnya dengan menampilkan menteri perekonomian yang secara mencolok mata sangat-sangat neoliberalistik. Meskipun telah terjadi reshufle kabinet, tetap saja kebijakan neoliberalistik tidak berakhir sehingga tidak bisa mengimbangi eskalasi beban hidup rakyat.

Kesalahan fatal paradigma neoliberal adalah menggunakan cara pandang mikro pada tataran makro. Padahal antara mikro dan makro itu berseberangan. Apa yang oleh mikro disebut aset, pada tataran makro (publik) yang lebih luas disebut liabilitas atau beban. Menggenjot PBB setinggi mungkin sebagaimana obsesi paradigma neoliberalistik saja menggenjot liabilitas.

Teori ekonomi yang neoliberalistik telah gagal mengantisipasi krisis dan gagal mencegah meningkatnya kesengsaraan rakyat sehingga beban hidup rakyat bertambah berat. Maka saya perlu menyatakan bahwa saya keberatan terhadap klaim-klaim keberhasilan yang disuarakan melalui iklan atau propaganda oleh orang maupun partai politik.

Pengelolaan perekonomian telah keluar dari rel yang diamanatkan para bapa bangsa. Pemerintah tidak punya perhatian sama sekali terhadap usulan anak bangsa yang memberanikan diri merumuskan suatu teori ekonomi makro baru yang merupakan teori ekonomi jalan ketiga atau jalan tengah yang dinamakan biososioekonmi (bioekonomi). Teori itu telah dipublikasikan Oktober 2004 dan diseminarkan tangal 2 November 2004 dalam seminar bulanan ke-22 di Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM. Kalau kondisi seperti ini dilanjutkan maka rakyat tetap akan susah, lingkungan hidup hancur, pemanasan global mengancam dan perekonomian tidak akan stabil.

Memang ekonomi jalan ketiga rumusan saya tidak mudah diimplementasikan, perlu kerja sama dengan civil society. Akan tetapi kalau inisiatif dan niat baik civil society tidak mendapat sambutan pemerintah maka pemerintah bertanggung jawab atas kesengsaraan rakyat.

Marilah kita renungkan apakah kondisi seperti ini akan kita lanjutkan?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar